Mahasiswa
2 minggu lalu · 83 view · 10 min baca menit baca · Cerpen 53281_31296.jpg
Foto: Familie Stamboom

Loji

Asap mengepul dari cerobong S.S. Rumphius. Hitam pekatnya sungguh seram. Kapal uap Belanda itu merapat. Tangga-tangga berat bertali besi mulai diturunkan. Berderit kurang pelumas pekakkan telinga di siang terik. 

Penumpang turun tampak anggun. Mentereng dengan setelan baju putih khas Indies. Para porter pelabuhan Hujunggaluh mulai semburat menyerbu penumpang tawarkan jasa angkut.

“Meneer, dua ratus sen.”

“Seratus lima puluh sen tuan, sampai stasiun trem.”

“Ayo meneer, tiga ratus sen, langsung ke stasiun Semut pakai oplet, murah.”

Tawar-menawar riuh antara penumpang dan porter. Sebuah pemandangan lazim di tempat perputaran uang. Harus berani bertarung atau sebaliknya terlarung.

Kerasnya kehidupan pelabuhan seakan membuat ukiran tajam tersendiri di tahun 1903 itu. Pelabuhan Hujunggaluh yang kelak bernama Tanjung Perak Surabaya Jawa Timur.

“Tuan mari, seratus sen saja, murah” tawar porter dengan rambut rapi dan setelan necis. Sekilas tak pantas jadi porter.  

Hei Jo, ini jatahku!” bentak Parno.

“Ehh giliranmu nanti malam!” jawab Barjo tak mau kalah.

“Bukankah bagianmu duduk di kantor itu!”

“Sudahlah aku butuh duit!”

“Ya kamu, angkat!” sela seorang Indo-Belanda. Berperawakan tinggi tegap, namun agak gelap. Pertanda pribumi menang pigmentasi. Suaranya berwibawa, melerai dua porter yang berebut itu. Sang meneer lebih pilih Barjo. Mungkin karena dandanannya. Pembeli adalah raja, menang memilih.

“Mari tuan meneer,” kata Barjo sambil terseok-seok karena bawaan yang berat. Sebuah kopor kulit besar dan bungkusan panjang.

“Tuan mau lanjut kemana?”

“Loji Lalie Djiwo.”

Lima gulden saja meneer.”

Nee!”

“Empat gulden!”

Ini yang diharapkan Barjo, walau kalah tawar. Siang itu sungguh istimewa baginya. Empat gulden adalah nominal yang cukup besar baginya yang butuh duit. Barjo sebenarnya seorang pemandu wisata. Siang itu nekad jadi porter. Dan mendapatkan meneer Hendrik yang setengah pribumi. 

Akhirnya mereka berdua menuju stasiun trem Hujunggaluh. Kemudian dilanjutkan ke stasiun kereta api Semut. Sebuah stasiun kereta api uap yang pertama kali dibangun VOC di Surabaya. Dari stasiun Semut lanjut ke stasiun Bangil di Pasuruan. Inilah akses terakhir menuju loji Lalie Djiwo di gunung Arjuno Tretes.

“Meneer, nanti di Tretes mampir ke nymphenbad.” 

“Uitstekende.” 

“Tambah dua gulden lagi tuan meneer.”

Ja, yang penting bagus barangnya.”

Lokomotif seri SS200 meraung. Pekik ruang kombusi ketel uap disuarkan oleh cerobong asap berpeluit. Mengeluarkan bunyi nyaring dan kepulan asap. Jelaga hitam membumbung, mengoyak langit Surabaya.

“Cepat tuan meneer! Kereta mau berangkat!” teriak Barjo sambil kibas-kibaskan tiket kereta api.

Ja.”

Lupakan rokok strootje itu!”

Meneer Hendrik terburu-buru menerima koin sen kembalian dari pedagang rokok kretek Vreemde Oosterlingen. Sepertinya sang Meneer berjuang keras ingin mencoba hisapan manis rajangan tembakau bercengkeh. Jelas tidak ada di negerinya. 

Roda besi mulai berderit, tindas keras lempeng rel. Menyisakan suara pilu. Seharu biru penindasan bangsa yang terjajah ini. Ketel uap berdesis lantang. Memberi nada desah bak noni Belanda yang sedang birahi. Lokomotif bergulir pelan maju meninggalkan stasiun. Mereka berdua sudah terlena dalam guncangan lembut gerbong. 

Mungkin karena bantalan rel yang masih terbuat dari kayu jati Jawa, hasil rodi. Kayunya masih bau anyir darah segar rakyat kita. Meneer Hendrik baru lulus dari Universitas Leiden Belanda. Ingin berlibur ke Tretes. Tertarik oleh cerita kawan tentang loji yang berdiri sunyi di ketinggian 2500 meter dari permukaan air laut. Loji yang pernah tersohor hingga Austria.

