Berbagai bencana alam mendera tanah air  belum lama ini. Meski hampir setiap tahun fenomena alam tersebut seperti tidak pernah absen terjadi. Bencana alam memang terlalu akrab dengan negeri ini. Namun, bila dicermati dari keakraban peristiwa bencana, ternyata belum diikuti tingkat mitigasi masyarakat yang mumpuni. Masyarakat masih cenderung bingung soal langkah-langkah penanganannya. Apa yang harus dibuat? Bagaimana tindakannya? Sementara bencana hadir tak pernah menunggu apakah kita siap atau tidak.

Seperti bencana banjir yang terjadi di suatu wilayah belum lama ini, yang sempat diekspos melalui salah satu akun IG. Terlihat seorang wanita terpaksa meminta tolong lewat bantuan live streaming di media sosial ketika terjebak banjir di rumahnya. Pada postingan itu, si wanita ini seperti sudah pasrah, karena tidak tahu harus berbuat apalagi. Harapannya, dari cara itu akan datang bala bantuan. 

Seandainya saja, si wanita ini memiliki bekal pengetahuan mitigasi bencana, pastinya ia tak akan berdiam diri. Karena ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, pasti ia akan segera bergegas melakukan evakuasi mandiri, dengan mencari tempat yang lebih aman. Namun karena minim pengetahuan, alih-alih menyelamatkan diri, yang ada ia lebih memilih bertahan, padahal cara itu sangat berisiko dari ancaman banjir.

Persoalan minim literasi mitigasi juga masih ditemui pada peristiwa bencana gempa. Banyak korban jiwa akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Gempa bumi di Majene di Sulawesi Barat medio Januari lalu contoh konkritnya. Puluhan korban meninggal akibat tertimbun bangunan yang roboh. Itu karena, kondisi bangunan yang dikabarkan belum memenuhi standar bangunan tahan gempa. Seharusnya masyarakat dibekali pengetahuan tentang membangun rumah itu harus sesuai standar penahan gempa, yakni memiliki struktur bangunan yang simetris, memiliki struktur pondasi yang kuat, terbuat dari beban material rumah yang minimal, serta menggunakan beton bertulang.

Atau pun dengan sejumlah persiapan lain untuk antisipasi seandainya gempa terjadi. Seperti lakukan pengecekan potensi bahaya rumah, dengan melekatkan lemari secara aman pada dinding. Selain tempatkan barang besar dan berat di bagian bawah lemari, letakkan barang pecah belah di bagian yang rendah dan tertutup. Termasuk gantungkan barang berat seperti pigura, foto atau cermin jauh dari tempat tidur, sofa atau tempat di mana orang duduk. Dan pastikan lampu yang ada di langit-langit rumah terpasang kuat. Maka kemungkinan timbul korban meninggal, bisa diminimalisir.

Setali tiga uang dengan peristiwa bencana lain, tanah longsor termasuk langganan yang sering terjadi di negeri ini, dengan korban meninggal yang tidak sedikit. Bahkan data BNPB menyebut bahwa sepanjang awal 2021 ada sebanyak 41 korban yang meninggal akibat tanah longsor. Jumlah itu, jadi kedua terbanyak setelah korban meninggal yang dipicu bencana gempa. Lagi-lagi, ketangguhan masyarakat tentang mitigasi jadi kata kunci. Karena kurang pengetahuan, sehingga masih sering ditemui masyarakat yang membangun rumah di kemiringan lereng yang agak terjal hingga terjal. Padahal sangat tidak disarankan apabila kita ingin aman.

Apalagi kondisi tanah di lereng tersebut sangat labil dan gembur. Peristiwa bencana tanah longsor di Kabupaten Sumedang awal Januari lalu yang menelan korban jiwa mencapai puluhan orang, itu terjadi di lokasi pemukiman yang terletak di lereng perbukitan. Belakangan, pemerintah daerah setempat menyatakan bahwa komplek perumahan di wilayah yang terkena bencana tanah longsor tidak layak dijadikan hunian.

Dengan sejumlah fakta ini, boleh dikata, literasi mitigasi bencana masih jauh dari kata paripurna. Tak paham soal mitigasi, maka akan terus bertemu dengan masyarakat awam soal kesiapsiagaan. Kala bencana tiba, bekalnya hanyalah kepanikan. Jangankan kita bicara peristiwa bencana itu sendiri, pemicunya saja semisal hujan deras, langsung muncul perasaan was-was, bingung, kuatir, dan sejurus kemudian yang ada hanyalah pasrah. Itu karena ketidaktahuan akan langkah-langkah penanganan bencana!

Hal itu pula menjadi gambaran bahwa kurangnya pemahaman tentang karakteristik bencana dan resikonya karena minim literasi, terimbas pada kurangnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman di lingkungan sekitarnya. Selain belum adanya pelatihan secara teratur, sehingga kewaspadaan dan kesiapsiagaan belum menjadi budaya.

Pernah saya berdiskusi dengan seorang kawan yang kebetulan bertugas di instansi yang bersentuhan dengan penanggulangan bencana. Kawanku itu mengungkap soal upaya yang telah mereka lakukan dalam meningkatkan mitigasi bencana masyarakat. Di mana melalui ragam edukasi, advokasi sekaligus memberikan literasi kepada warga tentang kebencanaan, termasuk dengan kiat membentuk satuan ketangguhan dari unsur terkecil. Itu penting karena daerahnya tergolong rawan bencana, ada sembilan jenis bencana yang pernah terjadi. Saya pun bertanya apakah itu sudah ideal? jawabnya, "Belum!Karena membangun literasi mitigasi yang ideal itu harus melibatkan berbagai sektor."


***

Mari kita tengok Jepang. "Negeri Sakura" ini termasuk negara paling rentan terdampak bencana alam. Gempa bumi, tsunami, taifun, banjir, longsor, badai salju, dan letusan gunung api adalah fenomena-fenomena alam yang pernah terjadi di negeri matahari terbit tersebut. 

Namun hakikatnya, Jepang telah mem-build konsep sekaligus praktik meningkatkan mitigasi. Seperti melalui siaran tv, di mana semua tv di Jepang langsung beralih pada siaran gempa yang bertujuan agar warga memperoleh informasi cukup untuk tetap aman. Dengan pelatihan di sekolah, para pelajar telah diajari tentang bagaimana cara menghindari ancaman bencana, seperti bencana gempa bumi. 

Sistem peringatan gempa, di mana semua handphone di Jepang memiliki sistem peringatan gempa atau tsunami yang dipasang. Disamping telah ada sistem pencegahan bencana terpadu yang untuk memberikan panduan luas tentang cara bertahan hidup saat terjadi bencana.

Dan tak kalah penting, saling bahu-membahu dengan membangun kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta sebagai bentuk persiapan sebelum bencana. Ya, setidaknya inilah pola yang bisa dicontoh, karena ketika masyarakat masih awam, ujung-ujungnya panik. Jika panik, bisa-bisa menimbulkan korban. Jadi kalau tidak sekarang, kapan lagi?