Sudah beberapa kali aku ikut berbagai jenis lomba. Baik menyusun (menata) prangko karena dulu aku suka filateli, lomba menggambar (melukis) walau teknik menggambarku tidak bagus-bagus amat, lomba kerudung cantik, sampai pada penulisan.

Lomba penulisan ini sangat beragam. Mulai dari karya tulis, cerpen, resensi buku, surat untuk rektor, penulisan cerita rakyat, penulisan artikel ilmiah, sampai pada penulisan esai. Lomba-lomba ini aku ikuti mulai dari SMP sampai saat ini, ketika telah bekerja.

Walau tidak selalu menjadi pemenang masuk dalam tiga besar, bahkan tidak mendapat apa-apa, aku tetap bahagia. Aku bahagia karena sudah menantang kepercayaan diri, kemampuan, kemandirian, sampai pada perjuangan untuk mendapatkan "sesuatu" itu tidak mudah.

Semua lomba memang tidak mudah. Semua butuh usaha, kerja keras untuk berhasil dan mendapatkan penghargaan atas kemenangan kita akan lomba. Beberapa penyelenggara lomba memang secara profesional memberikan banyak "penghargaan". Kita diberikan "sesuatu" untuk menyadari betapa berharganya diri pribadi yang telah menang. 

Beberapa contoh berikut ini, contoh panitia penyelenggara lomba yang profesional. Itu ketika aku duduk di bangku SMU, aku mengikuti lomba penulisan yang diselenggarakan oleh suatu Lembaga  Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkungan.

Sewaktu pengumuman pemenang, aku sakit sehingga tidak datang ke kantor penyelenggara. Panitianya menghubungi pihak sekolah melalui pesawat telepon. Pihak sekolah yang kemudian menghubungiku juga melalui telepon. Akhirnya, ketika sehat, aku ke kantor LSM itu.

Ketika menjadi pemenang sayembara cerita rakyat dari sebuah departemen di Jakarta, panitia penyelenggara "datang" dengan suratnya berisi pemberitahuan sebagai pemenang dan sertifikat sebagai pemenang. Tak lupa, panitia minta dihubungi ditelepon di jam kerja. Aku pun menelepon mereka. Akhirnya, hadiah uang jutaan yang potong pajak itu masuk ke rekeningku.

Atau ketika menjadi pemenang penulisan surat pada rektor di kampus dulu, seorang mbak anggota BEM mencariku. Ketika kami bertemu, dia bilang; "Kukira bukan kamu, habis, aku tahunya nama panggilanmu, bukan nama lengkapmu."

Kami memang tidak terlalu akrab, hanya tahu sebagai senior dan junior di jurusan. Untungnya, dia menghubungi hapeku. Akhirnya, sertifikat dan uang pembinaan kuterima.

Berbicara tentang  lomba, seorang kawan, Jessy, pernah menceritakan suatu pengalamannya ketika mengikutinya. Jessy adalah seorang mahasiswi strata satu yang rajin ikut "Call Paper". 

Dia pernah mengikuti suatu lomba "Call for Paper" yang diadakan suatu kementerian. Namun, dia merasa panitia penyelenggara lomba tidak profesional sama sekali. Lomba ini tingkat nasional, namun "slow respons" ketika di japri tidak ada "apresiasi" pada peserta lomba berupa tanggapan balik ketika tulisan sudah dikirimkan.

Belum lagi saat pengumumannya, Jessy telah menghubungi kontak panitia. Namun, panitia bilang nanti dikonfirmasi melalui media lain (e-mail). Padahal, setelah pengumuman pemenang, ada kegiatan pelatihan yang diselenggarakan. Tetapi, pengumuman belum mulai, jadwal pelatihan itu sudah pada tanggalnya.

Yang disesali Jessy, mengapa tidak ada informasi jika pengumuman dan pelatihan ditunda. Lalu, panitia yang tidak komunikatif ketika dihubungi, dan kemudian, dia dengan berani dan percaya diri (PD) menarik kembali tulisannya tersebut. Aku salut padanya. 

Seperti Jessy, aku juga mempunyai pengalaman dengan panitia lomba penulisan esai yang terakhir ini aku ikuti dan tidak mengenakkan. Aku merasa tidak "dihargai" sebagai pemenang. Lomba ini malah  bikin "esmosi". Bagaimana tidak? Panitia penyelenggaranya tidak profesional sekali!

Lomba Esai "Kampung Unik  yang Tidak Unik"

Lomba ini adalah lomba esai yang kuikuti di akhir tahun 2019. Lomba yang bertajuk "Kampung Unik" (bukan judul tajuk yang sebenarnya) akhirnya sama sekali tidak menjadi unik di mataku karena ketidakprofesionalan panitia penyelenggara lomba.

Padahal, lomba ini digagas oleh seorang perempuan hebat yang memang lagi mencalonkan diri pada pemilihan "kepala daerah 2020" di suatu "kampung unik". Aku melihat e-flayernya pertama kali di suatu grup literasi di WhatsApp-ku. Kemudian, beberapa teman membagikan di posting status mereka. 

Dengan kategori pelajar, mahasiswa, dan umum, lomba ini memiliki banyak ketentuan penulisan esai juga ketentuan dan persyaratan peserta. Sampai pada garis waktu pendaftaran dan pengumpulan naskah pada Agustus 2019 dan pengumuman pemenang di awal September 2019.