“Tuan meneer baru pertama ke loji Lalie Djiwo?” tanya Barjo.

Ja,” jawab singkat sang Meneer.

Meneer Hendrik menyulut rokok strootje-nya. Asap mengepul dibarengi suara gemeretak khas kretek. Tampaknya keenakan, terpejam. Sesekali hisapan kuat hingga ke dasar paru-paru untuk mengubur nikotin dalam-dalam. 

Barjo membuang muka ke jendela. Memandangi nasib bangsanya. Kumuh, kemiskinan, kebodohan, penindasan, pergundikan terlukis jelas di deretan rumah dan jalanan sepanjang rel.

“Tuan tak gentar?”

Ne. Takut apa, Europeanen tak pernah takut.”

“Ada darah pribumi di tubuh tuan.”

Meneer Hendrik langsung tersedak asap rokoknya. Batuk berat sambil membuang sisa rokoknya yang tinggal separuh ke jendela. Tiba-tiba ia mengambil bungkusan panjangnya, dibuka dengan tergopoh.

“Meneer jangan!” pinta Barjo sambil beringsut ketakutan ke dekat jendela kereta.

Ne! saya cuma coba teleskopnya,” jawab meneer Hendrik sambil tertawa lepas khas kompeni. Diarahkan teleskop tersebut ke jendela. Membidik gunung Arjuno yang berdiri gagah nun jauh di sana. Ternyata bungkusan itu sebuah senapan buru jenis M 1903 Springfield. 

Mahal tentunya, seri keluaran terbaru. Bisa untuk memburu hewan, apalagi manusia. Sebagaimana yang telah dilakukan VOC pada umumnya, pembunuhan dan perampasan. Khas VOC yang berdagang sambil meletuskan senapan dan meriam. Pesta mesiu ini juga meletup di loji Lalie Djiwo

Perburuan kijang dan macan tutul Jawa. Mungkin ini juga rencana meneer Hendrik. Klise, mereka mengatakan Loji Lalie Djiwo adalah tempat paling romantis. Melambangkan mistisisme dan keengganan terhadap materialisme Eropa. Itulah yang mereka tulis di koran-koran. 

Tentang keindahan Tretes dengan sebutan verrukkelijke. Sementara disisi lain menghabisi kijang dan macan tutulnya. Setelah perburuan selesai biasanya dilanjutkan dengan pesta bersama pelacur peranakan. Mereka adalah noni-noni muda terlantar yang ditinggalkan bapak-bapaknya pulang ke Belanda. 

Kathelijn, Francisca, Augustijn, Adriana, Marriska adalah anak-anak Indo-Belanda lahir hasil pergundikan Belanda dengan wanita pribumi.

Kereta api mulai melambat. Persawahan kering terpapar dari perspektif jendela. Kombinasi antara bekas bilur-bilur tanam paksa dan sisa-sisa kerja rodi jalan raya Deandels semua menumpuk di situ. 

Diorama rakyat yang menjerit. Seseram rem kereta api yang mulai memarut rel. Tanda pemberhentian sudah dekat. Akhirnya sampailah mereka di stasiun Bangil.
"Makan," interupsi meneer Hendrik.
"Hanya roti bagelen tuan," kata Barjo.

“Berapa jam dari sini ke Tretes?”

“Setengah hari tuan.”

“Sudah kau sewakan kuda?”

“Beres.”
Keduanya menuju pojok stasiun. Disitu ada kedai roti Kho Pek Guan yang terkenal, penuh sesak. Bau sedap roti bagelen dipadu aroma kopi robusta Jember membuat perut makin keroncongan. Ada juga rombongan lain dengan satu tujuan, loji Lalie Djiwo. Mereka tampak akrab mengobrol. 

Kuda-Kuda tunggangan berjajar rapi di depan kedai. Moda transportasi yang akan membawa mereka menuju Tretes, lereng gunung Arjuno.
"Hendrik, Universitas Leiden."
"Van Romme, Universitas Amsterdam.”

“Sudah pernah ke Lalie Djiwo?”

“Sudah, lima kali, bagus. Kamu bisa menembak macan dan kijang.”

Hendrik dan Van Romme langsung akrab. Merasa sama-sama mantan mahasiswa dengan satu visi eksplorasi, baik hayati pun hewani di tanah kolonial. Katanya untuk berbakti kepada sang Ratu Belanda. Bahkan mungkin lebih, seperti yang telah dilakukan oleh para pendahulunya. Eksplorasi manusia!

“Malam ini kau menginap disini?” tanya Van Romme

“Hotel Eidelweish,” jawab Hendrik

“Sama!” sela Jeff Peterson yang tetiba datang dari belakang sambil menggandeng seorang noni Belanda dan wanita pribumi.

