Kita adalah bangsa yang selalu ketinggalan kereta, ketinggalan kelas, ketinggalan momen, ketinggalan informasi, ketinggalan teori. Kita selalu telat dalam mengantisipasi perubahan dunia, abai dalam memahami dinamika pemikiran, dan lalai dalam memaknai perkembangan pengetahuan.

Kita adalah bangsa yang suka bingung dan terheran-heran, tatkala kadang-kadang terpesona juga. Kita takpunya kapasitas untuk mengantisipasi perubahan yang berlansung cepat, menangkap esensi dalam konstelasi pertarungan gagasan di dalam dunia yang bergerak cepat, acak, terkadang liar. Itu semua diungkapkan Yasraf Amir Piliang dalam buku terbarunya Setelah Dunia Dilipat.

Senada dengan itu, unggahan foto seorang Gubernur Jakarta, Anies Baswedan membaca buku Bagaimana Demokrasi Mati? berhasil dijadikan masalah publik yang diseret ke mana-mana. Seperti yang sudah-sudah, semua berlatar belakang kedangkalan substansi. Akhirnya jadi perdebatan dangkal, pencemoohan, dan penunggangan kepentingan.

Bila orang membaca saja dipermasalahkan begitu luar biasa dan dicampur adukkan dengan kepentingan, kita perlu merenungkan peradaban intelektual bangsa hari ini. Sampai mana sebenarnya pikiran bangsa ini? 

Seakan dengan sendirinya apa yang diungkapkan Yasraf menjadi benar adanya. Bahwa kita adalah bangsa yang penuh dengan budaya keterheranan, kebingungan, dan ketertinggalan.

Melompat-lipat Literasi

Era informasi membuat bahasa menjadi pemain tunggal yang mengendalikan orkestra. Untuk memainkan dan menikmatinya, kita membutuhkan keterampilan berbahasa (literasi). Hal itu menjadi hal fundamental untuk sebuah bekal.

Literasi bukan tahu aksara semata, menulis aksara semata, atau membaca aksara semata; pada hakikatnya literasi adalah kemampuan berpikir kritis-kreatif tentang suatu yang dilandasi atau disanggah oleh tradisi baca-tulis yang mantap, kuat, dan kokoh (Saryono, 2019). Nyatanya, di bangsa ini konsep itu dijalankan dengan salah kaprah.

Literasi yang menjadi bekal dalam perang wacana di jagat teks ini telah mengalami distorsi ruang lingkup. Sepanjang maraknya penerbit indie, seminar pelatihan menulis, dan perupaan buku, literasi hanya dijalani sebagai upaya bentuk “hasil” bukan “proses”. 

Saya pribadi belum menemukan seminar membaca buku, ataupun gerakan membaca buku yang ditopang oleh konsep dan struktural pelaksaan yang matang berlanjut. Gampangnya, kita sibuk menulis tanpa pernah berupaya membaca.

Dalam disiplin ilmunya, keterampilan berbahasa memiliki empat tahapan (menyimak, membaca, berbicara, menulis). Keempat tahap tersebut tidak bisa dipertukarkan ataupun dilompati. Karena kesemuanya merupakan satu kesatuan sebagai sebab dan akibat/proses dan hasil. Atas dasar itulah, saya memahami bahwa bangsa ini telah salah kaprah dalam memahami literasi sebagai kesatuan kerangka konseptual berbahasa.

Gampangnya, menyimak dan membaca adalah bentuk input atas pikiran kita, sedangkan berbicara dan menulis adalah bentuk outputnya. Logika sederhananya, input memengaruhi output. Begitupun sebaliknya, output akan mengisi input. Konsep ini adalah modal dasar dalam menyusun, menerapkan, dan mengukur kualitas literasi.

Bukan lagi suatu rahasia, bahwa input (membaca-menyimak) kita berada pada kualitas yang jauh dari rata-rata baik.

Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Itu membuat Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. 

