Peneliti
7 bulan lalu · 177 view · 4 menit baca · Lingkungan 73846_67695.jpg
Foto: liputan6.com

Lombok adalah Kita; Harapan itu Selalu Ada

Bagi warga masyarakat di beberapa daerah di Indonesia yang pernah mengalami bencana alam, entah itu gempa bumi, letusan gunung merapi, tsunami, tanah longsong, banjir bandang, ataupun tertimpa bencana sosial seperti kerusuhan, konflik sosial, teror, dan sebagainya, maka gempa bumi Lombok akhir-akhir ini rasa-rasanya memunculkan kenangan pahit yang menikam eks korban bencana, siapa dan di mana pun itu. Sangat menyakitkan.

Sebagai catatan, bencana berstadium berat pernah dialami masyarakat kita, mulai dari tsunami Aceh 2004, gempa Yogyakarta 2006, gempa Sumatera Barat 2009, tsunami Mentawai 2010, banjir bandang Wasior 2010, banjir Jakarta 2013, banjir bandang Manado 2014, erupsi Gunung Sinabung 2012, erupsi Gunung Kelud 2014, banjir bandang Bima 2016, dan lainnya.

Tengok pelan-pelan peta sosio-antropologis masyarakat eks bencana di atas. Kepala daerahnya pun terdiri dari figur dengan preferensi politik yang beragam. Biar otak kita selamat dari tren politisasi bencana pasca-gempa Lombok, yaitu orang-orang yang mengaitkan gempa dengan pilihan politik seorang kepala daerah. Astaghfirullah.

Yang namanya bencana, kisah sedih, air mata, darah berceceran, nyawa melayang jadi satu. Belum lagi kerugian materi, kerusakan lingkungan, trauma, dan kecemasan. Begitulah gambaran sebagian besar warga NTB, khususnya Pulau Lombok yang sedang diguncang gempa bertubi-tubi akhir-akhir ini, menjalar hingga ke Pulau Sumbawa dan sekitarnya.

Di sisi lain, kami sebagai warga NTB sangat berterima kasih kepada saudara-saudari sebangsa. Seperti kita tahu bersama, betapa banyak bantuan materi, dukungan doa, dan relawan yang turun membantu para korban gempa Lombok. Para relawan bukan hanya dari orang NTB, tapi juga berdatangan dari luar daerah, lintassuku, agama, profesi, dan organisasi. Dalam urusan kemanusiaan, kita adalah satu. Harapan itu masih ada.

Ironisnya, masih ada saja sebagian pihak yang menghubungkan gempa Lombok dengan pilihan politik Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) M. Zainul Majdi yang mendukung Jokowi dua periode. TGB pun disalahkan oleh para tukang nyinyir, memperdagangkan tragedi kemanusiaan untuk membunuh karakter politik seseorang, mencari simpati politik di atas musibah. Beda warna politik silakan saja, tapi janganlah terlalu.

Lebih ironis lagi, masyarakat korban gempa disalah-salahkan pula. Korban dituduh sebagai makhluk yang dikutuk oleh Tuhan. Cocoklogi ini menimbulkan kecemasan kuadrat. Korban mestinya diberi motivasi dan dukungan, bukan malah disakiti lewat labeling yang buruk.

Ketika terjadi tsunami Aceh 2004, apakah berarti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) waktu itu berlumuran dosa? Apakah masyarakat Aceh korban tsunami kena kutukan Tuhan? Apakah korban gempa Jogja beserta gubernurnya 2006 kena azab Tuhan? Inilah klenik politik masa kini, yang sungguh sangat mencemari aqidah islamiyah.

Menurut TGB, dikutip dari tempo.co (10 Agustus 2018), jika ada pihak yang mengaitkan gempa dengan sikap politiknya, hal itu menandakan pelakunya memiliki keimanan yang cacat. Alasannya, segala yang terjadi di dunia ini adalah ketetapan Tuhan.