“Adakah hollandsche vrouw di hotel Eidelweish?” tanya Hendrik dan Van Romme hampir bersamaan.

Ne! Tidak ada guling di sini,” jawab Jeff Petrerson sambil tertawa lebar bangga memamerkan dua gundiknya. Guling memang fenomenal saat itu sebagai teman tidur para Belanda yang tak punya pasangan. Hingga dikenal sebagai dutch wife.

Malam begitu larut dengan kendali masing-masing. Tidak ada yang istimewa. Rutinitas makhluk, tidur dan berharap nyenyak jelang esok yang cerah. Namun beda dengan meneer Hendrik. Kata-kata si Barjo masih terngiang, “Ada darah pribumi di tubuh tuan”. 

Meneer Hendrik menatap langit-langit kamar hotel begitu lama. Sementara Barjo tidak tidur. Ternyata ia duduk di pojok halaman hotel tepat di bawah pohon beringin besar. Ada kilatan bara di dekatnya. Bentuknya memanjang kecil tertancap di tanah. Mengepulkan asap dan bau harum. 

Mulutnya komat-kamit, mata terpejam. Beberapa porter ikut nimbrung. Duduk bersilah memanjang di belakang Barjo. Gumam mulut mereka padu, seperti baca mantra. Rapal pun berakhir, mereka berdiri meninggalkan dupa yang masih membara. Menyebarkan aroma mistis ke penjuru petala langit.

Jo, kenapa kamu nekad berangkatkan dia?” tanya Mahesa, seorang pribumi pemandu wisata juga.

“Aku butuh duit,” jawab Barjo singkat.

“Wah gawat.”

“Kamu juga kenapa memberangkatkan dia!”

Mahesa hanya terdiam. Terdengar gemeretak giginya, sedang kedua matanya memerah. Mahesa sering memandu meneer mata keranjang itu, si Jeff Peterson ke loji Lalie Djiwo. Ia jadi langganannya. Bahkan sang meneer sering menginap di rumahnya berhari-hari. Rumah Mahesa tak jauh dari kota Bangil, hanya setengah jam berkuda.

Perjalanan berkuda ke Tretes lancar-lancar saja. Mereka menenteng senjata. Tikus got pun takut. Apalagi rakyat jelata yang kurus kering. Bernapas saja susah, apalagi melawan. Sampailah kelima orang tersebut di pintu rimba gunung Arjuno. 

Barjo, Hendrik, Jeff Peterson, Mahesa dan Van Romme menatap hutan gunung Arjuno yang lebat. Kanopimya nampak teduh, surga bagi wisatawan dan pemburu.

“Meneer ambilah sebuah batu dan simpan di kantong,” kata Barjo.

“Untuk apa?”

“Sudahlah lakukan!”

“Baik.”

Kali ini meneer menurut saja. Mungkin karena kata-kata “Ada darah pribumi di tubuh tuan”. Bak daya magis tertentu. Darah pribuminya mulai mendominasi. Sedang Mahesa tampak berjalan melambat sambil matanya celingukan seperti ada yang diawasi dan direncanakan.

Mereka terus berjalan membela hutan hingga sampailah di lembah Kijang sore hari. Lembah tempat loji Lalie Djiwo berdiri tegar. Bangunan sederhana dari kayu beralaskan batuan andesit gunung. Khas Eropa dengan cerobong pipa pembuangan asap yang tinggi. 

Sedang tetangganya agak jauh, sekitar satu jam jalan kaki. Mereka adalah sekumpulan gubuk-gubuk penambang belerang gunung Welirang, tetangga gunung Arjuno. Gubuk yang jauh dari gaya Eropa. Khas dengan atap dari anyaman ilalang. 

Mereka adalah koloni penambang pribumi. Penghuni asli hutan Gunung Arjuno-Welirang. Sebuah koloni yang tak pernah menembak macan tutul ataupun kijang, apalagi menembak manusia. Sedang yang di loji Lalie Djiwo adalah koloni penjagal.  

“Barjo cukupkah kayu bakarnya?” tanya Meneer Hendrik.

“Cukup tuan,” jawab Barjo sambil terus menjaga api unggun yang nampak mulai meredup.

“Daging kijangnya?”

“Habis tuan, ini yang terakhir,” jawab Barjo, sementara tangannya terus menguling-gulingkan ke kiri dan ke kanan sebuah paha kijang di atas bara api unggun.

“Besok berburu,” kata meener Hendrik. Tampak ia sedang mengelap laras panjang senapannya. Sementara Barjo hanya melirik saja.

“Tuan, batu yang di saku masih ada?” Tanya Barjo.

“Masih,” jawab meneer Hendrik sambil merogoh kantong celananya.

“Untuk apa sebenarnya?” tanya meneer Hendrik penasaran.

“Itu yang yang keenam,” jawab Barjo enteng. Meneer Hendrik jelas bingung, apa maksudnya keenam.

