Indonesia secara kondisi geografis memang bertabur pulau-pulau. Dari berbagai pulau-pulau yang tersebar tersebut, banyak bermukim desa-desa atau kampung-kampung pelosok yang dihuni oleh warga. Di situlah melukiskan kemegahan kenusantaraan Indonesia. Sejarah pun telah menyebutkan bahwa bersatunya kita dalam Nusantara adalah karena kebesaran wilayah.

Kendati begitu bentang luasnya wilayah, mungkin saat ini sudah tak ada lagi kampung atau ddesa pedalaman yang masih belum teraliri listrik. Karena pasokan energi, baik listrik maupun pemanfaatan sumber daya energi lainnya mengalami kemajuan yang hebat. Terutama energi listrik telah mampu menyatukan wilayah yang luas Nusantara.

Saya ingin mengilas balik sejarah singkat, betapa energi listrik berhasil menerangkan peradaban di desa.

Dahulu puluhan tahun silam, listrik masuk desa. Saya coba ingat, kira-kira waktu itu usia saya masih duduk di kelas III Sekolah Dasar. Saya masih ingat betul, dengan teman-teman bermain dorong-dorong sisa gulungan kabel yang ada di pinggiran jalan raya. Terkadang pula kami ikut membantu para tukangnya menarik kabel untuk dipasang pada tiang listriknya.

Pada sore hari sepulang dari sekolah, di sela warga berjibaku di ladang-ladang sawahnya, kita menonton dan terkesima melihat teknisi yang menaiki dan bergelantung di tiang listrik yang tinggi itu. Betapa girangnya kami anak desa, dan jujur saja rasa senang kehadiran listrik ini tak dapat kami sembunyikan. Masyarakat menyambut dengan penuh suka cita.

Bagaimana tidak, selama ini kami penduduk desa hanya mengandalkan penerangan dari lampu petak. Lampu petak yang oleh kami warga desa pedalaman di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam lisan kebudayaan menyebutnya ‘ilo palita’. Lampu sumbu sebokan kain seadanya yang dibuat dari kaleng bekas kemudian diisi minyak tanah.

Keadaan itu yang menyebabkan warga desa sulit beranjak maju, makmur, dan sejahtera. Padahal di sisi lain, putaran roda sejarah menunjukkan, suatu kota haruslah ditopang oleh hasil pangan dari wilayah pedalaman. Artinya di sini, terangnya desa menangguhkan kehebatan agraria sebagai pilar utama untuk kejayaan peradaban.

Peran energi dalam membangun peradaban desa teramat besar. Jika Desa faktanya tak teraliri listrik dengan baik, maka dapat dipastikan peningkatan kesejahteraan perekonomian masyarakat pedesaan tidak pernah dapat tercapai.

Perlahan tapi pasti, alhasil sebagai akibatnya listrik masuk desa, segala aktivitas kehidupan masyarakat menjadi mudah dan ringan. Desa tidak lagi sunyi-senyap seakan tak berpenghuni. Masyarakat tak lagi hidup di ‘zaman gelap’ dulu yang kerap kali ke gunung untuk memungut ranting-ranting kayu bakar, lantaran ibu-ibu kami tak bisa menanak nasi menggunakan rice cooker. Menimba air sumur, dan pagi-pagi buta mandi di kali.

Namun sayang, kini kejayaan cerita masa lalu itu tidak lagi banyak dikenang. Tertutup atau sedikit kabur oleh terjadinya yang biasa disebut oleh petugas Perusahaan Listrik Negara (PLN) adalah ‘pemadaman bergilir’. Yakni listrik yang sehari menyala, hari berikutnya lebih banyak matinya.

Keluh-kesah sering matinya listrik ini makin hari makin terdengar. Tahun demi tahun berjalan dapat pastikan memberatkan masyarakat.

Ironisnya lagi, bahkan sebelum pemadaman dilakukan tanpa ada pemberitahuan, tiba-tiba saja listrik mati mendadak. Akibatnya banyak aktivitas menjadi terganggu. Jika saja pemadaman listrik di malam hari, maka terasa kembali lenyaplah peradaban desa. Lantas mengapa desa menjadi ‘korban’ pemadaman bergilir?

Alasan klasik pemadaman bergilir dilakukan karena sedang adanya pemeliharaan jaringan dan pemeliharaan gardu induk. Tetapi bisa jadi ini akibat potret ketidakmampuan sumber daya manusia kita yang masih lemah mengembangkan pembangunan sumber daya energi.

Tidak dapatkah pemerintah merehabilitasi pusat pembangkit listrik ini? Entah itu penambahan daya, perluasan jaringan transmisi, apakah pemerintah atau Perusahaan Listrik Negara (PLN) kekurangan ketersediaan dana?

Jika seperti itu, maka ke depan, instansi negara yang mengelola Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) perlu mempunyai visi strategi untuk keluar dari paradigma lama ke berwawasan global.

Saya membayangkan secara mainstream, suatu ketika negara ada keinginan untuk mewujudkan visi nuklirisasi. Kenapa nuklir, daya manfaatnya silakan riset kecil-kecilan, selain alasan agar tidak lagi menggantungkan diri pada sumber daya fosil. Mengapa tidak, sebab kejayaan negara-negara luar dikarenakan kemampuan mereka membaca potensi dan ketajaman misi yang mereka miliki.

Sebab juga sejumlah kalangan menganggap pengelolaan sektor energi kita sangat potensial jika digarap secara baik. Untuk itu saya setuju saja, daerah ini menjadi tonggak pemula tercetus pertama kali dibangunnya pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut.

Supaya tak hanya ketangguhan atau kehebatan pembangkit tenaga listrik yang diraih, bahkan kita membayangkan suatu waktu, dibangunlah pelabuhan yang maha canggih, megah, dan terbesar dunia sehingga menciptakan lalu-lintas armada laut yang tidak ada tandingannya.

Seperti peluang kita (Indonesia) memiliki pelabuhan HUB Global yang digadang-gadang selama ini. Laiaknya di negeri kincir angin Belanda yang punya Rotterdam, kota pelabuhan tersibuk di dunia dalam 4 dekade belakangan ini.

Potensi-potensi yang lain dari desa, seperti pariwisata bahari, pelayaran, kegiatan industri pertanian modern dan jasa maritim, adalah juga potensi yang masih “tertidur” hingga saat ini. Dan dalam pemikiran yang saintifik, tanpa memasukkan keilmuan dan teknologi yang kuat, kita sulit berkompetisi, apalagi membangun peradaban bangsa. Hal ini semua memberi gambaran, betapa energi listrik menerangkan peradaban.