Pernahkah kamu bosan dengan masakan ibumu? Seumur hidupmu? Kalau ada, mungkin aku pengecualian.

Bosan adalah kata yang tercoret dalam daftar memori tentang masakan ibu.

Melihat sambal goreng krecek bergolak di panci, lengkap dengan cabai merah gendut-gendut. Baunya mengalahkan segala rasa kenyang. Pasti kamu akan segera ambil piring lalu melengkapi nasi putih dengan sambal goreng krecek. Itu saja sudah memuaskan rasa lapar yang mendadak datang kembali.

Tak hanya sambal goreng krecek, tapi lengkap dengan ayam areh, gudeg, dan tahu opornya. Itu surga. Apalagi ayam dengan bumbu areh yang dimasak berjam-jam sampai empuk.

Ah, aku jadi ingat Dewi, temanku. Dia suka mbrakoti balung ketika makan di tempat Uti, begitu teman-temanku memanggil ibuku. Dewi tak makan nasi, jadi Ibu menyiapkan suwiran ayam dengan banyak balungan dan krecek.

Krecek Uti beda. Tak mudah hancur seperti krecek kebanyakan. Bumbu arehnya juga masuk sampai ke tulang-tulang,” ujarnya. Setiap video call dengan Uti, salam pembukanya adalah, “Uti, saya kangen mbrakoti balung!”

Uti jualan gudeg, mungkin sudah lebih lama dari umurku. Itu artinya lebih dari 45 tahun; dan selama itu juga aku tak pernah bosan dengan gudeg Uti. Ndak malu apa dengan pekerjaan ibumu?

Malu? Kata itu sudah aku kubur jauh sebelum sempat muncul. Bagaimana mungkin kamu malu dengan pekerjaan ibumu? Pekerjaan yang menghidupimu, menyekolahkan kamu, dan menyehatkan kamu di kala sakit. Pekerjaan yang membuatnya kenal dengan banyak orang. Pekerjaan yang membuatnya dikenal pelanggannya sejak mereka kanan-kanak hingga beranak-pinak.

Saat libur sekolah, itu bagai reuni Uti dengan pelanggan-pelanggannya yang sudah tersebar di seluruh Indonesia. Kebayang, kan, bangga dan bahagianya Uti saat pelanggannya yang dulu masih kecil dan sekarang sukses dengan pekerjaannya, menelepon dari bandara begitu mendarat di Yogya hanya karena kangen gudegnya?

Uti sering menceritakan ini. Mungkin pelanggan-pelanggan ini sama dengan aku yang selalu kangen masakan ibu. Kangen dengan kenangan yang menghiasi masa kecilnya dulu.

Aku yakin, pelanggan Uti akan segera keluar dari bandara menuju warung Uti demi menggenapi kenangan. Pasti, ia atau mereka sudah ngeces sejak beberapa hari sebelum pesawat berangkat. Sama ngeces-nya dengan Dewi yang telepon dan bilang: “Uti, aku kangen mbrakoti balung!” Bagi pelanggannya, masakan Uti sama seperti masakan ibunya karena masakan Uti jadi sarapan wajib buat mereka.

Uti adalah generasi kesekian di keluarganya yang jualan gudeg. Ibunya yang dipanggil simbok pun jualan gudeg. Di keluarganya ada beberapa juga yang jualan gudeg. Di Yogya memang banyak penjual gudeg dan masing-masing orang akan menjadi pelanggan loyal karena cerita-cerita yang menyertai atau kecocokan dengan lidahnya.

Hari Uti dimulai dengan belanja ayam, bumbu, dan kebutuhan lainnya tiap selesai jualan. Oh ya, Uti hanya jualan selama dua jam. Itu makanya tak kau jumpai gudeg racikan Uti di gofood atau grabfood. Cukup dua jam saja; habis untuk sarapan tetangga-tetangga yang jadi pelanggannya.

