Enam belas tim sudah lolos dari fase grup UCL dan akan berlaga di fase gugur. Di antara semua tim itu, bisa jadi Borussia Moenchengladbach dan Lazio adalah yang paling tidak diunggulkan. Berhubung saya adalah Laziale, saya akan kesampingkan Moenchengladbach dari pembahasan ini.

Lazio menjalani fase grup tanpa kekalahan. Dua kali menang dan empat kali seri membuat mereka menjadi salah satu dari empat tim yang belum terkalahkan di UCL musim ini selain Chelsea, Manchester City, dan Bayern Munchen. Meski begitu mereka tak otomatis menjadi kompetitor yang diunggulkan. Sekalipun, jika memperhitungkan kemenangan lawan Dortmund di laga pembuka. 

Bahkan, di dunia maya sudah beredar meme yang menggambarkan Lazio sebagai wanita dewasa bertubuh kecil yang duduk di sofa dan di belakangnya ada lima lelaki dewasa berdiri dengan logo klub PSG, Liverpool, Bayern Munchen, Real Madrid, dan Manchester City. Bagi yang kenal referensinya tentu paham bahwa meme itu menggambarkan betapa tidak diunggulkannya Lazio.

Sesungguhnya, Lazio memang beruntung tidak masuk grup neraka yang katanya GITU DOANG. Bersama Zenit, Club Brugge, dan, yang terkuat, Dortmund, Lazio berada di grup santai yang GINI-GINI AJA. 

Satu grup bersama Dortmund memang membuat harapan menjadi juara grup hanya impian. Target menjadi runner-up grup menjadi realistis sekaligus menantang. Pasalnya, Zenit dan Club Brugge juga bukan tim sembarangan. Mereka berpengalaman di UCL lebih dibandingkan Lazio.

Lazio sendiri baru kembali ke UCL setelah 13 tahun absen. Dalam masa absen itu, laga eropa yang mereka lakoni sekadar di Liga Europa. Itu pun tak pernah menghasilkan prestasi mentereng kecuali pemainnya Libor Kozak yang sempat menjadi topskor di musim 2012/2013. 

Lolosnya Lazio ke UCL musim ini pun diliputi cerita yang antiklimaks. Mereka sempat dianggap pesaing utama Juventus dalam perburuan Scudetto. Performa apik mereka tampilkan sampai dengan bulan Maret 2020 sebelum liga dihentikan. Namun sayangnya, hasil-hasil pertandingan yang buruk pasca restart membuat mereka tersungkur di peringkat 4 klasemen di akhir musim. 

Biang keterpurukan Lazio pasca restart adalah kedalaman skuat yang tidak mumpuni. Sebelum liga dihentikan akibat pandemi Covid-19, mereka sanggup melakoni laga seminggu sekali dengan tanpa masalah berarti. Bahkan, Juventus keok dua kali di tangan Lazio pada pentas Serie A dan Supercoppa Italia. Namun, memasuki lanjutan Serie A dengan jadwal main tiga hari sekali membuat Lazio kelimpungan. 

Pemain cadangan Lazio tidak sepadan menggantikan peran pemain utama. Selain itu, krisis cedera melanda akibat padatnya jadwal. Bahkan, di pertemuan kedua Serie A melawan Juventus, saking tidak adanya pilihan, Lazio menurunkan dua pemain primaveranya. Bayangkan melawan kandidat juara dengan menurunkan pemain yang masih mentah.

Jika menakar kekuatan Lazio musim ini, sebetulnya tidak banyak yang berubah. Penambahan skuat berupa pemain berstatus free transfer seperti Gonzalo Escalante, Jean-Daniel Akpa Akpro, dan Pepe Reina. Sementara itu, pemain yang berstatus pinjaman adalah Wesley Hoedt dari Southampton dan Andreas Pereira dari Manchester United. Hanya ada dua pemain yang datang dengan biaya transfer yaitu Vedat Muriqi dari Fenerbache sebesar 18 juta euro dan Mohammed Fares dari SPAL sebesar 8 juta euro. 

Dari daftar di atas, tentu tak ada yang benar-benar istimewa. Tapi untungnya, Lazio mampu mempertahankan pemain kunci seperti Luis Alberto, Sergej Milinkovic-Savic, Lucas Leiva, Joaquin Correa, Francesco Acerbi dan, pemenang sepatu emas eropa musim lalu, Ciro Immobile. Enam pemain inilah yang bisa jadi pembeda saat tampil utuh bersamaan.

Kemenangan kala menjamu Dortmund bisa jadi gambaran betapa kuatnya Lazio jika line up diisi pemain utama. Namun, sekali lagi, sayangnya, saat Immobile, Leiva, Strakosha, terinfeksi Covid-19 ditambah masih cederanya kapten Senad Lulic, bek Luis Felipe Ramos dan Stefan Radu absen, kelabilan pun terjadi lagi. Alhasil, Lazio sejauh ini berada di peringkat ketujuh sekaligus terpaut 9 poin dari pimpinan klasemen AC Milan.

Dengan kondisi demikian, wajar jika ada pertanyaan bisa apa Lazio di babak 16 besar. Mereka tak bisa berharap mendapat undian dengan lawan yang seperti di fase grup. Dan itu disadari sepenuhnya oleh tim dan Laziale. Bahkan, banyak di antara Laziale berharap Lazio akan mendapat undian melawan tim yang nantinya akan juara Liga Champions. Biar kalau kalah ya sudah  gak apa-apa, toh yang mengalahkannya juga jadi juara.

Sementara itu, laga 16 besar UCL akan dipertandingkan di bulan Februari 2021. Potensi perubahan kekuatan tim penghuni 16 besar tentu ada dengan belanja pemain di musim dingin. Tak sulit bagi tim-tim besar dengan dana melimpah untuk menambal kelemahan di paruh pertama musim berjalan.

Bukan hal spektakuler jika tim semacam Real Madrid atau RB Leipzig menggelontorkan dana di bursa transfer januari. Lain halnya dengan Lazio, selain lantaran bukan tim kaya raya, ada alasan lain yang membuat fans yakin tidak akan ada transfer masuk ke Lazio.

Dengan arus informasi jaman sekarang, fans bisa dengan mudah mendapatkan gosip terkait klub kesayangannya. Entah itu dari sumber yang kredibel atau dari semacam koran kuning. Tapi yang jelas, sampai sekarang, tidak ada gosip transfer masuk ke Lazio. Bahkan Direktur Olahraga Igli Tare secara tersirat menyatakan tidak akan menambah pemain.

Yang ada malah gosip playmaker Luis Alberto yang bakal hengkang. Ini berkaitan dengan kisruh komentarnya di media soal pesawat pribadi Lazio yang dikaitkan Luis dengan tunggakan gajinya selama 3 bulan. Kabarnya, Presiden Lazio Claudio Lotitto masih marah dan bakal mendepaknya. Tapi bukan Lotitto namanya jika tidak memanfaatkan nilai ekonomis dari pemain yang masih bernilai tinggi. Menjual Luis Alberto adalah jalan paling sempurna untuk mengobati sakit hatinya sekaligus mendapatkan uang.

Dengan kenyataan di atas, pantaslah kiranya fans Lazio tidak bermuluk-muluk impian. Lolos grup UCL sudah memenuhi target di awal musim. Saatnya fokus di liga yang masih panjang, target untuk masuk 3 besar merupakan sasaran realistis. Berharap keberuntungan sah-sah saja, tapi mengejar yang realistis rasa-rasanya lebih menentramkan hati.

Bagaimana pun, Vola Lazio Vola.