Pernahkah diantara kalian luput dari penggunaan kertas? Barang yang satu ini hampir setiap hari penggunaanya diperlukan. Awalnya peradaban Mesir Kuno menggunakan papirus sebagai medium untuk menulis. Papirus merupakan cikal bakal kertas. Penggunaanya pun akhirnya menyebar luas ke seluruh Timur Tengah, Romawi, sampai menyebar ke seluruh benua Eropa. 

Meski biaya penggunaan papirus kala itu sangat mahal. Di timur juga tercatat, Peradaban China menemukan kertas dari bahan bambu yang ditemukan oleh Cai Lun. Dan juga menyebar ke Korea dan Jepang. Dengan adanya kertas merupakan sebuah revolusi baru dalam dunia tulis menulis serta menyumbangkan arti besar dalam beradaban dunia.

Walau teknologi digital terus progres, namun penggunaan kertas pun tetap tak dapat diindahkan. Penggunaan kertas pun beragam; mulai dari untuk medium untuk menulis, bahan dasar kardus,dijadikan tissue bahkan sampai ada yang didaur ulang menjadi karya seni yang luar biasa indahnya. Banyak sekali bukan fungsi kertas itu?

Disamping banyaknya manfaat penggunaan kertas, ternyata kertas juga mempunyai
dampak negatif terhadap lingkungan. Pengawahutanan untuk memperoleh bahan mentah
kertas demi kebutuhan produksi pabrik pabrik kertas berakibat fatal bagi keberlangsungan
ekosistem hutan yang terkena pengawahutanan.

Total produksi kertas dunia didominasi oleh kawasan Asia (40%, atau sekitar 156 juta ton) walaupun sebagian besar produksi di kawasan ini terserap untuk konsumsi lokal. Ironis-nya Amerika Selatan yang memiliki hutan lebih luas daripada Asia hanya menghasilkan 5% (atau sekitar 20 juta ton) total produksi kertas dunia.

Sedikitnya jumlah produksi kertas di daerah kawasan Amerika Selatan relatif wajar karena sebagai negara produsen besar seperti Brazil misalnya masih fokus mengembangkan diri sebagai pemasok bahan baku atau produk pulp. Kawasan Asia sendiri dengan keunggulan biaya operasional yang murah dan luas lahan hutan yang relatif besar memberikan kontribusi besar terhadap total produksi pulp dunia.

Produksi kertas didominasi oleh Amerika Serikat dan China dengan masing-masing memiliki kapasitas produksi 75 ton. Di peringkat berikutnya adalah Jepang dengan kapasitas produksi sekitar 30 juta ton. Sementara negara-negara produsen besar lainnya (termasuk Indonesia) memproduksi sekitar 8-15 juta ton.

Dibalik jumlah produksi kertas yang luar biasa tersebut, juga membutuhkan kawasan hutan yang luas pula. Di Indonesia sekitar 10 juta hektar kawasan hutan di Indonesia telah dimanfaatkan untuk industri Hutan Tanaman Industri (HTI) atau Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) sampai tahun 2013. 

Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 1995 yang hanya seluas 1,13 juta hektar. Jumlah izin HTI pun bertambah dari sembilan unit pada tahun 1995 menjadi 252 unit pada tahun 2013.

Pada awalnya izin HTI diberikan memenuhi kayu terutama bagi industri pulp dan kertas untuk menggantikan pasokan kayu dari hutan alam. Namun pada kenyataannya, kebutuhan kayu bagi industri kertas ternyata masih bergantung dengan hutan alam. Ini menjadi bukti bahwa HTI tidak mampu menampung kebutuhan produksi industri kertas. 

Faktor yang menyebabkannya yaitu rendahnya tingkat produksi dan realisasi penenaman yang lambat. Akibatnya pengawahutanan semakin luas melebihi ketentuan HTI dan menerabas ke hutan alam. Jelas ini sangat membahayakan ekosistem hutan itu sendiri, karena berdampak langsung terhadap lingkungan.

Ironisnya, menurut penelitian sebuah lembaga nirlaba IVL, Institut Kajian Lingkungan Hidup Swedia, justru mengungkapkankan; “penyerapan karbon yang dihasilkan HTI (saat menanam pepohonan sebagai sumber bahan baku kertas) jauh lebih besar dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca yang hilang saat penebangan hutan.” dikarenakan proses penanaman kembali hutan yang gundul akibat penebangan membutuhkan penyerapan karbon yang jauh lebih besar (lebih dari tiga kali lipat) dibandingkan dengan emisi yang terbuang. Benar-benar sebuah lingkaran setan bukan? 