Tapi jangan kau kira, jualan dua jam persiapannya sekejap juga. Tidak. Selesai jualan, Uti ke pasar. Beberapa penyuplai kebutuhannya memang datang ke rumah, dan Uti tinggal melengkapi kekurangannya. Entah sudah berapa banyak pembuat atau penjual tahu yang jadi langganannya. Penjual tempe, rasanya hanya satu-dua saja.

Sampai rumah, Uti istirahat. Duduk depan televisi menunggu kantuk datang. Namun itu sangat jarang. Ia lebih sering menggeser perabotan rumah agar sesuai dengan gaya yang ia inginkan. Kalaupun sempat tidur, hanya sejenak. Sore sudah dimulai dengan aktivitas racik-racik. Menyiapkan ayam, bumbu, serta tahu dan tempe. Lalu belanja lagi kalau ada kekurangan.

Uti tak sendiri. Ia dibantu Mbak Ijah. Baru saja aku hitung di kalkulator berapa lama Mbak Ijah bekerja dengan kami. Tiga puluh lima tahun! Ya, seumur adikku yang paling kecil; yang lahir pada 1985. Mbak Ijah sudah menemani Uti sejak ia masih gadis hingga kini sudah bercucu satu.

Mbak Ijah punya tiga anak. Sulungnya perempuan dan sudah menikah. Dua anak lainnya laki-laki dan sekarang sudah bekerja. 

Anak perempuannya, Nur, tinggal di Bekasi, ikut suami. Lebaran kali ini rencananya kami akan mudik bersama. Nur sudah minta izin aku beberapa bulan lalu untuk pulang bareng. Tapi apa daya, pandemi membuat kami harus memupus keinginan ini. Lebaran tanpa sungkeman jadinya.

Tepat pukul tiga subuh, Mbak Ijah membersihkan ayam, memotong tahu dan tempe; menyiapkan bumbu dan membuat santan untuk sambal krecek dan tahu areh.

Biasanya, jadwal kerja perempuan hitam manis itu dimulai dengan mencuci semua perabot masak. Cuciannya bersih meski ia tak menggunakan banyak sabun. Dia akan lapor pada Uti perabot apa saja yang sudah rusak dan perlu segera diganti.

Lalu pekerjaan ia lanjutkan dengan nyanteni, membuat santan. Dua panci besar untuk areh dan sambal. Ia tahu tingkat kekentalan santan yang harus dibuatnya. Tahu-tempe sudah disiapkan. Bagian terakhir adalah membereskan ayam-ayam. Begitu ritual kerjanya. Sebelum magrib, ia pulang.

Suami Mbak Ijah baru saja meninggal, sekira dua tiga minggu yang lalu. Subuh pagi buta ia gedor rumah ibuku. Rumah Mbak Ijah hanya selisih tembok dengan rumah Ibu. Ia bilang suaminya sesak napas dan tak sadarkan diri. Bergegas Uti membangunkan adik-adiknya.

Rumah keluarga besar Uti memang berdekatan. Mungkin dulu tanah Mbah kakung luas di sini dan sekarang sudah dibagi-bagi untuk anak-anaknya. Mbak Pademo Sentono, nama mbah kakungku. Tinggi besar badannya. Kejawen kepercayaannya. Aduh, aku kok lupa ya nama simbok atau simbah putriku. Nanti aku tanya Uti dulu, ya. Yang aku ingat malah nama mbah buyutku: Wiryo Jemiko. Cantik orangnya.

Uti cerita tak mudah untuk membawa suami Mbak Ijah ke rumah sakit. Korona sudah dua bulan melanda. Siapa berani menolongnya tanpa alat pelindung badan yang sempurna? Apalagi gejalanya sesak napas. Tapi yang sakit harus segera ditolong, bukan?

Rumah sakit didatangi tapi mereka menolak. Pindah ke rumah sakit lain dan sama saja; ditolak. Mungkin korona membuat mereka kewalahan menerima pasien.

Mungkin beberapa rumah yang seharusnya sehat itu tak siap dengan pasien-pasien gejala Covid-19 dan langsung merujuk ke rumah sakit pemerintah. Di rumah sakit ketiga baru diterima. Masuk ICU dengan tempat terpisah. Aku hargai prosedur rumah sakit ini demi keamanan bersama, apa pun diagnosisnya nanti.

