"Besok saya mau touring bersama kawan literasi, kak. Ke NP dan beberapa titik taman baca di Majene,” kata Mila dalam japrinya di WhatsApp (WA) padaku.

Aku hanya berkata, “Ow iye,” balasku pendek.

“Kak, ayo ikut. Mila minta kakak memantik jiwa menulis dan sharing pengalaman menulis juga.”

“Hah? Besok?” kataku kaget. Kaget karena diajak ikut bergabung dalam touring dan jadi pemantik.

“Iya, kak. Mau ikut touring boleh. Lalu kita melingkar nyari spot wisata. Di sini kakak berbagi mantra he he,” chat Mila lagi.

Aku berpikir kalau besok aku ikut touring, melakukan perjalanan, atau tamasya, alamat aku harus bangun pagi dan tidak tidur lagi. Padahal, kebiasaanku setiap selesai bangun untuk salat subuh, aku pasti tidur lagi sampai siang. Aku tidak ikut saja.

Lagi pula, aku tiba-tiba diajak, tidak punya prepare apa-apa sebelumnya. Tapi, aku meminta mereka melingkar saja di tempatku, di Lapeo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat sepulang dari mengunjungi beberapa titik-titik tadi.

Mantra Apa yang Harus Aku Turunkan?

Aku terus berpikir, sejak aku benar-benar bangun di pagi hari, jam sepuluh kurang sampai sore ini. Mantra apa yang akan aku bagikan nanti ke teman-teman literasi? Seperti request Mila. Mereka yang datang katanya, kakak-kakak pegiat literasi yang berjumlah sekitar lima belas orang. Rata-rata mereka adalah komunitas literasi, utamanya dari Rumah Baca Inspirasi (RBI).

RBI hadir dari dusun Tanah Tokka, Desa Tonyaman, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat atas inisiasi dua pemuda (mahasiswa), yaitu Sugiono Aziz Munandar dan Ilham yang melihat dampak pandemi Covid-19 yang membuat minat baca anak-anak terutama siswa Sekolah Dasar (SD) menurun.

Pikirku, mereka (RBI) adalah “ilham” dari sebuah tempat di dusun sana, pegiat literasi yang mau bekerja keras dan nyata. Mereka secara sukarela, bersama-sama turun langsung ke lapangan.

Mereka mengajarkan ilmunya ke anak-anak, membagikan ilmu literasi sesungguhnya dengan; membuat rumah baca, belajar bersama untuk semua jenjang tingkat pendidikan, melakukan ritual beragama, Islam moderat, Yasinan bersama, menanam bersama dalam program pangan sehat anak cerdas, dan lain sebagainya.

Dan sekarang, mereka lagi mengadakan touring, perjalanan mungkin semacam “study banding” untuk memperkaya dan memperkuat ilmu pengetahuan serta pengalaman untuk “literasi” mereka. 

Aku melihatnya dari unggahan Mila di story WA. Mereka berangkat dari kota Polewali Mandar dan memulai dari titik pertama, Nusa Pustaka (NP) yang dibentuk oleh Kak Ridwan Alimuddin di Pambusuang. Kemudian titik kedua, ke Bilik Pustaka, milik Kak Qadry. Lalu, rumah baca dan museum Naskah I Manggiwelu, Majene milik Pak Tamrin.

Dan terakhir, sebelum tiba di Kota Polewali Mandar, mereka akan singgah menemuiku di Desa Lapeo, di rumah almarhum kakek, tempatku tinggal sekarang.

Magrib tiba, mereka akhirnya datang, Mila dan kawan-kawan Literasinya, RBI. Tapi, ternyata mereka bukan hanya dari RBI saja, tetapi juga pegiat literasi dari Mamasa, Sulawesi Barat, dan Makassar.

Sebagian dari mereka melalukan salat magrib di masjid Lapeo sebelum kami akhirnya benar-benar “melingkar” duduk bersama, melantai di rumah kayu.