Aku tertarik mengikutinya, bukan hanya karena hadiah yang lumayan, jutaan rupiah yang akan dibagi ke beberapa pemenang, namun juga karena aku adalah pendatang baru di "Kampung unik" tersebut. Ini bisa dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang aku buat di kampung unik tersebut. KTP pun menjadi ketentuan dan prasyarat sebagai peserta lomba.

Aku pun mencoba menulis pengalaman pribadiku, selama hampir setahun berada di kampung unik itu. Aku menulisnya dengan judul Mari ke Kampung Unik (bukan judul sebenarnya). Esai itu kutulis kurang lebih sehari, dengan ide yang sudah di kepala berhari-hari.

Kelihatannya memang kurang persiapan. Tapi bagiku, aku sudah menuliskan sesuatu yang jujur dari lubuk hati tentang interaksiku selama berada di kampung unik. Referensiku cuma beberapa, tidak sampai lima. Itu pun mengambil sumber literatur dari online, internet, tentang kampung unik.

Di pertengahan September 2019, lomba itu diumumkan di suatu kafe. Padahal, menurut e-flayernya, pengumuman akan diumumkan di Facebook (FB) dan di awal September. Namun, aku tidak pernah melihat pengumuman pemenang lomba esai itu di FB.

Malah seorang teman memberikan "bocoran" penilaian yang sangat unik menurutku. Mereka menilai dari banyak aspek. Mulai dari berbagai indikator, yaitu pendekatan sejarah dan hukum, kearifan lokal, gaya penulisan, solusi, dan sebagainya, sampai dengan referensi atau literatur yang digunakan. 

Dan jurinya menilai dengan keren karena ke-objektifan-nya tadi. Dia mengirimiku file pdf pengumuman pemenangnya. Aku mendapat predikat juara tiga dengan jumlah nilai yang lebih dari 700.

Namun, aku menunggu panitia menghubungi, dan juga melirik sesekali FB milik mereka. Tapi, tidak ada informasi yang masuk ke aku tentang pengumuman pemenang lomba. 

Aku pun menghubungi panitia, sebut saja dia Adil. Namun, tidak ditanggapi. Akhirnya, aku minta nomor WA panitia yang lain pada teman yang juga menjadi juara di lomba ini. Aku bilang pada teman, mengapa lomba Kampung Unik sepertinya tidak profesional? 

Kata teman, itu cuma salah satu tindakan seorang oknum. Pernyataan teman tadi seolah-olah mengatakan jangan langsung menyalahkan satu kelompok " Kampung Unik".

Desember 2019, hingga Februari 2020

Akhir Desember 2019, ketika aku berada di "Kampung Unik" karena sebelumnya berada di kampung lain, aku menghubungi salah seorang panitia "Kampung Unik" yang telah diberikan teman sebelumnya untuk mengonfirmasi diriku sebagai pemenang.

Sebut saja panitia itu bernama Lembah. Lembah kemudian menelepon via WA. Dia menyalahkan diriku yang baru menghubungi panitia. Namun, dia berkata kalau dia habis pulang dari Jawa Tengah. Kemudian, dia meminta nomor rekeningku dan berkata akan dikirimi secepatnya. Ok, pak!

Awal Januari 2020, aku menghubungi si Lembah lagi. Dia menghubungi via pesan suara. Suaranya berat dan besar. Katanya, "Tunggu ya, dek." Dia habis sakit, dan "mohon" aku santuy.

Tengah Januari 2020, aku menghubungi lagi. Hari gini, transer (TF) uang itu tidak sampai lima menit. Apalagi, kalau punya mobile banking. 

Kata si Lembah, dia tidak di "Kampung Unik". Dia lagi di Jawa Timur mengurus calon mertuanya (camer) yang sakit. Katanya lagi, di "Kampung Unik" tidak ada orang (memang orangnya ke mana?). Dana pemenang kemarin dia kembalikan jadi agak "ribet" untuk mengambil dana itu lagi. Tunggu saja, 500k katanya lagi.

Ini bukan hanya masalah 500k, tetapi juga "penghargaan" kepada penulis. Terus terang, aku lebih senang lomba yang ada sertifikatnya. Lebih terasa, ada buktinya. Soal uang akan cepat hilang dan habis (lomba ini tidak ada sertifikatnya).

Awal Februari, aku menghubungi si Lembah lagi. Dia bilang, dia sudah menyuruh anggotanya untuk mengirim. Namun, anggotanya lagi dalam keadaan duka. Beberapa hari kemudian, sms bankingku berbunyi. Ada dana masuk sebesar Rp400.000.

Kalau ini dari "Kampung Unik", kok kurang? Aku menghubungi si Lembah lagi. Si Lembah mengaku anggotanya baru mengirim dan baru 400k karena katanya kena admin. Memang admin kena berapa?

"Tunggu saja, nanti dia kirim (sisanya) kok," kata Lembah dalam bahasa "Kampung Unik" yang menurutku kasar. Dan sampai hari ini, aku tidak melihat dana yang masuk.

"Kampung Unik" tidak usah buat lomba lagi deh, kalau panitiamu tidak profesional. Pertama, mereka akan mengumumkan di FB pemenangnya sesuai janji mereka di e-flayer, namun tidak ada.

Kedua, panitia tidak menghubungi pemenang karena katanya juri yang menginfokan dan seorang panitia ketika dihubungi juga tidak responsif. Ketiga, panitia yang lain, banyak PHP-nya. Keempat, Hadiah kok dicicil? Emang gue kredit sama situ?

Ah, silakan pembaca menilai sendiri. Jangan sampai ikutan lomba yang panitia penyelenggaranya tidak profesional, nanti bikin asam lambung jadi naik.