Jakarta, Covid-19 makin tinggi, Covid-19 kian melonjak, Covid-19 makin merajalela, Covid-19 tiap hari kasus bertambah, pembatas wilayah di perketat, penertiban Prokes "Protokol kesehatan" makin banyak pelanggaran, masyarakat semakin binggung?

Tensi Covid-19 makin naik, seperti penyakit hipertensi atau darah tinggi "naik turun dan naik turun lagi" sebentar-sebentar sembuh dan sebentar-sebentar kambuh lagi. Rentan sekali terhadap tertular Covid-19 terkait situasi tidak menentu terutama kasus Covid-19 yang kian mencekam.

Sesuai dengan data dari laman "Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Eknomi Nasional, menyatakan masyarakat yang terdampak positif 1.989.909 juta/orang, proses sembuh 1.792. 528 juta/orang, dan korban yang meninggal 54.662 orang. Selasa (22/6/2021). 

Seiring berjalannya waktu kita mengetahui data Covid-19 memang betul adanya begitu terhitung dari sejak awal bulan maret tahun 2020 lalu. Namun sampai saat ini masih terus bertambah kasus Covid-19 dan solusi saat ini proses vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah.

Covid-19 sudah berjalan hampir 1,5 tahun, sampai saat ini masih belum menemukan solusi yang signifikan. Segala upaya sudah dilakukan oleh pemerintah namun satu hal yang belum dilakukan yaitu "lockdown" apakah ini akan berhasil, belum tentu juga karena belum terlaksana?

Plaksanakan "lockdown"  tentu menjadi pertimbangan pemerintah dalam berbagai aktivitas masyarakat? Hal ini perlu menganalisa terhadap kebutuhan dan kepentingan masyarakat, bila terjadi lockdown tentunnya situasi dalam keadaan darurat semua kegiatan akan dihentikan semua kecuali kesehatan, telekomunikasi, perbankan, media, food and drink, dan utility

Solution mitigasi penanganan Covid-19 yang terakhir adalah lockdown setelah vaksinasi. Dari beberapa pencegahan dan pengawasan yang sudah diterapkan masih belum ampuh mengusir "Virus Corona". Menjadi challange untuk pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah yang kongkrit dengan melakukan lockdown.  
***
Sebagai rileksasi untuk kita semua, protokol kesehatan dari "3M hingga 5M" sudah diterapkan masih banyak temuan pelanggaran, dan pemberlakuan "PSBB hingga PPKM Mikro" masih banyak kucing-kucingan dengan petugas atau aparat gugus tugas Covid-19.
***
Dari Rapit Test, Sherology, Swab Antigen, GeNost hingga Vaksinasi. Masih banyak argumen pro dan kontra masyarakat menolak vaksin karena tidak aman berdasar info "fakta atau hoaks" sulit dibedakan , pemalsuan hasil Swab, dan lain sebagainya. Ini menjadi fenomena seakan-akan mempengaruhi masyarakat untuk tidak melakukan vaksinasi dan deteksi Covid-19 lainnya.

Nah, sekarang bagaimana bila lockdown sudah dilaksanakan, namun Covid-19 masih meningkat. Tentunya hal ini lebih mudah mengevaluasinya terutama dalam kegiatan masyarakat umum. Anggap saja yang paling tinggi penyebarannya "kerumunan dan mobilitas" ini bagian dari protokol kesehatan yang paling cepat menular Covid-19 kepada masyarakat luas.
***
Dalam point penerapan protokol kesehatan agar tidak terjadi penularan Covid-19 adalah "menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas"artinya salah satu pencegahan efektif melakukan lockdown, walaupun saat ini pemerintah sudah menerapkan "semi lokdown" namun upaya ini belum berdampak positif terhadap penanggulangan Virus Corona.
***
Sebagai evaluasi "semi lockdown" adalah bahwa masyarakat masih belum disiplin menerapkan protokol kesehatan "3M dan 5M" sedangkan dari sudut pandang pemerintah masih belum tegas dan merata untuk menempatkan gugus tugas Covid-19. Sehingga masih banyak celah yang dilanggar terutama kurang pengawasan dari gugus tugas Covod-19.

Analisa setelah di lockdown masih melonjak kasus Covid-19 perlu melakukan pengecekan apakah masyarakat sudah di vaksinasi, analisa terhadap profesinya apakah berhubungan dengan keramaian, analisa apakah ada penyakit bawaan, analisa lingkungan tempat tinggalnya, dan lain sebagainya.
****
Dengan demikian, tidak menjadi alasan dari masyarakat kenapa tidak di lockdown. Jika ada yang mengalami gejala sakit atau berobat ke rumah sakit kemudian meninggal dunia tidak harus dinayatakan meninggal Covid-19. Bisa saja berdasarkan analisa diatas, karena alasan dari masyatakat tersebut "vaksinasi, penyakit bawaan, profesi, dan lingkungan tempat tinggal".

Selanjutnya, sebagai data tambahan Negara yang sukses penanganan Covid-19 tanpa lockdown dan Negara yang melakukan lockdown karena membasmi Covid-19. Bisa saja pemerintah Indonesia memilih antara keduanya lockdown atau tidak melakukan sama sekali, itu tergantung keputusan dan pertimbangan pihak yang berwewenang terutama  pemerintah pusat.

"Negara yang sukses penanganan Covid-19 tanpa lockdown Selandia Baru, Republik Ceko, Jerman, Dermark, dan Kepulauan Karibia. " liputan6.com" oleh Teddy Tri Setio Berty (20/4/2020).

"Negara yang melakukan lockdown demi membasmi dan memberantas kasus Covid-19 adalah Belanda, Turki, Jepang, Korea Selata. "detik.com" oleh Tim detik.com-detik.news (16/12/2020).

Data ini sebagai ilustrasi untuk melakukan penanganan dan pencegahan kasus Covid-19. Sehingga keberhasilan Negara lain bisa dijadikan contoh untuk Negara Indonesia, karena ini sudah solusi akhir bila kita melihat dari perkembangan Negara lain, sudah merasa aman dan bebas dari Kasus Covid-19. Walaupun ada kasus Covid-19, tidak signifikan melonjak banyak.