"Baik pendatang maupun penduduk asli Kalimantan, berbaur saling tukar pengalaman yang bertujuan utama menebar kebaikan."

Paru-Paru Terbalik

Pulau Kalimantan salah satu pulau di Indonesia yang sering dikenal sebagai paru-paru dunia, berkat kekayaan flora dan faunanya yang relatif masih berlimpah.

Peran flora, tanaman yang tumbuh di Kalimantan menjadi dasar penamaan sebagai paru-paru dunia.

Karena, ibarat fungsi paru-paru yang menebar oksigen dalam tubuh manusia yang diperlukan untuk bermetabolisme, agar manusia tetap hidup dan berkembang.

Bumi juga demikian, tanpa paru-paru bakal kekurangan gas udara yang diperlukan bagi makhluk hidup di dalamnya.

Tanpa flora, bumi lama kelamaan layu, kering kerontang dan bakal ditinggalkan oleh manusia ke planet lain yang lebih nyaman, puluhan ribu tahun cahaya jauhnya.

Sebetulnya, penamaan sebagai paru-paru dunia untuk mengibaratkan kelimpahan flora di Kalimantan, kuranglah tepat.

Karena, fungsi paru-paru itu menghirup Oksigen (O2) dan mengeluarkan Karbon Dioksida (CO2) atau disebut gas asam arang.

Sebaliknya, tanaman atas peran Khlorofil, zat hijau daun atas paparan sinar matahari, merubah CO2 dan air (H2O) menjadi Karbohidrat dan O2.

Flora merubah CO2 menjadi O2, kebalikan paru-paru.

Dengan demikian ditinjau dari fungsi kelimpahan flora di Kalimantan, maka seharusnya penamaan pulau ini bukan sebagai ‘paru-paru dunia’, melainkan ‘paru-paru terbalik dunia’.


Ciptaan Maha Jenius

Memperkaya mindset tentang keberadaan O2 sebagai satu-satunya gas terpenting untuk kehidupan dalam bumi, memanglah perlu.

Bahwa kandungan udara sekitar (ambien) itu terdiri dari Nitrogen (N2) sebanyak 78%, Oksigen (O2) sebanyak 21%, Argon (Ar) dan gas lainnya sebanyak 1%.

Justru kandungan N2 ternyata dominan dalam udara bebas di permukaan bumi, bukan O2.

Betapa Dia adalah Dzat Yang Maha Jenius. Manusia diciptakan bisa hidup nyaman dalam bumi dengan komposisi gas udara bebas tersebut.

Nitrogen adalah gas bersifat innert, tak mudah bereaksi. Sangat berfungsi agar semua makhluk hidup bisa hidup nyaman di bumi.

Adapun O2 meski dibutuhkan bagi metabolisme, namun bersifat mudah terbakar.

Jika bumi hanya berisikan O2 dalam komposisi udara bebasnya, maka bumi bakal menjadi tempat yang tak nyaman, karena mudah terbakar.

Hendak bikin kopi, pas menyalakan kompor, sontak apinya bisa langsung menyambar kemana-mana. Hitam kopinya, hitam pula orangnya.


Malam Bermesraan

Baik N2 maupun O2, keduanya dihasilkan oleh tanaman. Oleh karenanya, mempertahankan kelimpahan flora juga fauna agar ekosistem dalam bumi tetap seimbang adalah penting.

Oksigen dihasilkan dari proses fotosintesis siang hari.

Sementara Nitrogen dihasilkan saat tanaman menjalani proses asimilasi di malam hari.

Kedua proses ini menjawab mengapa siang hari manusia giat bekerja, juga bersantap. Sementara saat malam hari lebih mengantuk tekluk-tekluk. Kodrat manusia memanglah demikian.

Tak hanya karena malam hari matahari tak menunjukkan sinarnya, melainkan paparan gas N2 yang alamiah dihasilkan tanaman saat malam hari. 

Nitrogen, selain tak mudah bereaksi juga bisa memberi kenyamanan.

Keberadaan Nitrogen dalam bumi yang dihasilkan saat malam hari, menjadi satu pesan alam. Bahwa siang hari adalah waktu yang tepat bagi manusia untuk bekerja. Sementara malam hari adalah waktu beristirahat dan bercengkerama bersama keluarga.

Oleh karena itu, sistem kerja shift malam itu melawan kaidah alam. Manusia dalam kondisi nyaman jelang mengantuk, kok malah disuruh kerja.

Malam-malam bagi manusia, paling enak ya bermesraan bareng pasangan hidup tercinta.


Peluang Perantauan

Peran pulau Kalimantan yang berlimpah flora, juga menjadi magnet tersendiri bagi para pendatang dari pulau-pulau lain di Indonesia.

Tak hanya nyaman untuk merajut masa depan, namun juga untuk berkarya menekuni suatu pekerjaan.

Asal usul pendatang yang beragam di pulau Kalimantan, turut pula memengaruhi terjadinya pengkayaan budaya, ilmu pengetahuan termasuk cara mengolah masakan.

Baik pendatang maupun penduduk asli Kalimantan, berbaur saling tukar pengalaman yang bertujuan utama menebar kebaikan.