Tapi tenang, argumen ini disangsikan oleh Prof Mujahir Utomo dan Dr Basuki Sumawinata, bahwasanya Eropa tidak fair, karena Eropa yang mempunyai empat musim berbeda dengan karakter iklim tropis dua musim yang ada di Indonesia.

Selain pengawahutanan, industri kertas juga menimbulkan limbah. Limbah sendiri merupakan buangan yang dihasilkan dari proses produksi baik produksi industri atau pun produksi rumah tangga. Limbah hasil dari produksi industri kertas dan pulp, merupakan bahan yang zat buangan yang tidak lagi digunakan untuk proses produksi industri kertas dan pulp. 

Zat kimia tersebut apabila dibuang langsung ke daerah pemukiman warga akan mengakibatkan dampak sosial ekonomi masyarakat, diantaranya berdampak pada pendapatan masyarakat, mata pencaharian, penyerapan tenaga kerjam, serta terhadap kesehatan masyarakat setempat. Terdapat dua jenis limbah yaitu; limbah padat dan limbah cair.

limbah padat pabrik kertas mengandung unsur kalium (k). Peranan-peranan unsur ini untuk memperlancar fotosintesis, memacu pertumbuhan pada pada tanaman pada titik awal, memperkuat batang dan menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit serta kekeringan. 

Selain kalium, juga terdapat unsur lainnya yaitu sludge, biosludge, pith. Dari setiap satu industri pulp dan kertas setiap hari menghasilkan 30-40 ton sludge setiap hari. Sementara pemanfaatan sludge hanya berkisar 12 ton perhari, sehingga masih menyisahkan banyak sludge yang belum dimanfaatkan keberadaannya. Penanggulannya pun dengan dua teknik, yaitu dengan cara dibenamkan atau dibakar.

Yang kedua adalah limbah cair, limbah ini yang sangat berbahaya karena berpotensi
mencemari lingkungan karena mengandung B3 yaitu logam berat dan sianida yang belum
diolah. Limbah di industri kertas dan pulp hanya sebagian kecil limbah padat dari proses
produksi dapat dimanfaatkan kembali, yaitu pada industri lapis listrik yang menggunakan
limbah padat kertas dan pulp.

Untuk meminimalisir limbah pada industri kertas dan pulp yaitu dengan konsep Zero Waste. Zero Waste adalah pendekatan multifaset untuk menjaga kelestarian sumber daya bumi yang terbatas. Zero Waste dapat diimplementasikan dengan memaksimalkan recycling, minimasi limbah, mengurangi konsumsi dan memastikan bahwa suatu produk dibuat untuk dapat digunakan kembali, baik diperbaiki atau di-recycle kembali ke alam atau ke pasar. 

Konsep ini mengupayakan agar suatu kegiatan itu menghasilkan limbah sekecil-kecilnya, bahkan kalau perlu tanpa menghasilkan limbah sama sekali. Upaya ini disebut minimasi limbah. Terdapat tiga hal yang harus dilakukan dalam minimasi limbah, yaitu perubahan bahan baku industri, perubahan proses produksi, dan daur ulang limbah.

Bilamana proses produksi menggunakan konsep diatas masih menghasilkan limbah, maka upaya minimasi dilakukan dengan daur ulang atau pemanfaatan kembali limbah yang dihasilkan. Limbah yang dibuang adalah limbah yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan kembali. 

Industri kertas dan pulp telah melakukan proses daur ulang dan pengolalahan limbah cair, tetapi pada akhir proses masih ada limbah padat berupa serat yang perlu dicari pemanfaatannya. Pendauran ulang hanya pada sebagian kecil limbah padatnya, sedangkan limbah cairnya sangat berpotensi mencemari lingkungan karena mengandung B3 yang mengandung logam berat dan sianida yang belum diolah.

Langkah untuk menanggulangi permasalahan lingkungan juga didukung oleh pemerintah melalui Kementrian Perindustrian dengan mendongkrak kemampuan industri kertas dan pulp nasional, Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) di Bandung sebagai salah satu lembaga riset di bawah BPPI Kemenperin telah berperan aktif dalam upaya pengembangan standar hijau. 

BBPK Bandung pada 6-8 November lalu juga menggelar 3rd International Symposium on Resource Efficiency in Pulp and Paper Technology (3rd REPTech). Simposium internasional ini bertujuan untuk mempromosikan dan menyebarluaskan inovasi hasil litbang dan pengembangan teknologi berwawasanlingkungan dalam pengelolaan industri pulp dan kertas.