Selain itu, bila anda hanya bisa baca buku 100 halaman dalam setahun, butuh 10 tahun untuk menghabiskan 1000 halaman. Padahal, 1000 halaman merupakan jumlah yang sangat kecil untuk sebuah referensi, pijakan, dan landasan.

Lebih ironis dari itu, meski minat baca buku rendah, data wearesocial per januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gawai kurang lebih 9 jam perhari. Angka tersebut di atas rata-rata dunia. Coba bayangkan, ilmu minimalis, malas baca buku, tapi sangat suka menatap layar gawai berjam-jam, dan ditambah sangat aktif berkomentar di media sosial pula. Itulah kondisi kita hari ini.

Kita tidak akan pernah menang dalam pertarungan bahasa bila kita takmemunyai bekal literasi yang mantap, kuat, kokoh, dan cukup. Belum lagi, post-truth dan banalitas sedang mendampingi kita setiap waktu. Tidak ada pilihan lain selain menyiapkan bekal itu dengan matang, sebelum kemudian membicarakan hal-hal lainnya.

Kita telah lama menjadi bangsa yang banyak bicara ketimbang mendengar atau membaca. Jadi, tidak heran bila unggahan foto orang membaca dipermasalahkan dan diseret ke mana-mana. Hingga akhirnya semua itu hanyalah sasaran empuk untuk provokasi, hoaks, dan fitnah.

Kita sebagai bangsa belum selesai pada tahap awal (membaca-menyimak), dan sekarang kita sedang sibuk berbicara lewat tulisan. Ada lompatan dan lipatan literasi dalam diri budaya bangsa ini. Bukan lagi hal asing bahwa kita sering bertengkar tanpa ujung di jagat digital dan merayakan keparadoksalannya. Ini adalah kondisi yang cukup berbahaya bila terus dilanjutkan.

Di Australia, literasi menjadi visi pendidikan dasar dan menengahnya. Pakistan (2004) juga mencanangkan gerakan nasional untuk leterasi bagi semua dalam rangka mewujudkan tujuan Dasawarsa Literasi PBB. 

Uni Eropa juga telah mengembangkan sebuah peta-jalan (roadmap) literasi bagi Eropa. Sedangkan di Indonesia, sektor pendidikan yang seharusnya menjadi ruang berkembang-tumbuhnya literasi, telah gagal memenuhi fungsinya. Pendidikan masih sibuk dengan permodelan soal dan penghapalan materi. Taraf literasi belum ada di Indonesia.

Padahal, tanpa literasi yang mantap, kuat, dan kokoh, yang tercipta hanya pembangungan dan demokrasi semu atau seolah-olah belaka; tidak substansial, hanya prosedural dan kosmetikal (Sen, 2003:32). Itu yang sedang kita alami hari ini.

Mengutip Soesilo Toer, budaya malas membaca adalah kekuatan yang melemahkan bangsa dan negeri ini dari segala aspek ekonomi, sosial, dan budaya. Hal itu mengindikasikan betapa sentralnya kegiatan membaca. Sayangnya, di Indonesia hal sentral tersebut sangat sepi peminat dan jadi masalah.

Terlepas dari itu semua, di depan mata kehidupan hari ini, hamparan jagad teks kian riuh, berhamburan, berserakan, dan berpendar di mana-mana. Semua itu tidak bisa kita hindari, harus dihadapi. Sedangkan, kita belum menyiapkan bekal apapun untuk perang melawan itu. 

Bila hal itu tak kunjung disadari dan dicarikan revolusi yang nyata, kita akan menjadi bangsa yang terus tenggelam dan kalah dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, bahkan agama.

Bangsa ini akan terus bertengkar tanpa substansi, berbicara tanpa dasar, dan bertindak tanpa perhitungan. Yang tersisa dari keadaan semacam itu hanyalah kemabukan sikap dalam jagad teks. Lalu, pada akhirnya, apa yang diungkapkan oleh Yasraf di atas, tidak pernah bisa kita bantah dan tolak.