Hingga tengah hari, aku masih memantau yang terjadi di Yogya. Aku tahu semua panik. Kalau benar korona tentu lebih repot lagi nantinya. Ibu terus berkabar.

“Sudah dapat rumah sakit, Mbak,” di ujung telepon Ibu menyampaikan kabar. Ikut lega mendengar informasi ini.

Dering telepon tak lama terdengar lagi. Dari Uti. “Mbak, suaminya Mbak Ijah meninggal. Kami sedang beres-beres rumah menunggu jenazah datang. Bukan karena korona, mungkin stroke dan bisa jadi pecah pembuluh darah,” jelasnya tergesa.

Aku kirim pesan ke Nur, anak Mbak Ijah. “Ndak usah pulang, Dek. Kita doakan saja dari jauh. Yang ikhlas, ya,” kataku. Ini pasti tak mudah dia putuskan. Tapi situasi tak memungkinkan untuk segera pulang. Di Yogya sudah menerapkan isolasi mandiri 14 hari bagi siapa pun yang baru saja datang dari Jakarta.

Tensi suami Mbak Ijah memang sempat tinggi beberapa hari ini hingga ia sesak napas dan tak sadarkan diri di subuh yang basah. Jenazahnya ternyata tak sempat mampir ke rumah. Petugas dari rumah sakit langsung membawa ke pemakaman malam itu juga. Dimakamkan dengan prosedur penanganan Covid-19, meski bukan itu penyebab meninggalnya. Keluarga di Yogya begadang sampai pagi. Uti libur jualan dua hari.

Bagaimanapun, mereka keluarga kami. Ibu Mbak Ijah, Mbah Sumo, sudah bekerja bersama kami. Dari ibu turun ke anaknya. Pastilah lebih dari 35 tahun seperti yang aku sebut tadi.

Saat magrib datang, Mbak Ijah pulang. Pekerjaan sudah selesai. Kakung, sebutan untuk bapakku yang gantian ke dapur. Memasukkan ayam ke bumbu areh, setelah sebelumnya ia meniriskan tahu. Ia akan menjaga nyala api hingga dua jam dan kadang dilanjutkan dengan memindahkan panci besar itu ke atas bara arang hingga semalaman. Biar ayam matang dengan tanak dan bumbu meresap sampai ke tulang.

Kakung akan pulang ke rumah usai merendam beras yang akan ia jadikan bubur besok subuh. Dua tiga butir kelapa sudah dikupas. Kulit cokelat yang menempel di bagian luar kelapa dihilangkan hingga menyisakan daging putihnya saja. Butiran kelapa ini direndam air biar besok lebih empuk saat diparut. Ini semua tugas Kakung saat senja datang. Ia akan lakukan pekerjaan itu usai sembahyang petang.

Kalau religius dinilai dari ketaatan dan ketertiban berdoa, Kakung juaranya. Pagi jam enam tepat, ia akan ganti baju dengan rapi, masuk kamar lalu berdoa. Begitu juga jam enam petang. Ia akan mengulanginya.

Jam berapa pun ia berangkat tidur malam, tepat jam 12 dini hari, ia bangun untuk mengucap syukur atas karunia sehari dan hari baru yang akan dijalani. Doa-doa ini tak putus barang sehari pun, selama puluhan tahun.

Anakku sangat senang minta didoakan Kakung. Saat akan ujian atau hari-hari lain ketika ia memerlukan penguatan doa dari kakungnya. “Doakan ya, Kung. Besok aku ujian,” begitu pintanya selalu.

Kakung adalah pensiunan pegawai negeri di departemen sosial. Gaji kakung pada waktu masih aktif sangat kecil. Pensiunnya justru lebih tinggi dari gaji yang pernah diterimanya. Ini karena inflasi, nominalnya lebih banyak padahal mungkin nilainya lebih kecil. Ia orang yang lurus dan jujur. Baginya, kerja adalah pengabdian.

