Arsiparis
1 tahun lalu · 72 view · 3 menit baca · Pendidikan 45781_14619.jpg

Literasi Sekolah Menjawab Tantangan Zaman

Sekolah sebagai tempat menumbuhkan semangat pembelajaran sepanjang hayat. Bisa jadi inilah tantangan terbesar sekolah dalam mencetak kader bangsa.

Biar bagaimanapun sekolah haruslah menyenangkan sehingga warganya menjadi warga yang selalu haus informasi dan pengetahuan. Sekolah jangan malah mematikan semangat tersebut karena terlalu kaku dengan aturan aturan yang menakutkan. 

Memang sekolah adalah tempat mendidik sekaligus mengajar bagi guru, namun membuka dan menumbuhkan antusiasme untuk belajar itu saya rasa lebih utama. Siswa harus menikmati suasana sekolah yang pada akhirnya menumbuhkan semangat berekemajuan baik ruhani maupun fisiknya. Sekolah harus tanggap dengan masivnya serbuan informasi yang bisa diakses siswanya dengan membekalinya dengan ilmu memilih dan memilah informasi itu.

Kita masuk di era banjir informasi. Kemajuan teknologi Informasi yang begitu pesat membuat orang mendapat informasi melimpah ruah. Informasi yang cepat, mudah dan murah  membuat kita  lebih sering mengakses informasi, dengan kata lain kita dikepung dan dipaksa menerima informasi. Sampai sampai membludaknya informasi tersebut membuat orang bingung mana yang dapat dipercaya dan bisa dipakai manfaatnya.

Kini,  asal sesuatu itu  tertulis di media dan kita bisa membacanya  sekaligus mengonsumsinya, tak peduli apakah informasi tersebut  berguna atau tidak kita bisa mengonsumsinya. Seolah kita diserang dengan berjuta data untuk kita gunakan meski seringkali kita bingung mau menggunakan informasi yang mana yang tepat untuk kita.

Menjawab tantangan ini, sekolah harus bisa menyajikan sumber informasi yang kredibel yang bisa diakses oleh warganya sehingga mereka terbiasa kritis karena kebiasaan membaca yang tinggi. Selain itu, di lingkungan sekolah dibiasakan juga untuk menulis agar bisa berfikir terstruktur dan memudahkannya memahami sebuah bacaan yang telah dikonsumsinya.

Literasi Informasi adalah syarat utama memasuki dunia banjir informasi. Ini dikarenakan karena Literasi Informasi mampu membuat kemampuan seseorang untuk menyadari kebutuhan informasi dan saat kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi yang diperlukan, mengorganisasikan dan menggunakan informasi tersebut untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan. 

Literasi Informasi berkaitan dengan pemakaian informasi  secara efektif dan efisien. Di era media online yang semakin berkembang kemapuan literasi informasi menjadi penting agar kita tidak kebanjiran informasi sampah. Dan yang lebih fatal lagi apabila kita termakan hoax.

Berdasarkan hal tersebut di atas,  literasi bukan hanya soal membaca. literasi lebih luas cakupannya karena literasi menunjukkan  kemampuan seseorang dalam mencari informasi, dimana lokasi informasi tersebut dan mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengatasi persoalan setelah dievaluasi secara matang. 

Seseorang yang terliterasi mempunyai tiga syarat minimal hingga seseorang tersebut dianggap terliterasi.

Pertama, Sesorang harus bisa mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. Ketika membutuhkan suatu data terkait dengan keputusan yang diambil orang tersebut harus bisa secara cepat menetukan lokasi keberadaan di mana informasi tersebut berada. Di tahap ini, penguasaan lokasi tempat dan cara informasi didapatkan mutlak harus diketahui.

Kedua, ketika informasi sudah didapatkan, orang tersebut harus bisa mengidentifikasi dan mengevaluasi secara kritis apakah informasi tersebut bisa dipercaya dan mempunyai nilai guna untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan. Apakah informasi yang didapatkan sudah sesuai dengan kebutuhan? di sini kemampuan seseorang dalam menguasai sesuatu bisa dilihat jika ia mampu menyederhanakannya dalam sebuah tulisan.

Ketiga, apabila sudah dirasa valid dan dapat dipercaya, orang tersbut harus mampu menggunakan informasi tersebut secara kreatif dan akurat. Dengan kata lain orang tersebut harus mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengembangkan kompetensinya agar mudah mengatasi persoalan hidupnya. Diharapkan dengan kreatifitas baru dapat ditemukan informasi baru yang melengkapi informasi  yang didapatkan sebelumnya. Proses inilah yang menjadi sintesa saat orang tersebut menuliskannya kembali.

Dengan standar minimal di atas bisa dikatakan bahwa seseorang sudah bisa dianggap terliterasi dan bisa melakukan proses belajar sepanjang hayat secara mandiri.

Di era internet ini, sekedar tahu, bukan lagi membawa manfaat bagi seseorang. Yang lebih penting adalah apakah kita bisa menggunakan informasi itu untuk mengembangkan potensi pribadi kita menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Tentunya itu semua bisa dilakukan jika kita mampu menuliskannya kembali dan dapat dikonsumsi orang lain.

Last but not least, Sekolah adalah sebuah ekosistim pembelajaran tentunya selepas dari situ mental pembelajar haruslah semakin tumbuh bukan malah teralienasi dengan informasi pada saat warganya lepas ke dunia yang sesungguhnya. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan adalah tantangan untuk menciptakan masyarakat yang terliterasi. 

Pengetahuan bukan lagi sekedar hafalan namun menuangkan kembali menjadi sebuah tulisan adalah sarat pertama seseorang dianggap terliterasi. Mampukah sekolah kita menjawab tantangan itu?

Artikel Terkait