Saya pernah membaca sebuah artikel tentang kemungkinan pasangan yang berbohong saat sedang menjalani Long Distance Relationship (LDR). 

Di artikel itu kesan yang saya dapat adalah penulisnya meragukan eksistensi sebuah hubungan yang dijalani dalam jarak jauh, si penulis menganggap bahwa kesempatan untuk berbohong satu sama lain dalam LDR itu besar sekali sehingga terkesan bahwa hubungan LDR itu sia-sia. Ini menggugah saya untuk bertanya pada penulisnya.

Pertanyaan saya adalah: apakah penulisnya sendiri sudah pernah menjalani LDR? Kalau memang sudah pernah lalu merasakan yang namanya berbohong dan dibohongi maka saya bisa paham tapi kalau ternyata belum pernah dan hanya menuliskan apa yang beliau lihat dari tiga atau empat contoh saja saya rasa itu amat sangat kurang obyektif.

Semua orang yang menjalani hubungan jarak jauh dengan pasangannya tentu harusnya sudah paham benar bagaimana konsep dan apa resikonya. Jarang bertemu, harus selalu berkomunikasi, butuh penyesuaian waktu hanya untuk mengobrol, juga termasuk munculnya rasa curiga dan suudzon. Ini sudah wajar sekali terjadi.

Justru kedewasaan kita dituntut lebih saat bisa menjalani semuanya ini dengan normal layaknya pasangan biasa yang bisa setiap hari bertemu. Bagaimana harus bersikap bila pasangan yang jauh sedang sibuk, bagaimana bila dia sedang sakit, apa yang harus kita lakukan, apa yang dia bisa lakukan. Inti dari semuanya adalah komunikasi yang baik. Semuanya dikomunikasikan, diobrolkan, maka bisa dijamin akan baik-baik saja.

Bagaimana kalau ada pihak yang berbohong?

Menurut saya, mau pasangan itu berada dalam jarak jauh atau dekat, kalau memang sudah berniat untuk bohong dan sudah terbiasa bohong maka terjadilah. 

Seperti yang teman penulis itu lakukan, pamitnya kerja kelompok tapi malah nongkrong ngopi dan curhat bersama beberapa orang teman. Padahal apa susahnya sih bilang jujur dan berterus terang? Bagaimana bisa dia mengharapkan pasangannya akan jujur kalau dia sendiri suka berbohong? Rumus dari mana?

Di sini, prinsip Bumerang berlaku; kalau sudah melempar(i) ya harus siap dilempar(i) balik. Kalau kamunya tukang bohong kok mengharap dapat pasangan yang jujur? Lha kok enak? Ya mana bisa!

Di artikel itu juga dituliskan bahwa sikap protektif dan peduli yang kita tunjukkan pada pasangan saat menjalani LDR itu percuma, karena toh hanya lewat telepon atau tulisan. Tidak bisa dilihat daj dirasakan langsung oleh masing-masing. Hal yang sia-sia. Bila dia sedang sakit kita hanya bisa bertanya kabar saja tanpa bisa ikut menyentuh dan merawat. 

No, no. Saya tidak setuju. Saya tentu saja akan langung menghubungi aplikasi online untuk berkonsultasi dengan dokter, dan resep yang didapat juga bisa langsung saya kirim dan tebus hanya dari rumah. Teknologi yang ada sudah canggih sekali lho. Malah lebih menguntungkan dan memudahkan.

Di sinilah yang saya maksud kalau memang penulisnya belum pernah merasakan bagaimana LDR itu mending jangan melihat hanya dari satu sisi saja. Karena jadinya sangat subjektif dan terkesan meremehkan.

Saya sejak masih pacaran sudah LDR dengan pasangan saya, dia di Jakarta saya di Surabaya. Kami menikah hidup bersama di Bogor sekitar satu tahun lalu harus LDR lagi karena faktor pekerjaan. Saya di Sidoarjo, dia di Manado.

Selama itu tentu kamu mengalami naik turun dalam hubungan, merasa sendiri, muncul rasa curiga juga pasti pernah, tapi seperti yang saya bilang tadi semuanya akan baik-baik saja bila komunikasi lancar. Dan kami merasa tak perlu berbohong pada pasangan dalam hal apa pun.

Apakah dengan kami saling memberi tahu kabar dan apa yang kami kerjakan itu bisa disebut sebuah kekangan? Saya rasa tidak. Itulah cara kami menghindari kebiasaan berbohong. Untuk apa bohong bila jujur lebih nikmat? 

Saya bisa pamit ke suami saya mau nongkrong sama teman-taman, dia bisa pamit ke saya diajak bosnya makan malam beramai-ramai bersama teman kerja yang lain. 

Dia beribadah ke gereja, saya juga. Kami menikmati semua itu. Dan apakah ada pasangan LDR lain yang melakukan hal serupa? Saya yakin ada banyaaak sekali jumlahnya yang memilih untuk LDR tapi hubungannya toh lancar-lancar saja.

Memang, jangankan yang pacaran yang menikah pun bisa cerai. Tapi apakah itu lantas kita jadikan suatu landasan dalam memulai suatu hubungan? Nonsense!

Orang-orang yang bilang LDR itu bahaya karena bisa menyebabkan banyak kebohongan adalah orang-orang yang tidak (mau) tahu bagaimana perjuangan kami kaum LDR. Mereka hanya memandang LDR itu adalah sebuah hubungan yang mustahil berujung pada kebaikan, padahal di luar sana banyak yang hubungan LDRnya  berhasil dijalankan dengan sukses.

Yang merasa bahwa LDR itu adalah sesuatu yang sia-sia untuk dilakukan dan dilanjutkan, coba sini ngopi sama saya. Sepertinya obrolan kita bakalan panjang.