Kesalahan logika sempat menjadi tema atau topik yang hangat dibicarakan sejak kasus politik agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atau biasa disapa Ahok, ia membuat pidato yang menggunakan kata-kata kontroversi soal al-Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu, Jakarta. Efeknya adalah Gerakan besar umat Islam yang menjadi buntut dipenjaranya Ahok selama dua tahun, Gerakan itu sering disebut 411 dan 212.

Selain logical fallacy, isu bias kognitif juga merupakan hal yang menarik dalam kajian atau diskursus filsafat. Oleh karenanya, seorang pakar filsafat dari Jogja yang belakangan masyhur karena penyampaiannya yang lembut dan mudah dipahami yakni Fahruddin Faiz menulis buku “Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika”, ia juga membuat filsafat jadi banyak digemari dan digandrungi, baik oleh kalangan akademis maupun masyarakat umum, dengan sekian banyak karya-karyanya yang tersebar di Indonesia.

Buku ini memaparkan soal logika, mengurainya secara cerdas dari hal-hal rumit menjadi sederhana, khususnya di bagian “kesalahan berpikir”. Sebagaimana kesaksian sang Author bahwa pertimbangan awal penulisan buku ini adalah berangkat dari suatu asumsi tentang belajar logika; “berpikir itu asal tidak salah, berarti benar”. 

Manut pada asumsi tersebut berarti dapat disimpulkan bahwa belajar logika dan mempraktikkan logika itu dapat dilakukan dengan cara mengetahui lebih dahulu tentang apa model-model berpikir yang salah, lalu berusaha untuk tak terjebak di sana atau berupaya untuk menghindarinya.

Pembuatan dan penulisan buku ini memiliki misi yang tak terlalu muluk-muluk, sekadar untuk menyadarkan bahwa kekuatan berpikir itu memiliki kelemahan meski kita sering membangga-banggakannya, bahkan ia mudah tertipu, mudah teralihkan, terjebak atau terperangkap serta jauh dari kebenaran. 

Apabila kita kehilangan kehati-hatian atau tidak waspada, maka sangat memungkinkan kita jatuh pada kelemahan-kelemahan tersebut, namun anehnya merasa benar atau pasti benar, namun kenyataannya tidak demikian adanya.

Adapun strategi penyusuan buku ini itu menggunakan gaya dan struktur yang sederhana, mengikuti prinsip sebisanya penulis. Tapi dari segi eksternal justru mengurai yang “complicated” menjadi “simple”. Cara kerja penyusunan buku ini lebih banyak berupa penjelajahan terhadap berbagai referensi yang relevan, lalu memilih dan memilah (secara intuitif) kesalahan-kesalahan yang paling sering terjadi di sekeliling kita dan dalam keseharian kita yang biasa saja.

Langkah berikutnya adalah mendeskripsikan maksud kesalahan-kesalahan tersebut dan menambah beberapa contoh berupa ilustrasi dari kejadian sehari-hari untuk semakin mempermudah pemahaman dan daya tangkap kita sebagai pembaca. Dalam bahasa atau istilah yang lebih akademis, buku ini disusun dengan metode klasifikasi-seleksi-deskripsi dan ilustrasi.

Bayangan sang Author soal buku ini adalah betapa kasihan dan prihatinnya orang-orang dalam masyarakat kita hari ini yang dihujani, dihantami, ditimpa dengan aneka ragam materi digital dalam bentuk informasi, berita, petuah, provokasi, teori dan juga caci maki tentang apa pun dan dari siapa pun.

Mereka yang betah di dunia maya, tiada bosan dengan media sosial. Dalam genggaman mereka setia menemani yakni genus gadget yang kadang smartphone, tablet, laptop dan lain-lain. Hidupnya diisi dengan detik-detik dalam jaringan (daring/online). Selalu berhubungan satu sama lain dalam situasi komunikasi jarak jauh.

Tanpa memiliki kemampuan yang tangguh dalam menghadapi beragam jenis kesalahan berpikir, penulis buku ini khawatir akan daya tahan dan kesehatan intelektual-mental dan bahkan spiritual orang-orang ini. 

Kelemahan menghadapi kesalahan berpikir ini lebih berbahaya dibanding sekedar kebodohan atau ketidaktahuan, karena bodoh dan tidak tahu itu hakikatnya hanyalah satu tahap menuju kepahaman akan pengetahuan, sedangkan kesalahan berpikir ialah sesuatu yang membawa pada rasa sudah benar atau rasa telah paham tanpa kesadaran bahwa situasi dan kondisi sebenarnya adalah jatuh pada kekeliruan dan kesalahpahaman.

Penulisnya berharap bahwa dengan adanya buku ini di tengah masyarakat dan di kalangan akademis terutama mahasiswa, akan sedikit membantu mengurangi kegelisahan tersebut, meningkatkan level literasi serta wawasan mereka dalam berpikir juga dalam berfilsafat. Ia juga mengharapkan terjadinya kesadaran bagi mereka yang di sebutkan di atas agar muncul kesadaran (awareness) untuk hati-hati dan waspada dalam berpikir, dalam menyusun kesimpulan, dalam mengambil keputusan.

Sebab kehati-hatian dalam berpikir itu melahirkan daya kritis, kewaspadaan dalam berpikir akan mendorong munculnya daya skeptis, sedangkan kedua daya tersebut akan membuahkan pertanyaan-pertanyaan menyelidik tentang kebenaran dan ketepatan sesuatu, yang mana akan menjadi pembuka tersingkapnya hakikat kebenaran.

Keunikan tambahan yang jadi karakteristik buku ini di antaranya adalah di bagian awal sebelum masuk ke pembahan inti yakni “bias kognitif” dan “kesalahan berpikir” itu dilengkapi undang-undang atau aturan yang mesti jadi pegangan bagi pembaca, terdiri dari lima pasal yang komprehensif.

Pasal 1: “Manusia adalah binatang yang berakal budi”.

Pasal 2: “Barang siapa yang ingin belajar berpikir runtut, jernih, dan dapat dipahami, logika adalah kunci”.

Pasal 3: “Logika menuntun manusia berpikir dengan benar, menemukan dasar keputusan paling masuk akal, dan mendeteksi salah-cacat dalam mengambil keputusan”.

Pasal 4: “Logika menjadi penopang kehidupan manusia sepanjang sejarah dalam membangun peradabannya”.

Pasal 5: “Berpikir juga bisa salah, itulah mengapa kita harus serius belajar logika, juga mengenali jenis kesalahan berpikir”.


Identitas Buku:

Judul Buku: Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika

Penulis: Fahruddin Faiz, Penerbit: MJS Press Yogyakarta

Tahun Terbit: 2020, ISBN: 978-623-91890-4-4

Jumlah Halaman: 224 Hal.