Minggu pagi belasan tahun silam, mungkin saat itu Mbak Jihyo Twice sedang berada di fase lucu-lucunya, playlist kartun yang telah di-dubbing ke dalam Bahasa Indonesia pernah sedemikian akrab di telinga kita. Iya, kita. Kita yang, ehem, lahir pada era 90-an.

Di masa Pak Harto bercerai dengan kursi yang didudukinya selama 32 tahun tersebut, bisa dikatakan merupakan tahun keemasan bagi kita. Lha, bagaimana tidak, pada saat itu pikiran kita belum terkontaminasi oleh ontran-ontran politik. Juga tak perlu strategi dan trik-trik ciamik untuk memperoleh cuan, cukup menadahkan tangan saja. Selesai.

Selain itu, kita juga memiliki waktu luang yang berlimpah, dan belum dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan keparat yang membuat jengkel. Ya, sebut saja kapan skripsi? Kapan nikah? Kapan bayar utang? Upps, maaf kecoplosan, serta kapan-kapan yang lainnya. Apalagi ketika waktu luangnya berkolaborasi dengan hari libur, wah, kita bakalan enggan ke mana-mana, duduk di depan televisi, khidmat menonton kartun.

Dan sebagaimana lazimnya, pada tiap kartun di zaman itu, seperti yang kita ketahui, lagu pembukanya kadang disulih suarakan ke Bahasa Indonesia. Sebut saja, misalnya opening Shinchan, Ninja Hatori, P-Man, Doraemon, Dragon Ball, Chibi Maruko Chan, dlsb.

Pada titik ini, ketika saya mendengarkan kembali lagu-lagu tersebut melalui kanal YouTube, ada kepuasan estetika maupun rohani (halah, sok nyeni dan religius) yang dirasakan. Seakan-akan sedang berjalan, melewati lintasan waktu, dan kembali menjadi kanak-kanak dengan ragam kepolosannya.

Sebentar, sodara-sodara, sebelum melanjutkan membaca tulisan yang teramat jauh dari semesta ilmiah ini, mari kita renggangkan sebentar otot serta otak kita, biarkan mereka beristirahat. Toh kita bukan termasuk golongan kapitalis (semoga) yang tega mengeksploitasi kinerja mereka hingga ke taraf memprihatinkan.

Ayo duduk sejenak, bisa sambil ngeteh atau ngopi, tak perlulah ngegas dan berlari terus-menerus. Apa sih yang kita kejar di hidup ini? Raisa? Lupakan, sebab ia sudah memiliki suami. Atau Maudy Ayunda, hmm, membedakan hoaks dan fakta saja masih gagal. Ngaca dong!

Wokeh, kalau sudah rileks, meskipun, ya kebijakan penanganan Covid-19 di negara kita kadang bikin pemain sirkus profesional minder, mari kita lanjutkan membaca tulisan ini dengan santuy Bosque. Gassss.

Ternyata, setelah saya mendengarkan berulang-ulang opening lagu-lagu kartun 90-an tersebut dengan membobol password WiFi tetangga terlebih dahulu, akhirnya saya menemukan semacam pencerahan.

“Waini, dapat dipastikan tanpa keraguan sedikit pun, bahwa penulis esai ini sudah berusia tua, dan sedang berada di persimpangan romantisme masa lalu dan kegelisahan melihat masa depan.”

Yoi, sodara-sodara sekalian, tanpa perlu meminjam kemampuan Cenayang pun, beragam pikiran yang bersarang di batok kepala saya ini mudah untuk diketahui. Meskipun memiliki wajah yang awet muda sebagaimana Kapten Levi Ackerman dalam serial Shingeki no Kyojin, saya tidak malu kok untuk mengakui, bahwa posisi saya kini sedang berada di persimpangan tersebut. Lebih tepatnya mulai agak tua, tapi (meminjam istilah Puthut Ea, sungkem suhu) tak ingin tumbuh dewasa.

“Woooi, woooi. Esai ini sebenarnya mau berbicara tentang apa sih? Kok tidak jelas dan absurd begini, persis seperti kelakuan wakil-wakil kita yang menarik RUU PKS dari Prolegnas Prioritas, namun ngebut ketika membahas RUU Omnibus Law Ciptaker.”

Stop!!! Cukup sampai di sana saja dulu ya perkataan sampean, please jangan dilanjutkan, entar jadi serius tulisan ini deh dan beranjak jauh dari substansi awal yang ingin saya sampaikan, yakni perihal opening kartun era 90-an.

“Oke, kalau begitu lanjutkan. Kami membacanya sambil ngemil Klepon yang sempat viral beberapa waktu lalu.”

Kita mulai ya pembahasannya, tapi mohon maaf, esai ini ditulis tidak sampai mencapai berpuluh-puluhan halaman maupun bertebaran teori-teori ilmiah serta kutipan para pesohor. Tidak. Pendek saja, sependek balasan pesan WhatsApp mantan yang telah memiliki gebetan baru.

Yang pertama, seluruh kota merupakan tempat bermain yang asyik, hayooo, langsung akrab, kan, dengan telinga kita. Sepotong lirik dari film kartun yang memiliki citra dewasa atau dikenal dengan judul Shinchan ini memberitahukan kepada kita bahwa seluruh kota atau secara universal adalah lingkungan tempat kita bergaul dan berelasi merupakan tempat yang mengasyikkan untuk bermain. Dengan catatan, tidak mempermainkan agama untuk kepentingan politis, misalnya.

Kemudian lirik lagu selanjutnya adalah, mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang. Aduh, duh, duh. Lagu Ninja Hatori ini mengajarkan kita untuk selalu berproses dan belajar. Sebab hidup bukan hanya tentang rebahan, tetapi juga harus berani berimprovisasi dalam menyusun beragam rencana dan mengeksekusinya. Sehingga pengalaman dan pengetahuan berjodoh dengan kita. Perkara gagal, halah tidak perlu dipikirkan, Bosque.

Dan yang terakhir lirik dari kartun dari zaman baheula hingga kiwari ini masih saja tayang di layar televisi kita. Yap, Doraemon. Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini itu banyak sekali. Sudah akui saja, lirik lagu tersebut begitu relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Iya kan?

Sebenarnya masih banyak lagi sih lirik-lirik yang ingin saya bedah dengan tafsir abal-abal dan amburadul versi saya, tapi saya cukupkan sampai di sini saja yaa. Bukan, bukan karena saya lelah mengetik, bukan. Melainkan jika terlalu panjang, entar mengingatkan saya pada file skripsi yang agak terbengkalai. Bhaaaaa.