Dalam hal urusan masakan, para pendatang saat sejenak kembali pulang, bakal berkisah kehebatan dan keunikan aneka olahan masakan khas Kalimantan kepada sanak saudaranya di kampung halaman.

Mencoba menawarkan olahan masakan dari kampung halaman ke Kalimantan pun lalu menjadi peluang.

Peluang pun berubah nyata sekaligus menjadi media berinteraksi antara pendatang dan penduduk aseli Kalimantan dalam balutan suasana yang membahagiakan, yaitu bersama menikmati masakan.


Rumah Kayu

Saya tak menyangka dalam perjalanan pulang kembali dari daerah Angsana Tanah Bumbu Kalimantan Selatan menuju Banjarbaru.

Setiba di daerah Asam-Asam jauh dari pemukiman di sebelah kanan samping jalan raya, dalam kecepatan kendaraan sekitar 60-an km/jam, sekelebat pandangan mata saya membaca tulisan ‘Lodho’.

Kendaraan yang kami tumpangi pun telah bablas sekitar 300-an meter lebih dari tulisan ‘Lodho’.

Lalu dengan sopan saya minta tolong mas pengemudi memperlambat laju kendaraan dan berputar balik ke satu bangunan kayu, demi meyakinkan penglihatan saya bahwa tulisan yang terpampang pada papan kayu di depan bangunan kayu itu benar-benar terbaca ‘Lodho’.

Sampai tujuan, kendaraan di parkir depan rumah kayu, saya turun melanjutkan bacaan ‘Lodho’ selengkapnya menjadi sebuah kalimat; ‘Warung Tulung Agung, Ayam Lodho’.

Rumah kayu itu, sebuah warung ternyata!

Penampilan Warung Ayam Lodho Khas Tulung Agung di Pedalaman Kalimantan Selatan.

Pas memang. Waktu itu masih perlu sekitar 4 jam lagi tiba ke Banjarbaru.

Tak ada salahnya, jika rehat sebentar setelah sekitar 2 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan, kami cukup menikmati cemilan biskuit dan air mineral. Penghuni perut yang terbiasa diisi nasi pun sebenarnya berunjuk rasa, meronta sejak awal kendaraan memutar roda.

Nasib membawa saya dari permenungan tentang 'paru-paru terbalik’ dunia, pertukaran budaya dan pesona Kalimantan sebagai tempat merajut masa depan, ke sebuah warung rumah kayu penyedia olahan khas Tulung Agung Jawa Timur, berupa masakan Ayam dalam format Lodho.


‘Ctak! Nyaman

Di daerah asalnya, Tulung Agung, satu kota di jawa Timur  yang terkenal sebagai kota marmer, maka masakan Ayam Lodho sangat dihormati, bahkan menjadi sajian andalan pada acara syukuran. 

Bumbu-bumbu lengkap (pepak) Ayam Lodho mewakili kebersyukuran atas karunia limpahan alam dari Sang Pencipta.

Disebut Ayam, karena memang bahan utamanya ayam kampung.

Disebut Lodho karena daging ayamnya sangat empuk.

Bahkan, daging ayamnya bisa copot dari tulangnya, bagai celana kolor kedodoran. Berkat metode dua kali memasak ayam, yaitu dibakar lalu direbus santan dan bumbu pepak lainnya dalam kuali tembikar, tanah liat berapi kayu.

Di Dalam Kuali Besar, Ayam Lodho Berkuah Santan Telah Matang. Ramah Tersaji Bagi Siapa pun yang Bertandang.

Lodho juga bermakna sangat melezatkan karena selain dua metode olahan di atas, juga dampak bumbu pepaknya yang membuat lidah penikmatnya menggeliat-geliat, meski ditampar-tampar oleh cita rasa pedas nan sensasional.

Kami menikmati setiap kisi-kisi kulit, otot, tulang lunak ayam Lodho dengan sempurna tiada tersisa, bersanding nasi putih pera organik khas Kalimantan Selatan.

Sebagai pemadam kebakaran dalam ujung lidah dan rongga kerongkongan, cukuplah dengan gelontoran air teh tawar hangat.

Lidah kami pun bertualang dalam sensasi cita rasa lengkap. Bergoyang ke kanan, kiri, atas, bawah, lalu ditarik modod ke depan, terus mendadak dilepas jepret balik ke dalam mulut.

‘Ctak!

Sungguh perjalanan yang membahagiakan. Paduan sempurna akan permenungan dan kenyataan.

Tuntas, kami lalu berpamitan dengan Ibu pemilik warung, sekaligus pemasak Ayam Lodho. Beliau berusia 70-an tahun, sangat ramah berbahasa Jawa kromo inggil.

Kembali masuk kendaraan roda empat yang dipacu dengan kecepatan tak begitu terburu-buru menuju Banjarbaru.

Perut telah merasa bahagia, saya pun duduk mengambil posisi lega. Sengaja kancing celana saya lepas, biar longgar, lodho.

Lega.

Lantas saya menyadari, bahwa Lodho juga bermakna nyaman.