Ketika sisi romantisisme terlahir atas represif rasionalisme dan brutalnya revolusi industri, maka lirisme pelestari lahir atas kerasnya pacu prestasi para alpinis.

Alpinisme lebih menekankan melihat bentang alam dengan realistis dan objektif. Di sisi lain, romantisisme pelestari alam akan selalu setia mengawal dengan gaya lirisnya yang sejuk dan mendamaikan.

Itulah glorifikasi yang dapat diambil dari buku berjudul Manusia dan Gunung yang ditulis oleh Pepep DW. Buku ini lebih menekankan gaya lirisme dalam merespons semua atribusi yang berhubungan dengan gunung dan manusia.

Lirisme manifesto seorang pelestari lahir dari rahim kenangan-kenangan indah masa lalu atas kelestarian alam sekitar sekitar. Hal ini terlihat bagaimana Pepep DW menyajikan ulasan tentang keindahan peradaban gunung di Jawa Barat, khususnya gunung-gunung Bandung yang jumlahnya ribuan itu.

Bobot dan babon Manusia dan Gunung menitikberatkan pada pengalaman estetik dan perasaan-perasaan sentimental khas seni dan sastra yang dibalut kental dengan penyajian fakta logos dan rasionalitas mitos. Termasuk pula mengulas tentang demitologi, deforestasi, pamali, dan manifestasi etik.

Ketika alpinisme memandang gunung dan manusia sebagai perpaduan antara lanskap dan kodrat, maka lirisme para pelestari memandangnya sebagai perpaduan kodrati ekologi dan filosofi yang berbasis ketuhanan.

Keduanya, baik gairah liberalis para alpinis yang bebas terukur dan gairah lirisme seorang pelestari yang mendamaikan, muncul sebagai bentuk pertentangan atas perusakan kelestarian alam. Baik alpinisme dan lirisme pelestari juga sama-sama membawa gairah pencerahan (enlightmen) pola pikir manusia atas bentang alam khususnya gunung-gunung.

Alpinisme dan lirisme pelestari telah menjadikan gunung sebagai guru. Persamaan manifesto didapat pada titik temu "gunung sebagai makhluk" sebagaimana tertulis di buku ini pada halaman 16.

Manifesto ini sama dengan apa yang dikatakan oleh alpinis modern, Killian Jornet Burgada, dalam bukunya Run or Die, sebagai babon alpinisme modern dengan indahnya di titik temu tersebut:

"This is how our parents taught us to love the mountains: They made us feel like parts of them. Because, in essence, mountains are like people."

Buku Manusia dan Gunung adalah representasi gaya lirisme dengan penekanan pelestarian yang diwakili oleh konsep sadar kawasan" dengan fokus kampanye "Save Ciharus".

Pengungkapkan perasaan memiliki dan senasib sebagai makhluk hidup tertata rapi melalui paparan kata-kata pada buku ini. Bahkan, ia penuh keindahan bak sebuah rima dengan bahasa indah dan teratur khas lirisme. Terlihat dengan selingan puisi-puisi indah tentang gunung dan alam raya pada bagian-bagian atau bab krusial.

Subjektivitas penulis Manusia dan Gunung sangat menonjol dalam melihat suatu objek atau fenomena. Hal ini sama yang dialami oleh Kilian Jornet dengan petikannya:

"You must be selfish to know how to fight on while you suffer to love solitude and hell."

Lirisme pelestari tentunya juga menyajikan persepsi tentang realitas, meninggalkan ke samping objektivitas dan menonjolkan refleksi perasaannya atas suatu gejala atau fenomena agar kuat tersampaikan. Sebagaimana yang  ditulis pada halaman 78:

"Sebab, mereka meyakini dapat menciptakan keintiman yang lebih erat dengan alam, menikmati sendu gemericik tetesan hujan yang turun, menyaksikan kabut dan terang yang silih berganti, hingga menikmati kesegaran udara di tengah hutan hujan tropis yang lembab."

Alpinisme liberal ala Kilian Jornet juga mengamini hal tersebut:

"Every evening before going to sleep, my sister, mother and I would go out in our pajamas for a walk in the woods on the dark without headlamps."

Lirisme pelestari merupakan sistem ideologi hegemonik dengan karakteristik yang mengekspresikan perasaan dan emosi secara mendalam saat menyampaikan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.

Kedalaman perasaan ini bisa dibaca beberapa tulisan pada halaman-halaman tertentu pada buku ini yang mengekspresikan kedalaman lirisme dalam bentuk paparan kebudayaan gunung. Semisal pada halaman 29 yang mengulas tentang budaya gunung yang dibangun lewat wayang oleh Walisongo.

Untuk melestarikan gunung-gunung tersebut, penulis buku ini tak segan-segan mengawalinya dengan berbagai ekspedisi dan riset. Hal tersebut dilakukan untuk mengumpulkan bahan sebagai pertimbangan dalam upaya pelestarian gunung dan budayanya.

Apa yang dilakukan oleh lirisme pelestari sesuai apa yang dilakukan oleh alpinisme modern sebagaimana yang dikatakan oleh Kilian Jornet, "To love them, you must first get to know them....."

Manusia dan Gunung yang ditulis oleh Pepep DW dan Run or Die yang ditulis oleh Kilian Jornet merupakan perpaduan manifesto lirisme pelestari dan materialisme alpinis. Persinggungan keduanya hanya pada bagian teologis.

Ketika konsep gunung materialisme alpinis bersumber pada objektivitas, maka, di sisi lain, lirisme pelestari lebih cenderung kembali kepada ketuhanan yang hakiki.

Adapun konsep pelestariannya hampir sama walaupun praktiknya berbeda. Materialisme alpinis berusaha untuk meminimalkan peran alat-alat yang dapat merusak lingkungan. Adapun lirisme pelestari lebih romantis dengan pembatasan wilayah petualangan dengan menjujung tinggi konsep sadar kawasan.