“Tuan hitung rombongan kita.”

“Lima orang.”

“Nah, batu itu yang keenam, genap!”

Sementara itu Mahesa beserta tamunya Van Romme dan Jeff Peterson sudah terlelap setelah teler oleh minuman keras. Malam semakin mencekam oleh deru badai yang menghantam tebing di belakang Loji. 

Sayup-sayup terdengar langkah kaki pelan di sabana lembah Kijang. Teratur menggesek rumput ilalang. Menimbulkan bunyi gemeresik lembut. Barjo bangkit dari duduk. Dilemparkan saja daging paha kijang di tangannya.

“Tuan meneer bangun!” seru si Barjo kepada meneer Hendrik yang tertidur menunggu daging panggangnya matang.

“Ada apa Jo!” meneer Hendrik terkaget sambil menyambar senapan. Buru-buru ia mengokangnya, sambil mengucek mata.

“Ada rombongan tuan,” jawab Barjo sambil mengintip dari celah Loji.

“Banyak obor tuan,” lanjut Barjo.  

Terdengar teriakan yang tak jelas dari rombongan. Badai begitu menderu. Memainkan obor dan teriakan mereka. Dengan segala keberanian yang  didukung kokangan senapan laras panjang, akhirnya mereka berdua membuka pintu loji dan keluar mendekat ke rombongan obor.

“Kami akan bakar loji!” teriak pemimpin rombongan obor itu.

“Lihat saudara kami ini!”

“Lihat nasib kami!”

Kemudian terlihat dua orang penambang belerang maju ke depan sambil menggotong sesosok tubuh yang ditutupi selembar sarung. Seorang lagi maju dengan tubuh menggigil. Tangannya yang gemetar perlahan menyibak sarung penutup itu. Dalam temaram obor yang bergoyang-goyang, terlihat mayat dengan luka di leher.

Darahnya belum kering membeku. Beberapa carut-marut cakar mengoyak sekujur tubuhnya. Barjo dan meneer Hendrik terpaku. Moncong senapannya diturunkan menodong tanah.

“Kami diserang kawanan macan tutul!” ucap penggotong mayat, matanya terlihat melotot seakan meminta pertanggungjawaban.

“Ini ulah kalian!” seorang lagi maju sambil terus menjaga nyala obornya.

 Sementara di dalam loji terdengar teriakan dan bunyi gedebuk yang keras. Mereka semua terkejut, memandang pintu loji yang sedikit terbuka. Muncul Mahesa yang terlihat berdarah dibekuk Van Romme.

“Kompeni bangsat!” teriak Mahesa menggelegar. Seketika Barjo berlari menuju loji. Dilihatnya Jeff Peterson tergeletak mati. Suasana kacau mencekam.

“Dia mengambil istriku! Istriku bukan pelacur!” Mahesa berkata gemetar memuntahkan dendam membaranya. Perlahan meneer Hendrik mendekati Van Romme yang masih membekuk Mahesa.

“Lepaskan dia! Godverdomme! hardik meneer Hendrik sambil todong Van Romme dengan senapannya. Seketika itu pula Van Romme melepaskan Mahesa yang sedari tadi meronta-ronta tercekik lengan kekarnya.

“Barjo keluarkan mayatnya!” perintah meneer Hendrik.

“Baik tuan,” jawab Barjo sambil berlari ke dalam loji. Diseret saja mayatnya. Kemudian meneer Hendrik mendekati loji. Tanpa pikir panjang obor yang diambil dari seorang penambang ia lemparkan ke dalam loji. Tepat menghantam sekaleng minyak tanah. Dalam sekejap api menjalar membakar loji Lalie Djiwo.

Api yang bergelora membuat mereka mematung. Menghangatkan hati mereka di tingkat kesadaran tinggi yang manusiawi. Barjo mulai terketuk hatinya. Butuh uang ternyata untuk rencana mencicipi mandi peri bersama pelacur peranakan setelah turun nanti. Tersadar panasnya api neraka. 

Sementara meneer Hendrik yang makin dominan darah pribuminya, menetes air mata. Mahesa tersungkur sesunggukan di rumput lembah kijang. Sedang para penambang, bak para martir komat-kamit membaca sebuah suluk kebanggan mereka, suluk Kalijogo. 

Kobaran lidah api melahap bangunan loji Lalie Djiwo. Menjilat-jilat membentuk bayangan terang dan gelap. Nun jauh tampak mata-mata menyala sedang mengamati di kegelapan. Bergerak hilir-mudik seakan berpesta. Tubuh mereka terbungkus kulit dengan kombinasi polkadot hitam dan keemasan. Puluhan seringai terlihat sebagai tanda kemenangan alam.

*Pemenang Pertama Cipta Cerpen Festival Sastra FIB UGM 2019

Artikel Terkait