John Acton mengatakan “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”. Kuasa atau kekuasaan memiliki kekuatan yang sangat besar. Kekuasaan bisa menjadi alat bagi seseorang untuk menolong atau malah menyakiti orang lain. Tergantung dari siapa yang memiliki kekuasaan itu. Dalam sejarah, begitu lazim kita tau cerita dimana perang pertumpahan darah terjadi antar saudara yang dilatarbelakangi perebutan kekuasaan, seperti bagaimana runtuhnya kerajaan besar Majapahit sepeninggal raja Hayam Wuruk. Bagaimana seorang raja tirani merugikan rakyatnya atas penyalahgunaan kekuasaan yang dia miliki. Namun, ketika kekuasaan berada di tangan raja yang tepat, maka sejahtera lah rakyatnya.

         Sistem kerajaan sudah runtuh, namun kekuasaan masih memiliki kekuatan yang sangat besar di zaman yang modern ini. Ada berbagai sumber bagaimana seseorang dapat memiliki kuasa. 5 Sumber kekuasaan menurut John Brench and Bentram Raven meliputi (1) kekuasaan menghargai (reward power) seperti senioritas; (2) kekuasaan memaksa (coercive power) seperti preman yang akan menghukum jika tidak mendapat apa yang dia inginkan; (3) kekuasaan sah (legitimate power) seperti kedudukan sah di suatu organisasi dan jabatan resmi di pemerintahan; (4) kekuasaan keahlian (expert power) yang diperoleh karena keahlian seseorang sepertii seorang professional dan tenaga ahli; (5) kekuasaan rujukan (referent power) berupa karisma atau keberanian yang dimiliki seseorang sehingga menjadi contoh atau panutan bagi yang dipengaruhi.

         Manusia selalu haus akan kekuasaan, baik untuk tujuan yang mulia atau hanya keegoisan semata. Kekuasaan sangat berbahaya ketika digunakan untuk keuntungan pribadi dan tanpa adanya pemikirian logis akan apa yang baik dan buruk. Seseorang pemimpin yang mengambil tindakan atas dasar kepentingan pribadi akan mengesampingkan logikanya. Semakin banyak kuasa yang ia miliki, semakin menipis akal sehat dalam dirinya. Demi mendapatkan apa yang dinginkan, pemilik kuasa seperti ini tidak akan memikirkan dampak atas tindakannya yang mungkin dialami orang lain.

         Intoleransi di Indonesia belakangan marak terjadi karena isu agama dan disulut oleh kepentingan politik. Indonesia merupakan negara multikultural. Perbedaan merupakan hal yang tidak bisa dihindari melainkan harus dirangkul dengan pengertian bahwa kita satu walau berbeda-beda. Kenyataan perbedaan di Indonesia memunculkan blok-blok kekuasaan dan memicu timbulnya konflik. Masyarakat bukannya tidak bisa bertoleransi, namun ketika adanya kepentingan golongan yang memanfatkan keberagaman Indonesia lalu menjadikan perbedaan sebuah masalah.

         Di zaman modern ini, keegoisan menusia seakan meningkat. Setiap kelompok mempercayai bahwa pandangannyalah yang paling benar dan yang tidak setuju adalah salah. Pemikiran seperti ini yang memunculkan paham radikalisme hingga berujung pada tindakan ekstremisme dan intoleransi. Perbedaan yang ada di Indonesia saat ini seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak pemilik kuasa untuk mencapai tujuan golongannya. Pemilik kuasa ini mampu mempengaruhi masyarakat pengikutnya untuk bergerak mengikuti apa yang dipercaya oleh pemimpinnya. Tindakan-tindakan dan pemikiran radikal yang kemudian lahir sangat sering tidak masuk diakal atau bahkan terlalu kejam untuk orang lain yang dirugikan. Terorisme adalah satu contoh dimana kekuasaan seseorang sebagai pemimpin dapat mempengaruhi orang lain untuk melalukan tindakan yang dapat menghilangkan nyawa banyak ornag. Secara logika, membunuh orang lain merupakan kesalahan dan dosa yang amat berat, namun teroris masih menganggap hal itu benar.

         Paham radikalisme yang sangat berbahaya ini menyebar di Indonesia memalui orang-orang yang memiliki kuasa dan dianggap pemimpin. Bahkan generasi penerus bangsa terancam akibat masuknya pemikiran radikal di bangku sekolah. Survey Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian mengungkapkan hampir 50% setuju tindakan radikal. 52.3%  siswa menyataka setuju dengan kekerasan untuk solidaritas dan 14.2% membenarkan serangan bom. Menurut guru besar UIN Jakarta, Azyumardi Azra, paham radikal telah menyusup ke sekolah menengah melalui guru. Ajaran kekerasan yang memuat kata-kata 'bantai’ dan ‘bom’ juga ditemukan di buku anak TK dan langsung ditarik setelah mendapat kritikan dari masyarakat.

