Dari atas jembatan kecil yang menghubungkan jalan protokol Sultan Alauddin Mahmud Syah menuju pintu masuk Museum Aceh, kita disuguhi pemandangan lonceng besar di pekarangan museum.

Lonceng tersebut tergantung di dalam bilik kayu terbuka di antara tiang-tiang yang menghubungkan bahagian pagar dengan atap. Atap bilik berbentuk kubah dengan desain segi tiga sama sisi di setiap sisinya. 

Sekilas tampak mengambil bentuk arsitektur khas atap rumah tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Di bagian puncak, terdapat kubah persegi yang tersusun bertingkat mirip desain Mesjid Raya Baiturrahman di masa lalu.

Warna hitam diselingi warna merah pada bahagian ruas serta sisi atas pagar dan sisi depan kubah tampak mendominasi bilik tersebut. Kombinasi warna hitam dan merah juga kerap ditemukan pada Rumoh Aceh.

Motif batik tradisional Aceh terukir pada dinding depan tepat di bawah kubah serta di setiap sudut atas tiang penyangga. Itu adalah seni hias khas Gayo (salah satu suku yang mendiami wilayah tengah Provinsi Aceh).

Ukuran lonceng mencapai tinggi sekitar 125 sentimeter dengan lebar sekitar 75 sentimeter. Dahulu lonceng ini berwarna kuning keemasan. Kini warna kuning yang mendominasi badan lonceng telah memudar.

Tulisan berbahasa Tionghoa “Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo” tampak samar di badan lonceng yang telah berkarat. 

Menurut sumber sejarah, tulisan ini mengandung arti “Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke-5”. Sementara tulisan Berbahasa Arab tidak lagi dapat terbaca dengan jelas.

Di samping bilik berisi lonceng terdapat plakat berisi informasi seperti tertulis di bawah ini:

Penanda Harmonisasi Kesultanan Pasai dengan Dinasti Ming

Abad ke-15, Laksamana Cheng Ho menyerahkan Cakra Donya kepada Sultan Pasai pada salah satu ekspedisinya ke Aceh. 

Abad ke-16, Pasai berada dalam kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam, Cakra Donya dibawa ke pusat kesultanan oleh Sultan Ali Mughayatsyah.

Abad ke-17, Sultan Iskandar Muda meletakkan Cakra Donya dalam kapal perang Aceh. Nama Cakra Donya diambil dari nama kapal tersebut.

Abad ke-19, Cakra Donya digantung di bawah pohon di depan kantor regional Belanda Kuta Raja kemudian menjadi koleksi Museum Aceh sejak Desember 1915.

Dari informasi di atas, lonceng tersebut telah ada sejak abad ke-15. 

Melansir Serambinews (koran lokal yang terbit di Aceh), seorang Kaisar Tiongkok dari Dinasti Ming bernama Kaisar Yonglee bermaksud membuka hubungan perdagangan rempah-rempah dengan Kesultanan Pasai.

Pasai masa itu terkenal sebagai daerah penghasil lada dengan kualitas baik. Selain Tiongkok, aroma wangi salah satu komoditas rempah tersebut juga tercium sampai ke Eropa.

Para raja dari negeri asing ini mulai berlomba-lomba membuka hubungan dagang dengan Kesultanan Pasai.

Sebagai penanda hubungan diplomatik, kaisar Tiongkok menghadiahkan lonceng yang diamanahkan lewat Laksamana Cheng Ho. 

Sang laksamana kemudian berlayar ke Aceh dan tiba pada tahun 1414. Jadi lonceng tersebut telah berusia kurang lebih 607 tahun dan telah melewati berbagai lini masa sejarah yang terjadi di Aceh.        

Kesultanan Pasai (1267–1521) adalah kerajaan bercorak Islam yang mendiami wilayah pesisir utara Aceh. Pasai runtuh setelah diserbu oleh Portugis pada tahun 1521. 

Kesultanan Aceh Darussalam yang berdiri di barat laut Pasai kemudian menaklukkan Portugis pada tahun 1524 dan memasukkan bekas wilayah Pasai ke dalam daerah kedaulatannya. 

