"Aku ingin ke Jogja atau minimal ke Mamuju untuk tahun baru nanti." Begitu kata Ammoz, adikku.

"Kenapa harus Jogja?" tanyaku kemudian. 

Menurutnya, Jogja merupakan representatif kota terkeren yang pernah dia kunjungi. Apalagi, Jogja termasuk kota besar yang akan sangat penuh warna ketika tahun baru. Kalau Mamuju, karena ia merupakan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Barat pasti juga akan sangat ramai.

Aku kemudian membagikan salah satu artikel padanya dari suatu platform, bahwa Jogja bukanlah tempat asyik jika tahun baru, akan sangat macet sekali banget. Begitu analisis penulisnya yang kutangkap, karena orang-orang akan bertemu pada suatu titik.

Pada Suatu Titik

Perayaan tahun baru biasanya dibarengi dengan liburan yang panjang. Sehingga, sebagian dari kita bisa menghabiskan liburan dan tahun baru di kota-kota besar, tempat destinasi wisata, sampai liburan keluar negeri.

Namun, beberapa dari kita mungkin harus berada di rumah, rumah sendiri untuk merayakan tahun baru. Tidak ada salahnya, kan? Di sudut-sudut rumah kita di tempat terpencil pun seperti desa banyak yang menyambut tahun baru, dengan menyalakan kembang api.

Walau, ada juga suara-suara sumbang tentang merayakan tahun baru yang identik dengan perayaan umat lain, yang katanya, karena merupakan tahun masehi. Belum lagi, terompet yang bisa membuat kita tertular penyakit seperti Hiv Aids karena sebelum dijual terompet dicoba beberapa orang (Hadeh hoaks!).

Di sisi lain, tahun baru begitu dipuja. Kita bisa bersenang-senang di tahun baru dengan makna yang positif menyambut hari dan semangat baru. Namun, di sisi (sebelahnya) lagi, tahun baru merupakan perayaan yang penuh dengan "kemaksiatan".

Aku sendiri, di setiap tahun baru, merayakannya sesuai dengan kemampuan. Sesuai dengan kemampuan, maksudnya, sesuai dengan situasi dan kondisiku (sikon) saat itu.

Misalnya, sewaktu kuliah di Jogja, ketika tahun baru tiba, aku cuma asyik sendiri nonton. Menonton di televisi, karena biasanya, film yang diputar seru-seru (bukan saru-saru). 

Saat itu, aku yang lagi asyik-asyiknya nonton bisa terkaget-kaget mendengar bunyi petasan di mana-mana seperti bunyi tembakan dalam perang. Yang merayakan dengan kembang api dan petasan juga lagi asyik-asyiknya menunggu pergantian tahun.

Di waktu aku kerja di Bone, Sulawesi Selatan, aku pulang ke Makassar karena mendapat jatah libur beberapa hari. Walau di perjalanan, rasanya, kami dikejar bom molotov. Karena sejak dari Bone sampai Makassar waktu itu, kembang api yang dinyalakan secara besar-besaran.

Ketika kembali ke kampung halaman, Sulawesi Barat, aku menghabiskan tahun baru dengan bakar-bakar jagung, jalan ke pantai, dan seperti biasa nonton TV bersama sanak keluarga. Namun, paling sering dengan gadis-gadis remaja di sekitar rumahku yang dilarang pergi oleh orang tuanya bersama pacarnya. 

Menurut orang tua di sekitar, beberapa kejadian, beberapa pasangan tahun baru akan menikah karena "kecelakaan". Beberapa anak muda memang menghabiskan waktu semalam suntuk bahkan sampai pagi untuk bertahun baru dengan pasangannya yang sudah lama kenal atau baru kenalan. 

Namun, menjelang tahun baru 2020 ini, ada chat dari seorang kawan perempuan. Namanya, Mila. Dia merupakan seorang aktivis perempuan Mandar*, pekerja sosial, juga pelaku literasi, dan seabrek kegiatan lainnya.

Katanya, "Ayo melingkar di malam tahun baru ini, ajak para perempuan. Kita buat "majelis". Kita buat resolusi perempuan Mandar tahun 2020."

Wow, ide yang sangat keren. Langsung saja kuiyakan, ya, bahwa aku mau duduk bersama di malam tahun baru ini. Padahal, belum tentu ibuku yang lansia mengizinkanku keluar malam. Dia begitu risau dengan petasan dan segala macam keramaian macam tahun baru. 

Kembali ke Mila. Mila sangat resah dengan perempuan-perempuan Mandar yang tidak memiliki karakternya, identitas lokalnya. Belum lagi, dengan banyaknya pengaruh negatif dari mana-mana sehingga, perempuan Mandar (harus) belajar fiqih agama.

Selain itu, aku pribadi tidak melihat dari sudut pandang Mila saja. Namun, pada sudut pandangku, aku melihat perempuan Mandar masih sangat dibelenggu adat dan budaya patriarki. Nantilah, kami akan mengobrolkan itu sebentar.

Dia pun membuat grup, perempuan Culture, komunitas perempuan kultur non politik. Kami akan mengundang beberapa nama perempuan Mandar yang muda (berjiwa muda), punya concern pada masalah keperempuanan, dan mau sharing bagaimana perempuan Mandar, atau kami menyebutnya, towaine Mandar ke depan menghadapi era 'disrupsi'.

Beberapa perempuan yang kukenal di grup itu pun menghubungiku, apakah acara ini jadi? Bagaimana dengan tempatnnya? Apakah jadi di alam? Terus konsumsinya? Aku jawab, jadi InsyaAllah, ruangnya di alam terbuka, dan CK-CK (alias urunan).

Baiklah, malam ini, malam tahun baru, 2020, kami beberapa perempuan Mandar akan bertemu pada suatu titik. Suatu titik di atas bukit di kabupaten Majene. Kami akan membincangkan perempuan Mandar mulai dari refleksinya tahun ke tahun sampai pada resolusinya nanti ke depan.

Doakan kami, perempuan-perempuan Mandar ini menjadi perempuan yang sejatinya, tetap cinta pada budaya kami, cinta pada negara dan bangsa kami.

*Mandar merujuk pada nama suku, nama daerah di Sulawesi Barat, Indonesia.