Lone wolf merupakan kata majemuk terbuka (open compound word) yang dibentuk dengan selera paradoks. Artinya, yang namanya serigala itu, tentunya sering dijumpai dalam sebuah koloni atau kumpulan.

Lone wolf hadir sebagai anomali sebuah koloni atau kumpulan dalam sebuah entitas kesendirian. Kata majemuk terbuka tersebut memberikan penguatan makna eksklusif dari sebuah keumuman serigala yang berkoloni. 

Saat ini, kata "lone wolf" sering dihubungkan dengan insurgensi, yaitu usaha atau tindakan terencana untuk merebut sebuah kekekuasaan. 

Insurgensi mempunyai banyak tipologi dan beberapa fenomena menarik lainnya untuk diamati. Salah satunya yang paling populer dari sebuah insurgensi adalah lone wolf. Kemunculan tipologi lone wolf merupakan pengaruh basis insurgensi itu sendiri.

Lone wolf berkembang ketika tindak subversif klasik, gerilya ataupun perlawanan perang frontal terbuka sudah tidak lagi mendapatkan tempatnya akibat arus kemajuan teknologi yang dimiliki penguasa ataupun makin solidnya pertahanan sebuah sistem.

Lone wolf yang kekinian menurut sebagain kelompok teroris atau koloninya adalah mengemas tindak perlawanan yang bersifat merebut, menghapus ataupun melawan kekuasaan dalam bentuk yang lebih tahan lama, praktis dan individual.

Sedang objek atau sasaran dari lone wolf adalah memaksa timbulnya pergolakan bahkan teror dengan cara apapun, baik terselubung atau kekerasan yang masif untuk membuktikan sebuah kebenaran.

Lone wolf adalah pribadi anti-authoritarian dan anti-colonial yang berusaha menimbulkan gejalah simpangan sebuah Coup De’etat, baik berupa civil war ataupun revolution war.

Namun, menurut saya, semua yang tersebut di atas bukanlah ciri sebuah perlawanan lone wolf. Mereka hanya layak disebut sebagai kambing berbulu serigala. Kenapa bisa begitu?

Jika lone wolf sudah berkoloni, maka gugurlah predikat atau sebutan lone wolf -nya. Mereka yang bergaya sok lone wolf hanyalah mengharapkan kehadiran unsur asing (wars of foreign intervasion) di seberang sana untuk segera membentuk koloni baru dan mengakhiri status lone wolf nya.

Inilah kambing-kambing berbulu serigala, yang bergaya ala kesendirian serigala. Padahal, mereka punya tuan, mereka punya bos, mereka punya koloni. Di saat genting atau terjepit, dipastikan akan merengek ke induk semangnya.

Tidak ada taktik hit and run dalam kamus lone wolf, yang ada hanya searching and execute. Dia bergerak atas perintahnya sendiri, beroperasi individual, mobilitas dan egoistis tinggi dan tidak ada kaitannya dengan organisasi manapun dan bos manapun.

Dia tidak akan mendekati model-model kumpulan semisal model-model thoifah , jemaah, ashobah ataupun bentuk-bentuk kesepakat yang berkumpul.

Seorang lone wolf tanpa ragu akan mengatakan bahwa dirinya bukan bagian dari “gholabatur rijal” atau seseorang yang dikalahkan.

Oleh karena itu, pendefinisian lone wolf pada kasus-kasus terakhir dalam terorisme kuranglah tepat. Mereka hanya melakukan salah satu bentuk operasi saja, yaitu man to man atau individual. Setelah itu kembali ke koloninya untuk menetek.

Lone wolf bukanlah sebuah keberhasilan dari kegiatan terorisme seperti yang dikatakan kebanyakan akhir-akhir ini. 

Selama masih tercium gerakan memotivasi ideologi, melakukan perekrutan, dan juga melakukan publikasi atas apa yang sudah dilakukan, maka itu bukanlah lone wolf. Mereka tak ubahnya sekumpulan badut-badut pelawak.

