Aku punya hak bersanding di sampingmu; sebagaimana kau pun punya hak untuk memilih pendampingmu (meskipun itu bukan aku).

Ambyar, kan? Tentu saja lebih dari itu.

Bima, aku tahu, kau terlalu keras kepala. Aku pun juga bukan orang yang mudah pasrah dengan keadaan. Hanya saja, siapa di antara kita yang menyerah?

Di sisi lain, rasanya perih dan teramat getir jika kau akhirnya melabuhkan hatimu padaku sebab penyerahan belaka.

Hehe, terkadang aku banyak kemauan. Aku ingin memilikimu dengan hasil perjuanganmu, bukan penyerahan. Apalagi aku yang menyerah, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri dengan berpura-pura mencintai orang lain.

Aku tidak bisa mencintai orang lain sebagai wujud frustrasi karena tak bisa denganmu. Argh, aku tak pernah sekacau ini, Bima.

Kusesapi kelamnya malam hanya karena terhenti di senyumanmu. Melalui status WhatsApp-mu barusan. Senyummu manis sekali. Kau menghentikan duniaku. Persis seperti jargon sebuah iklan di TV, senyummu mengalihkan duniaku.

Ya, aku merasa berhenti seberhentinya ketika berada di sampingmu. Ada sebuah perayaan meriah dalam hatiku; kembang api meletup-letup di dadaku merayakan kebersamaan kita. Ada bunga bermekaran nan harum mewangi menyambut kehadiranmu. Meskipun hanya sesaat. Laksana mata berkedip. Singkat! Sesingkat obrolan kita via panggilan video pagi itu.

Pecah tangisku membelah kesadaran bahwa menjangkau dirimu sama seperti sebuah kemustahilan. Kau, sosok yang ingin kujadikan pelabuhan seumur hidupku. Aku yakin itu kau, Bima! Tapi, kau tak pernah melihat keberadaanku. Aku terlalu fana bagimu.

Kau patah berkali-kali, aku pun demikian. Kau mengejar dia; aku dikejar oleh yang lain pula. Tak saling sadarkah kita, bila mungkin saja kita ditakdirkan untuk menua berdua (dan seharusnya melupakan mereka)? Bahkan sedetik pun aku tak pernah terlintas di benakmu.

Menjelang pagi ini, hujan turun dengan derasnya menyemarakkan lelehan salju di pipiku. Tidakkah kau tahu, sebanyak titik air yang membasahi bumi itulah namamu kusebut kepada Sang Pencipta? Kau tidak tahu. Pun ketika aku tidak pernah menyerah ingin dibersamakan denganmu.

Sampai kapan pun, aku tak akan pernah mengenal kata menyerah. Bukannya tak sadar diri, tapi apa salahnya memperjuangkan kata hati?

Keadaan makin kacau. Aku sering manghabiskan malam-malamku untuk menyesapi getir dan teririsnya patah hati. Bahkan tak tidur sama sekali. Patah berkali-kali ternyata begini; sakit sekali. Aku benar-benar kehilangan selera tidurku. Dan, kau mengacaukan malamku (juga hidupku).

Benar juga, jika hal-hal yang berbau perasaan bisa menghilangkan kadar rasional. Baiklah, aku diam sejenak.

Malam ini, untuk kali tak terhitung aku menangisi keadaan kita yang seperti ini. Mungkin saja kita adalah satu hati yang sedang tersesat. Yang sebenarnya sedang kebingungan di belantara pencarian menuju jalan pulang ke "rumah". Bersama tipuan ilusi yang entah apa itu namanya.

Tidak mungkin hatiku menyebut kau sebagai "bagianku" jika kau memang bukan siapa-siapa. Pasti kau "termaktub" menjadi "siapa-siapa" untukku. Karena hati pasti mengenali belahannya yang terpisah sejenak, hanya saja tubuh terlalu silau oleh ilusi duniawi.

Kau tak juga pergi seiring luruhnya air mataku. Aku sudah mempersilakanmu pergi dan beribu kali kuusir, tapi kenapa malah rumit begini?

Semua orang yang datang tak lebih dari sekadar singgah. Bahkan kau tak terusir sedikit pun. Kau masih gagah di singgasana hatiku.

Bima, sudah kucari celah supaya orang lain bisa menggantikan posisimu di hatiku. Tak bisa, kau terlampau baja untuk dirapuhkan di hatiku.

Aku sulit mencintai orang lain semenjak kau hadir malam itu; semenjak nostalgia kita dan kau pernah menyatakan cinta. Lalu menghilang entah apa sebabnya. Dan, kisah cinta ironis dimulai sejak itu pula.

Baru saja malam itu ingin kukatakan hal yang sama padamu. Ternyata aku terlambat. Barangkali kau tak suka menunggu sejenak saja.

Terlalu tak bermakna sekali hidupku jika aku bersama orang karena penyerahan belaka. Tak bisa! Aku tak bisa hanya sebatas mengasihaninya saja. Andai aku bisa mencintai orang lain yang jelas-jelas mengharapkanku, sebagaimana aku mencintaimu.

Mau tahu sedalam apa cintaku dengan objek cerita ini? Ketika tiada mampu mengucap kata 'tidak' untuknya. Bagiku itulah cinta. That's true love!

Kenapa tak mampu mengucap kata 'tidak'? Karena seseorang itu teramat berarti. Hingga tak mampu menyakitinya sedikit pun dengan penolakan (kata 'tidak').

Ironis, aku juga kesulitan membedakan mana cinta dan kebodohan belaka. Ya, cinta dan bodoh terkadang tiada bedanya.

Sebelum ini, aku juga menemui seseorang yang dengannya aku tak bisa berkata 'tidak'. Tapi, tiada semarak kembang api meletup di dadaku saat bersamanya.

Dengan kau, aku bak remaja mabuk kepayang jatuh cinta. Atau, seperti anak kecil yang merengek minta gula-gula kepada ibunya.

Ada gelora yang ingin kuteriakkan agar hatiku lega. Aku pun tak bisa memaksamu atas rasaku ini. Tapi, alangkah naifnya aku membohongi keinginan hati sendiri.

Bertemu dengan Bima, aku paham akan rasanya menemui cinta sejati. Setidaknya hatiku yang berkata demikian. Menyoal dia membalas atau tidak, sudah terlalu sakit untuk diharapkan. 

Kata hati tidak pernah salah, meskipun pandangan mata sering saja keliru.

Dengan demikian, aku berasumsi bahwa rumus true love adalah "Ketidakmampuan berkata 'tidak' dan ada kembang api meletup-letup di dada saat ada hal yang berkaitan dengan doi". Jika merasakan itu, 80% kupikir kita menemukan belahan jiwa yang terpisah.

Namun, ada satu hal lagi yang harus dimiliki seseorang untuk benar-benar menemukan cinta sejati.

Apa itu? Sebuah balasan perasaan yang sama. Jadi, aku dan Bima belum masuk kategori cinta sejati. Belum, lho ya. Bukan tidak, hehe. Aku tak akan pernah berhenti berharap dia akan mencintaiku sebagaimana aku tak terlupa dia sedetik pun.

Bima, semoga kau membaca ini.