Saya dan istri sebagai sesama geografer (alumni geografi) sering berdiskusi tentang fenomena geografis di Indonesia. Termasuk obrolan ringan tentang potensi ancaman bencana geohidrometeorologi di tengah pandemi COVID-19.

Pemantik diskusinya adalah berita banjir bandang, cuaca ekstrem dan fenomena dampak perubahan iklim yang melanda berbagai wilayah. Beberapa waktu lalu, kami membaca berita berita tentang kejadian langka, es yang menyelimuti Brasil akibat cuaca ekstrem.

Nah, dari kejadian tersebut saya teringat sejumlah obrolan ringan kami berdua dan pertanyaan dari anak lelaki kami. Berikut perjalanan obrolannya dan sudut pandang kami melihat fenomena geografis.

Obrolan Ringan tentang Fenomena Banjir

Awal tahun 2021, istri turut serta dalam tim reaksi cepat kantornya untuk menghitung estimasi kerugian banjir wilayah Kalimantan Selatan. Tim tersebut melakukan perhitungan estimasi dampak kerugian dari banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan.

Hingga pada akhir bulan Februari 2021, kami pun berdiskusi ringan terkait banjir di Pulau Jawa, terutama Jakarta. Kemudian, pada bulan April 2021 pasca opini saya tentang banjir Jakarta dari mata seorang geografer dilansir di salah satu media online.

Hal itu memantik kantor saya untuk mengadakan webinar bedah buku solusi berbasis alam untuk pengelolaan risiko bencana banjir. Saya pun diminta menjadi moderator acara tersebut. Bulan Juli 2021, kami berdiskusi (lagi) mengenai berbagai fenomena banjir yang melanda sejumlah negara.

Kami coba memahami kejadian tersebut dari sudut pandang geografer. Nah, tampaknya rangkaian peristiwa dan diskusi kami, tampaknya disimak dengan baik oleh anak lelaki kami.

Situasi pandemi COVID-19 inilah yang membuat diskusi kami kerap diperhatikan oleh anak lelaki kami. Bagi saya dan istri melihat hal ini sebagai salah satu nilai positif bekerja dan belajar dari rumah. Interaksi dengan anak meningkat dan semoga menjadi bagian literasi bencana sedari dini.

Diskusi di bulan Juli 2021, dimulai dari bahasan kejadian banjir bandang di Eropa Barat, Jerman, Belgia, Inggris, dan Belanda.  Disusul, kejadian banjir di India, China, hingga Amerika. Semua kejadian tersebut berdampak kerusakan luar biasa dan menelan jumlah korban yang besar juga.

Kami cukup kaget melihat berturut-turutnya kejadian banjir di dunia tersebut, terutama banjir di Belanda. Mengingat, kami pernah pernah tinggal di Enschede, Belanda dan sempat singgah ke negara-negara tersebut.

Sekitar 3 tahun silam, kami sekeluarga sempat tinggal di Enschede, salah satu kota kecil Belanda. Kenangan terhadap ke empat negara yang pernah kami kunjungi tersebut, semakin membuat kami penasaran faktor apa saja penyebabnya.

Apakah perubahan iklim menjadi faktor penentu utama kejadian? Mengapa sejumlah negara yang terkenal dengan solusi berbasis alam untuk atasi bencana banjir pun dapat mengalami kejadian banjir bandang?

Pertanyaan Anak Lelaki Kami

Sejumlah kawan yang masih tinggal di Belanda pun mengunggah foto banjir di Enschede yang cukup tinggi, lokasi kampus pun kebanjiran. Saya mencoba mengingat-ingat kejadian hujan deras, petir, yang kerap menyapa kami saat di Belanda.

Namun, belum pernah kejadian banjir besar luar biasa, biasanya hanya menghasilkan genangan kecil yang cepat menghilang. Kami pun mulai membaca berita sembari melihat sejumlah foto dalam grup WA dan postingan Instagram. Nah, ada satu hal lagi yang bikin kaget.

Saat itu, anak lelaki kami ikut melihat foto banjirnya Belanda dari grup WA teman-teman di Belanda. Tiba-tiba dia nyeletuk satu pertanyaan, “Bukankah, kata Ayah saat jadi moderator acara webinar tentang banjir, teman-teman ayah (narasumber) bilang kalau negara di Eropa punya solusi hadapi banjir?

Wah, ternyata obrolan kami berdua yang kerap diskusi tentang fenomena banjir juga diperhatikan oleh anak lelaki kami. Istri pun langsung spontan menjawab, kemungkinan salah satu faktornya adalah perubahan iklim.

Dalam bahasa sederhana pun, kami mencoba menjelaskan apa itu perubahan iklim, termasuk dengan memberikan tautan video di YouTube yang berupa animasi dan dapat memberikan gambaran ringkasnya.

Anak zaman sekarang yang cenderung bergantung terhadap gawai akan lebih mudah diberikan pengetahuan dengan melihat langsung materi dalam bentuk video di YouTube.

Setelah mencermati berbagai buku bacaan dan diskusi kami sebelumnya, kami beranggapan bahwa tentunya banjir di wilayah Eropa tersebut termasuk bencana banjir yang terjadi begitu cepat dan di luar dugaan kita semua.

Satu pertanyaan yang meluncur dari anak lelaki kami yang baru menginjak kelas 5 SD. Pertanyaan ini muncul seketika, seakan memori ingatannya bangkit karena sempat menyaksikan acara webinar di bulan April 2021.

Bedah kembali buku "Nature-Based Flood Risk Management on Private Land"

Kami pun membuka kembali buku “Nature-Based Flood Risk Management on Private Land” yang dibedah dalam acara webinar dan disaksikan oleh anak lelaki kami.

Acara webinar tersebut merupakan bincang geospasial bedah buku dengan mengundang pakar, akademisi, praktisi, dan pihak pemerintah. Buku yang dibedah tersebut mengulas konsep dan implementasi pengelolaan risiko banjir berbasis solusi alam yang diterapkan pada lahan pribadi.

Sebuah konsep yang jika hendak diterapkan di Indonesia tentunya memiliki kendala dan tantangan luar biasa. Saat itu, sejumlah narasumber menyampaikan betapa luar biasanya negara-negara lain siap siaga hadapi banjir.

Kemudian, betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam pengurangan risiko bencana banjir.

Kurang lebih, itu yang ditangkap oleh anak lelaki kami saat kami tanya lebih dalam, seorang anak kelas 5 SD yang telah belajar sedikit tentang siklus hidrologi dan senang menyimak obrolan kami secara diam-diam.

Hingga kami pun jatuh pada kesimpulan dengan buku yang sempat dibedah bahwa banjir adalah salah satu wujud bencana alam yang paling mahal. Di buku tersebut mencatat pula pernyataan dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change [IPCC]).

IPCC menyatakan bahwa kerusakan yang diakibatkan oleh risiko terkait air (bencana alam banjir) terus meningkat di Eropa karena perubahan kondisi geohidrometeorologi.

Meskipun telah diantisipasi dengan baik oleh negara-negara di Eropa sebagaimana tersaji dalam buku tersebut. Bencana banjir bandang yang terjadi di luar prediksi mereka.

Di sisi lain, saya justru melihat betapa pentingnya koordinasi antar lembaga dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci atasi bencana dadakan tersebut.

***

Obrolan ringan saya dan istri yang ternyata disimak dengan baik oleh anak lelaki kami. Bagi kami, inilah salah satu langkah kita sebagai orang tua untuk sedari dini mengenalkan literasi bencana dan menggugah kesadaran geografi secara sederhana.