Mahasiswa
1 bulan lalu · 30 view · 5 min baca menit baca · Budaya 94482_75126.jpg
Foto: Detik

Literasi Keluarga Meningkatkan Level Kehidupan Nyata

Saya masih ingat betul saat masih kecil sekitar umur enam tahun, saya lebih sering menghabiskan waktu dengan menonton televisi yang berupa kartun dan sesekali membaca buku kakak saya yang kala itu dia masih kelas dua sekolah dasar. 

Di keluarga saya memang tidak menerapkan budaya literasi tetapi pada saat itu saya masih gemar membaca buku agar bisa membaca lebih lancar dan bisa dikatakan keluarga saya tidak melek akan literasi. Bicara soal literasi keluarga,memang tidak semua orang atau keluarga menerapkannya, mugkin hanya beberapa persen saja dalam sebuah kota.

Literasi merupakan sebuah kemampuan guna untuk memahami, menganalisis, mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan ini dimaksudkan agar pembaca sebagai konsumen media (termasuk juga anak-anak) menjadi melek mengenai bagaimana media dibuat dan kemudian diakses. 

Seperti halnya dengan literasi keluarga merujuk pada metode pendidikan yang relatif masih baru. Mengapa demikian?. Karena  istilah literasi keluarga merupakan sub bagian dari literasi secara umum yang belum populer di Indonesia.

Padahal beberapa negara telah mengimplementasikan literasi keluarga di antaranya USA, Kanada, dan Afrika Selatan. Sangat disayangkan jika indonesia belum juga dapat menerapkan budaya literasi keluarga ini.   

Mengingat pentingnya budaya literasi bagi bangsa, hendaknya literasi dikembangkan dalam keluarga. Hal ini karena keluarga merupakan suatu miniatur pendidikan utama dalam merangsang pola perkembangan anak baik dari aspek intelektual, emosional, maupun spiritual. Salah satu di antaranya yang berkenaan dengan kecanggihan teknologi dan informasi yang kian melaju cepat seiring dinamika zaman.

Budaya literasi akan membentuk pendidikan karakter seorang anak dalam sebuah keluarga juga menjadikannya pemuda yang memiliki kematangan secara emosional, bijak dalam berpikir, dan kaya akan pengetahuan agamanya. 

Orang tua harus menjadikan buku sebagai teman akrab anaknya dan kertas sebagai media bagi anak untuk menemukan bakatnya seperti potensi untuk menjadi pelukis dan bahkan penulis seperti yang sedang saya lakukan saat ini.

Keluarga memberikan kesempatan bagi orang tua dan anak untuk berbagi pengalaman literasi/baca tulis yang baru dikembangkan. Orang tua dan anak berinteraksi bersama, mengintenskan hubungan mereka melalui pembelajaran timbal balik yang terjadi, memungkinkan mereka menjadi mitra sejati dalam pendidikan karena orang tua adalah guru pertama bagi anak anak yang menjadi motivasi dan penggerak baginya untuk melakukan dan mengenal sesuatu.


Secara bersamaan, kemampuan baca tulis anak sebagai seorang pelajar  menjadi unggul/lebih baik karena orang tua memberdayakan program literasi keluarga itu tadi. Ketika orang tua diberi wewenang, mereka akan menjadi pihak yang seumur hidupnya aktif dalam pendidikan anak-anak mereka.

Dengan memberdayakan program literasi keluarga, kita menyadari bahwa telah menjalankan satu diantara tri pusat pendidikan, buah pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu pendidikan di lingkungan keluarga. Berdasarkan prinsipnya maka dari itu, keluarga adalah bagian dari masyarakat yang memiliki peranan penting sekaligus menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan program tersebut.

Keluarga sebagai lembaga pendidikan mempunyai peranan penting dalam membentuk generasi muda yang memiliki fungsinya sendiri,  pertama edukasi, yaitu  keluarga sebagai wahana pendidikan pertama dan utama bagi anak-anaknya agar menjadi manusia yang sehat, tangguh, maju dan mandiri sesuai dengan tuntunan perkembangan waktu.

Kedua sosialisasi, yaitu keluarga mempersiapkan anak sebagai anggota masyarakat yang baik dan berguna kehidupan di masyarakatnya. Ketiga Proteksi, yaitu keluarga sebagai tempat memperoleh rasa aman, nyaman, damai dan tenteram bagi seluruh anggota keluarga. 