Sultan Ali Mughayatsyah mengangkut lonceng ke ibukota Kesultanan yang kini bernama Banda Aceh.

Dari informasi yang tertera pada plakat, kita juga mengetahui bahwa awalnya lonceng tersebut tidak memiliki nama. 

Hingga dua abad kemudian, ketika Sultan Iskandar Muda yang berkuasa dalam rentang tahun 1607 sampai 1636 menempatkannya di atas anjungan kapal perang bernama Cakra Donya, barulah orang-orang menyebutnya dengan nama “lonceng Cakra Donya”.

Cakra sendiri berarti kabar sementara donya adalah bahasa Aceh untuk dunia. Jadi Cakra Donya adalah Kabar Dunia. Bunyi lonceng sebagai isyarat kehadiran kapal-kapal musuh serta sinyal komando tempur.

Lonceng Cakra Donya sempat dirampas oleh Portugis akibat kegagalan sebuah ekspedisi peperangan di Selat Malaka. Namun, dikembalikan lagi kepada Sultan Aceh setelah Iskandar Muda.

Pada masa-masa berikutnya, lonceng Cakra Donya ditempatkan di sudut timur Mesjid Raya Baiturrahman dan berfungsi sebagai pemanggil warga untuk berkumpul mendengar maklumat sultan, selain sebagai penanda jelang masuknya waktu Sholat serta berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Ada kejadian unik yang terjadi pada masa kolonial Belanda. Seperti dilansir dari Radar Cirebon bersumber dari sejarawan Belanda bernama  G.L. Tichelman dalam bukunya berjudul Cakra Donya, De Indische Gids I (1939). 

Ia menulis lonceng Cakra Donya sempat dianggap keramat oleh orang Aceh. Lonceng tersebut telah lama tergantung di Pohon Glundong (pohon kuda-kuda) di sebelah timur mesjid. 

Sejak anak loncengnya hilang, suara dentangannya tidak pernah lagi terdengar.

Kala H.N.A Swart menjabat Gubernur Militer dan Sipil Aceh, pada 02 Desember 1915 dikeluarkan instruksi untuk menurunkan lonceng dari Pohon Glundong karena dikhawatirkan dahan pohon tersebut patah sehingga dapat merusak lonceng yang jatuh ke tanah.

Kadung dianggap berhantu oleh orang Aceh, orang-orang Tionghoa lantas dipilih untuk menurunkan lonceng. Usai diturunkan, lonceng Cakra Donya diletakkan begitu saja di tanah.

Tidak lama setelahnya banjir besar melanda Koetaradja (nama kota Banda Aceh masa kolonial).

Pada 13 Desember 1915, seorang utusan (orang Aceh) datang menghadap Gubernur Swart. Dia mengatakan bahwa banjir terjadi karena peletakan lonceng yang tidak pada tempatnya.

Swart kembali mengeluarkan instruksi agar lonceng itu digantung di bawah rumah panggung Aceh yang telah beralih menjadi museum. Banjir pun surut pada saat itu.

Banjir kembali melanda di tahun berikutnya. Utusan itu kembali datang dan memberi tahu bahwa lonceng masih belum diletakkan pada tempat semestinya. 

Ia menyarankan agar lonceng itu ditempatkan secara terpisah dan tertutup.

Swart lantas membangun satu bilik khusus untuk menggantung lonceng itu. 

Pada 1939, lonceng yang telah termakan usia tersebut digantung dengan sebuah rantai di dalam sebuah bilik kayu berkubah di depan Museum Aceh.

Setelah kemerdekaan, Museum Aceh dipindahkan dari Blang Padang (lokasi Museum Aceh masa kolonial) ke sebelah timur laut Pendopo Gubernur Aceh. 

Uniknya, bilik berkubah lengkap dengan rantai penggantung lonceng Cakra Donya tetap ditempatkan terpisah (di sudut depan) dari museum sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.     

Untuk mengunjungi lonceng ini tidak dipungut biaya dan dibuka saban hari pada jam kerja kecuali Senin. Mari kabari dunia dengan keunikan Indonesia.