Lone wolf tidak mengenal konsep-konsep jamaah seperti bai’at ataupun tujuan implementasi khilafah Islamiyah dan segala tetek-bengeknya. Lone wolf tak akan pernah balik lagi ke sebuah konsensus negara model apapapun, termasuk kekhalifahan yang gak jelas itu.

Elemen psikologis yang menjadi tujuan utama dari lone wolf bukan untuk mengambil simpatik masyarakat ataupun menjadikan perbuatannya sebagai sebuah pembenaran di jalan Tuhan. Lone wolf tak perlu itu semua. Yang dilawan cuma satu, tiran!

Lone wolf akan gempita dalam kesendiriannya, bersorak dalam keterasingannya. Lone wolf menganut gaya leaderness ala Louis Beam tentang supremasi kesendirian tanpa ada unsur mengikutsertakan pihak lain yang belum tentu sepakat dengan dirinya.

Lone wolf tak akan membahasnya dengan orang lain dalam merencanakan dan mencapai targetnya. Kalau masih keroyokan, itu bukan lone wolf.

Lone wolf adalah lone actor yang bukan merupakan sel-sel kecil lucu nan memble yang masih menetek ke inangnya (jamaah/konsensus).

Dia bukan penyakit yang menggerogoti sebuah jamaah atau konsensus. Lone woft menggerogoti dirinya sendiri. Pantang baginya hidup di atas kenyamanan sebuah konsensus.

Tidak ada perekrutan dan publisitas dalam dunia lone wolf. Publisitas terjadi ketika terrhenti dan perekrutan akan terjadi secara otomatis ketika lone wolf tumbang.

Informan penegak hukum ataupun korp intelijen penguasa tiran, akan susah memecah perkembangan lone wolf , karena memang sifatnya individual yang mahatunggal.

Upaya dan tindak pembusukan dari dalam jelas tak akan pernah terjadi dan menemukan sasarannya, karena pada dasarnya, dia memang bukan sebuah kumpulan orang.

Pun, aksi pecah belah juga tak berkutik, karena lone wolf sejatinya hanya terdiri dari satu individu, satu badan, satu pikiran dan satu hati.

Lone wolf adalah pilihan dari sebuah kebuntuhan perlawanan. Dia tidak mengharapkan dan memimpikan sebuah kemenangan yang ujung-ujungnya kembali pada konsensus dan keseraakahan bersama. Sebuah paduan suara yang mempunyai kans besar untuk  menindas sesama.

Lone wolf sejati adalah anonima murni tanpa embel-embel ini dan itu. Tidak ada pemilahan ini tugas suci (sacred duty) ataupun itu tugas biasa. Bagi lone wolf, semuanya adalah biasa-biasa saja. Tak perlu pengistimewaan tugas, karena sejatinya, itu semua adalah bukan apa-apa. 

Bagi lone wolf, penting untuk menghilangkan paradigma yang mengemukakan tentang pentingnya ketaatan yang tinggi terhadap doktrin teologi ortodoks yang mahakaku.

Sebab, pada umumnya, dengan melihat yang sudah-sudah, ia akan berakhir dengan konsensus dan kesepakatan yang ujung-ujungnya tiranik. Artinya, kembali lagi ke siklus “koloni” yang cenderung bejat dan buas.

Lone wolf tidak terkecoh dengan omongan besar tentang jihad ofensif dengan menggunakan kekerasan sebagai instrumen utama untuk menegakan khilafah ala koloni masing-masing. Itu adalah omong besar yang muluk-muluk dari kekolotan dan ketololan.

 Lone wolf tidak tergiur oleh pembenaran religius untuk menggunakan kekerasan dan melanggar nilai-nilai prinsip kemanusian untuk tujuan yang lebih besar yaitu memenuhi panggilan Allah untuk melakukan jihad. Sekali lagi, musuh lone wolf adalah penguasa tiran, tak peduli agamanya. Pun kalau Islam, akan disikat juga.

Lone wolf ya lone wolf, kau ya kau.