Keempat afeksi, yaitu  keluarga sebagai tempat untuk menumbuhkembangkan rasa cinta dan kasih sayang antara sesama anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya.

Di samping itu dalam menerapkan budaya literasi keluarga ini, kita harus mengetahui terlebih dahulu tantangan yang akan kita hadapi dalam upaya penerapan literasi keluarga ini yaitu aktivitas membaca masih belum dibiasakan dalam ranah keluarga. 

Orang tua hanya mengajarkan membaca dan menulis pada level biasa saja, serta belum terbiasa. Padahal, budaya literasi harus dibiasakan sejak kecil. Misalnya, membiasakan membaca cerita untuk anak atau mengajarkan menulis buku harian.

Budaya literasi dalam keluarga sebagai sebuah upaya guna menumbuhkembangkan karakter anak dalam menghadapi kehidupan sesuai dengan masanya. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan pemahaman terhadap beragam teks. 

Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi memunculkan berbagai macam teks berbasis IT (informasi dan teknologi) atau teks inovatif yang dengan keberadaannya melengkapi teks konvensional.

Keluarga akan menjadi kunci utama untuk menghidupkan budaya literasi yang dapat membatasi anak agar tidak hanya fokus dengan game yang ada di dalam gadget, yang hampir setiap detik atau menit selalu diakses. Sehingga anak bisa menggunakan waktunya untuk membaca buku di rumah bersama keluarga

Teknologi yang makin canggih turut andil meninggalkan budaya literasi di Indonesia. Seorang anak lebih suka bermain game online daripada membaca. Membaca jadi terasa menjemukan dibandingkan dengan bermain game online. Seorang anak yang kecanduan game online akan lebih senang menghabiskan waktunya untuk bermain game daripada melakukan aktivitas yang lain.


 Gejala dari kecanduan bermain game online dapat membuat seseorang cenderung egosentris dan mengedepankan individualis. Hal tersebut berbahaya bagi kehidupan sosial anak tersebut. Mereka akan jauh dari lingkungan sekitar dan mungkin dirinya beranggapan bahwa kehidupannya adalah dunia maya. Banyak diantara mereka dari golongan pelajar sekolah dasar sampai perguruan tinggi

Kecanduan ini biasanya disebabkan karena semakin tinggi level atau pangkat dalam sebuah game tersebut maka akan sangat sayang untuk ditinggalkan atau berhenti bermain, dan jika level atau pangkat lebih tinggi dari temannya maka akan semakin tinggi derajat seseorang tersebut, hal ini yang selalu ada di benak para gamer dan mereka banggakan setiap bertemu temannya.

Game online dimasa sekarang pun begitu populer dibandingkan buku di berbagai kalangan, pada saat anak memasuki masa sekolah permainan anak menggunakan dimensi baru yang merefleksikan tingkat perkembangan anak yang baru. 

Bermain sebuah game online akan menjadi sebuah kebanggaan bagi setiap pribadi si anak atau pun orang dewasa. Karena mereka lebih suka meningkatkan level di dunia game daripada meningkatkan level di dunia nyata.

Meningkatkan level di dunia game akan membuat mereka menjadi lebih bangga dan merasa sudah menjadi yang terbaik jika sudah mencapai yang lebih tinggi dari teman temannya. Meningkatkan level di dunia nyata dapat kita lakukan dengan menerapkan budaya literasi keluarga yang sedang kita bahas sekarang ini. Game online mempunyai dampak positif dan negatif bagi anak.

Dampak positif tersebut adalah dengan adanya game online siswa dapat memanfaatkannya untuk menyegarkan otak siswa setelah belajar. Sedangkan dampak negatifnya adalah kebanyakan siswa akan lupa waktu saat bermain game online sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bermain game online daripada belajar.

 Mengingat banyaknya game online pada zaman modern ini seharusnya kita bisa membagi waktu bermain game online dengan waktu belajar, sehingga waktu kita tidak terbuang sia-sia. Walaupun game online juga memiliki dampak positif, alangkah lebih baik kita meningkatkan level di dunia nyata untuk membentuk generasi yang memiliki kematangan secara emosional, bijak dalam berpikir, dan kaya akan pengetahuan agamanya.  

Artikel Terkait