         Pemimpin kelompok teroris, guru penyebar paham radikal, dan pemimpin lainnya merupakan contoh orang yang mimiliki kuasa namun tidak logika. Secara logika, paham radikalisme tidak memberi manfaat kepada persatuan Indonesia, namun kelompok tertentu tetap menganggap hal tersebut benar. Terlebih jika menyangkut politik dengan melibatkan masyarakat banyak, tindakan radikal dan persekusi  dapat menghilangkan hak azasi orang lain.

         Di tahun 2017 kasus Ahok menjadi kasus isu agama paling panas. Ahok selaku Gubernur DKI Jakarta saat itu dinilai telah menistakan agama Islam hingga beribu-ribu umat muslim berdemo setiap kali pengadilan Ahok digelar. Penggerak demo ini tentunya memiliki kuasa yang besar. Isu agama yang dilatarbelakangi politik inilah yang sangat berbahaya. Aksi demo tersebut secara tidak langsung telah membuat konflik semakin panas dan mengarah ke tindakan persukusi. Ahok tidak menghindari panggilan pengadilan dan selalu kooperatif, namun demo atas kasusnya selalu terjadi. Jika dipahami kembali, kesalahan dalam ucapan yang mungkin menista agama memang menyinggung beberapa pihak namun tidak merugikan masyarakat luas secara materi  maupun fisik seperti halnya koruptor  dan terorisme. Masalah serupa yaitu pencemaran nama baik dapat sangat merugikan orang lain, namun masalah agama adalah urusan perorangan dnegan Tuhan. Biarlah hukum negara dan hukum Tuhan yang mengadili.

         Persekusi meliputi serangkaian serangan kekerasan dalam bentuk ujaran lisan/tertulis, kekuatan fisik individual/massa, uang, atau otoritas jabatan terhadap yang diposisikan sebagai lawan. Persekusi dikatakan politis apabila terjadi secara sistematis dan radikal dalam operasionalnya sebagai suatu kebijakan dari pimpinan kelompok terhadap lawannya. Persekusi utamanya persekusi politis bukan tak mungkin akan marak terjadi dalam ajang pilkada 2018 dan pemilu 2019 mendatang. Menegingat Indonesia memiliki sistem multipartai, gesekan dan persaingan yang ketat dalam memperebutkan kekuasaan akan semakin tinggi akibat banyaknya blok-blok kelompok yang berbeda.

         Persekusi yang terjadi belakangan ini melibatkan media sosial untuk memburu orang-orang yang dianggap telah menghina kelompok tertentu, menginstruksikan massa untuk memburu target, lalu mendatangi secara langsung target di rumah maupun di kantornya untuk melakukan intimidasi yang mungkin berujung pada tindak kekerasan fisik. Kasus persekusi akibat dari kicauan media social dialami dokter Fierra Lovita di Solok, Sumatera Barat. Fierra dianggap menghina ulama Habib Rizieq. Ratusan orang mendatangi rumahnya yang membuat Fierra merasa terancam jiwanya dengan tindakan persekusi tersebut.

         Presiden Indonesia, Jokowi, sudah mengecam tindakan persekusi yang merupakan tindakan melawan hukum negara Indonesia. Beliau, saat berada di Universitas Muhammadiyah Malang, menegaskan bahwa persekusi sangat berlawanan dengan azas hukum negara. Jadi perorangan atau kelompok maupun organisasi apapun itu tidak boleh main hakim sendiri.

         Pemikiran yang radikal dan “buntu akal sehat” mendorong terciptanya tindakan persekusi. Akan sangat berbahaya ketika persekusi bernuansa politik disulut oleh pemimpin golongan tertentu dengan memanfaatkan perbedaan yang ada di Indonesia. Hidup di lingkungan multikultural seharusnya kita dapat belajar bahwa perbedaan adalah hal yang wajar. Satu sama lain harus saling menghargai tanpa memaksakan apa yang dianggap benar untuk dipercayai oleh orang lain. Disanalah akan tercipta toleransi demi kehidupan yang rukun dan damai dalam perbedaan.

         Musuh manusia adalah dirinya sendiri. Secara alami manusia memiliki sisi untuk mementingkan keuntungan pribadinya. Kekuasaan membuat sebagian besar orang menjadi lebih egois. Keegoisan yang didukung oleh kuasa inilah yang harus dilawan dengan akal sehat agar tidak sampai merugikan pihak lain. Dimanapun posisi kita sebagai masyarakat baik pemimpin, tokoh berpengaruh, dan pengikut, janganlah sampai “buntu akal sehat” ketika bertindak. Pemimpin dan tokoh yang dipercaya oleh banyak orang, jagalah daya intelektual dan jangan sampai menyebar paham-paham radikal. Seorang berpengaruh yang memiliki kuasa mungkin dibutakan oleh egoismenya, namun sebagai seorang pengikut yang masih mempunyai logika, kita hendaknya memilah terlebih dulu arahan mana yang baik dan buruk untuk diikuti. Kerena dia yang membicarakan perbedaan bukanlah bagian dari Indonesia dan NKRI.