Kakung akan bangun jam 02.30 setiap harinya. Dapur adalah ruang kerjanya. Ia akan memanaskan air di dandang untuk menanak nasi. Dandang besar. Lebih dari 10 kg beras akan ia buat jadi nasi.

Satu lagi panci besar ia isi air. Saat air sudah mendidih, Kakung akan dengan cekatan memasukkan beras yang sudah ia rendam semalaman. Di sinilah bubur ia buat. Lebih dari 3 kg beras dengan 2-3 butir kelapa yang ia parut sambil sesekali mengaduk panci besar. Butiran beras akan hancur di adukan air panas. Jangan kau kira mengaduk tak perlu tenaga? Bisa pegal tak berujung kalau kamu berani coba.

Begitu parutan kelapa usai, Kakung membuat santan. Sedikit demi sedikit santan dimasukkan ke panci besar. Gurih santan ia sempurnakan dengan garam.

Aku pikir, bubur ini masterpiece Kakung. Bubur buatannya pulen, lembut, dan gurih. Bubur ini juga jadi menu andalan di warung Uti. Bagi bayi yang sudah boleh makan tambahan hingga lansia yang sulit mengunyah karena gigi sudah pamitan, bubur Kakung jadi andalan sarapan.

Bisa kamu bayangkan harum bubur dituang di atas daun pisang? Aroma ini jadi kenangan. Mereka yang punya bayi akan memesan bubur polos tanpa areh, tanpa tahu dan juga telur. Separuh dimakan pagi, sisanya untuk siang hari.

Bukan hanya bayi dan lansia, yang dewasa pun pasti suka. Bubur pulen dengan gudeg krecek, telur dan ayam areh. Ditambahi cabai rawit. Kenangan bubur gudeg ini sering kali memanggil untuk pulang ke Yogya.

Kalau disuruh masak seperti ini, pasti aku tak sanggup mengaduknya. Adukan yang membuat bubur benar-benar pulen dan tanak. Hingga siang, bubur tak akan mencair karena kurang matang.

Kakung sekarang 72 tahun dengan diabetes yang sudah puluhan tahun di badannya. Ia rutin minum obat. Dulu ia penggemar nasi, kini makan kadang hanya sekali. Itu pun sudah membuat perutnya kenyang seharian.

Kadang kalau gula darah Kakung tinggi, ia akan tidur seharian(repetisi). Pernah juga barangkali gula darah sedang tinggi tapi tak ia rasakan. Ia pergi ke dapur seperti biasa.

Oh ya, dapur dan rumah itu terpisah 15-20 meteran. Sejak maghrib hingga hampir jam delapan Kakung tak kunjung pulang. Uti cemas. Lalu menyusul ke dapur. Ia lihat Kakung tersungkur. Badan Kakung berat, tak kuat Uti papah sendiri. Ia panggil adik-adiknya untuk membantu.

Wajah Kakung lebam. Mungkin memar karena terantuk sesuatu saat jatuh tanpa seorang pun menolong hampir dua jam. Di rumah, Kakung diwanti-wanti agar kasih tahu kalau ingin bergerak ke mana saja, termasuk ke kamar mandi.

Mungkin karena tak ingin merepotkan, Kakung berusaha sendiri ke toilet saat subuh berikutnya datang. Uti sudah ke dapur sejak jam tiga pagi. Kakung hanya sendirian tak ada yang menemani. Lagi-lagi bapak jatuh. Kali ini di kamar mandi. Hampir dua jam lamanya tanpa ada yang “ngonangi.”

Ceritaku seolah aku ada di sana, ya; dan melihat sendiri semuanya. Padahal aku tak tahu sama sekali. Uti baru cerita setelah dua tiga minggu berlalu. Memar hitam di muka kakung sudah samar meski masih tampak biru memar.

“Itu sudah lumayan, Mbak. Tadinya hitam sekali,” ujar Uti saat aku bergegas pulang begitu tahu kabar yang sudah telat tiga minggu diwartakan tersebut.