Malam itu, aku hanya berbagi dengan “memamerkan” buku-bukuku, baik buku yang kutulis sendiri maupun beberapa antologi bersama banyak orang. Kemudian, menceritakan suka duka menerbitkan buku. Ada buku dari hasil tesis yang dibukukan sejak dulu, lalu habis, dan sekarang telah cetak ulang.

Ada buku dari kumpulan cerita rakyat Mandar yang mau dicetak ulang tapi penerbit indie yang kutempati mencetak buku itu telah kabur dariku akibat stres ditinggal tunangannya. Ada buku dongeng yang sudah dicetak dua eksemplar sebagai contoh, namun ketika dikirimi uang agar dicetak banyak malah menghilang tidak jelas.

Ada buku dari hasil curhat di diari ketika jatuh cinta dengan seseorang, namun hanya konsumsi pribadi, apalagi orang yang ditulis sudah menikah. Ada buku dari kumpulan cerpen yang masih memerlukan perbaikan bahasa, butuh editor. 

Ada buku dari antologi menulis dongeng, cerita rakyat Nusantara, dan cerpen tentang Covid-19. Bukuku yang terbit terbaru adalah buku dari hasil menulis jurnal dari suatu seminar yang kemudian disatukan dengan tulisan pemakalah lainnya.

Inilah mungkin mantra yang bisa aku turunkan, sharing pengetahuan dan pengalaman saja. Itu realitas yang ada padaku. Tidak mungkin aku muluk-muluk bilang, bagaimana cara membaca buku selama sejam? Sesuatu yang hilang dariku sejak lebih asyik melihat medsos.

Atau bagaimana membuat buku selama kurang lebih seminggu? Bisa sih, asal materi penulisannya sudah ada dan terkumpul, lalu aku tak akan keluar dari kamar kecuali untuk makan.

Atau bagaimana membuat rumah baca? Perpustakaan pribadiku di kota Mamuju saja belum jalan karena sering aku tinggalkan, bagaimana aku bisa mengatakan hal ini?

Ngomong-ngomong, saat sesi sharing, mereka sangat antusias. Ada yang bertanya bagaimana menemukan ide kembali ketika “bosan” menulis novel, bagaimana menulis pendapat orang lain ketika menulis jurnal, bagaimana menulis footnote ketika menulis skripsi, bagaimana menjadikan buku diari menjadi cerpen, dan sebagainya.

Aku menjawab sebisaku, dan setahuku. Mereka sebenarnya sudah punya dasar literasi yang kuat. Mereka sudah punya pencapaian literasi sendiri-sendiri, misalnya punya rumah baca, editor sebuah ruang penulisan online, penulis jurnal, punya kumpulan puisi, cerpen, dan sudah menjadi pegiat literasi yang sesungguhnya yang punya kiprah secara nyata di lapangan. 

Di sana harus ada kebahagiaan, kejujuran, kekompakan, solidaritas, percaya diri, rela berkorban, dan mau berbagi. Tapi, pada akhirnya, semuanya menyenangkan karena “passion” mereka memang ada di situ.

Ah, literasi memang harus menyenangkan. Sebelum membaca, sebelum menulis, sebelum menggali informasi, sebelum mendapatkan ide atau gagasan, sebelum membagikan ilmu, sebelum mencetak buku, semuanya harus dibuat “nyaman” sehingga akhirnya kita merasa “senang” dan hasilnya berupa karya yang “tenang”, aura kemuliaannya pun akan memantul ke mana-mana.

Ya, salah satunya dengan jalan, touring ke beberapa tempat tadi juga sangat penting (harusnya aku ikut gabung tadi). Seperti istilah, “Piknik Yuk, biar gak stres!” nyenangin banget, kan? Kegiatan yang mengenyangkan eh menyenangkan.

Terakhir, seperti kata guru spiritualku, literasi sejatinya mengajarkan menjadi orang yang baik, membuatmu lebih baik, bisa berbuat baik, dan berbagi dengan baik. Sehingga, tercipta manusia yang berlaku luhur pada dirinya dan orang lain.

Salam literasi.