"Itu menunjukkan kecacatan dalam keimanan. Karena semua takdir, baik atau buruk, itu ketetapan Allah. Jadi repot juga kalau mengukur bahwa suatu musibah itu tanda Allah marah," tuturnya.

TGB menanggapi banyaknya tudingan di media sosial bahwa gempa Lombok berkaitan dengan pilihan politiknya, yang mendukung Jokowi dalam pilpres 2019. Menurut dia, semua fenomena alam yang terjadi bisa dijelaskan secara ilmiah. Sedangkan penjelasan dari kacamata agamanya adalah takdir dari Tuhan.

"Dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, ya, untuk menjadi pelajaran bagi kita semua, untuk memperbanyak syukur, memperbanyak sabar, dan semakin mendekat pada Allah," ujarnya.

Sebagai peristiwa geologis, secara ilmiah, gempa bumi disebabkan oleh pergeseran antarlempeng bumi sehingga terjadi goncangan, patahan, dan tumbukan. Gempa juga berkaitan dengan aktivitas gunung berapi.

Menurut sejumlah ahli, sumber gempa bumi Lombok berasosiasi dengan zona penyesaran naik busur belakang (Flores back-arc Thrust) yang menyasar daratan Pulau Lombok yang juga termasuk ke dalam zona gunung api aktif, Gunung Rinjani.

Gempa lebih dari sekadar peristiwa geologis, tapi juga teologis. Namun penyikapan mesti jernih dan menyeluruh. Pada hakikatnya, bencana tidak hanya terjadi di Pulau Seribu Masjid, tapi juga di Pulau Seribu Gereja, Pure, Vihara, Sinagog, Serambi Mekkah, Serambi Vatikan, Serambi Israel dan lain-lain.

Kalau suatu daerah tertentu belum mendapat bencana, tidaklah berarti keyakinan politik kepala daerahnya mutlak benar atau warganya suci total, lalu korban bencana dianggap berpenduduk orang-orang najis beserta keyakinan politik kepala daerahnya sesat. Itu kan nggak nyambung.

Baik nikmat atau derita, adalah sama-sama sebagai ujian. Allah Ta’ala berfirman: "Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik dan (bencana) yang buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (QS. Al-A’raf: 168)

Lebih daripada itu, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah takdir Allah SWT. Secara spiritual, kita mesti bisa mengambil hikmah atas aneka peristiwa dan beragam ujian, baik berupa nikmat atau bencana. 

Allah SWT berfirman: “… mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).

Kita harus terus-menerus menyalakan cahaya harapan. Di saat yang sama, kita tak boleh berhenti ikhtiar, terus mengubah keadaan ke arah yang lebih baik. 

Kerentanan bencana memerlukan sikap kesiapan, kewaspadaan, dan kesiagaan. Dalam konteks ini, aplikasi mitigasi bencana, atau sistem dan kebijakan serta regulasi terkait penanggulangan bencana dapat diberlakukan secara maksimal oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Marilah kita bersikap simpatik di atas mata air agama dan logika yang jernih, agar tidak memperkeruh suasana psikologis korban bencana. Mari terus galang bantuan untuk para korban gempa Lombok. Minimal kirimlah doa dengan tulus. 

Para ulama, tuan guru, ustadz, kiai, pendeta, rohaniwan, psikolog, diharapkan memberikan wawasan bencana dan teologi bencana yang mencerahkan. Jangan lupa, pemerintah mesti memperhatikan kebijakan khusus untuk mengurangi risiko kecirian suatu wilayah rawan bencana. 

Sebagai salah satu destinasi wisata internasional terkemuka, Lombok adalah kita. Dari Pulau Lombok, barangkali kita pernah memprasastikan kenangan kala berbulan madu di titik-titik surgawi di Bumi Gora. Atau mungkin di Pulau Lombok-lah kita menatap monumen kebahagiaan, tempat berkontemplasi guna merehatkan (mata) pencaharian.

Semoga Lombok segera pulih dan bangkit. Harapan itu selalu ada.