Saat susah, bapak ibu tak pernah berkeluh kesah. Tak pernah mereka ngabari anak-anaknya pada saat-saat seperti ini. Suatu saat rumah terbakar. Tepatnya aku tak tahu, terbakar atau ada barang yang terbakar.

Kakung baru keluar dari kamar mandi menjelang maghrib. Ia kaget melihat asap gelap memenuhi rumah. Bergegas ke kamar mandi lagi untuk mengambil air dan menyiramkan pada bagian yang ia anggap sumber kebakaran. Beberapa kali balik ke kamar mandi, sampai akhirnya asap tidak ada lagi, berubah menjadi jelaga hitam yang menempel di plafon dan tembok rumah. Hitam semua.

Kamu tahu jelaga, kan? Tipis tapi begitu lengket kalau sudah menempel di plafon dan tembok rumah. Rumah yang belum lama dicat dan direnovasi oleh Uti dan Kakung.

Lagi-lagi ceritaku seolah aku ada di sana, ya. Padahal aku baru tahu tiga minggu setelah kejadian. Lalu bergegas pulang.

Itulah bapak dan ibuku. Apa yang masih bisa ditangani sendiri tak akan dibagi dengan anak cucu. Duka lebih sering mereka simpan sendiri. Tapi kalau ada berita bahagia, bergegas Uti akan menghubungi.

“Bhumy mau dibelikan kaos, tidak? Uti sedang piknik di pantai,” teriaknya di ujung telepon saat sedang piknik dengan teman-temannya. Mungkin begitu juga kakung dan uti di seluruh muka bumi ini.

Wajar anakku sering ditanyakan kabarnya oleh Kakung-Uti. Sejak bayi mereka yang merawatnya. Entah bagaimana dulu mereka membagi waktu. Saat Uti jualan, Mbak Ijah yang pegang bayiku. Sesekali Kakung dan adik Uti.

Bhumy nama anakku. Benaeng Ulunati Bhumy Taruwara. Berulangkali sudah aku jelaskan padanya arti namanya. Beningnya kalbu atau nurani tempat tumbuhnya bibit pohon terbaik atau kebaikan. Aku yang buat pilihan nama ini tentu saja. Bukan sekadar indah, ini doa. Gabungan dari bahasa berbagai daerah di Nusantara.

Anak yang terlahir dalam sunyi di kamar operasi. Selain pencinta nama dengan doa, aku juga suka dengan tanggal lahirnya: 20-04-2004. Bagus, bukan? Pencinta angka yang belum terkontaminasi 212, yang menjadi gelombang politik beberapa waktu lalu.

Tak sengaja memilih tanggal lahir untuk anakku. Terjadi begitu saja. Mungkin aku berjodoh dengan tanggal-tanggal bagus. Pernikahanku terjadi pada 14 Februari. Romantis, bukan? Ini juga tak sengaja. Sudah..sudah. Kamu tak usah bertanya mosok tanggal pernikahan tak direncanakan. Panjang ceritanya. Tak cukup 1000 kata untuk menuliskannya. Jadi lebih baik tak usah kau tanya.

Biarlah aku dan Bhumy tumbuh dengan semua keajaiban dunia. Angka-angka terbaik untuk rezeki kami. Pertemanan tak terbatas benua dan juga kehangatan teman-teman dari berbagai belantara. Percaya saja keajaiban ini.

20 April lalu adalah ulang tahun Bhumy yang ke-16. Tanpa perayaan. Sunyi belaka. Bahkan ia harus ujian online untuk menyelesaikan sekolahnya. Tak ada kado. Kue ulang tahun pun dikirim teman siang harinya. Tak ada tepuk tangan dan perayaan. Kami berdua percaya hidup itu sendiri adalah pesta. Perayaannya setiap hari.

Perjakaku makin tahu laku prihatin. Ia tak akan mengeluh makan seadanya atau harus membereskan rumah karena mbak yang biasa membantu tak bisa datang. Ia tumbuh tanpa mengeluh.

Adik ibuku, Om No, kami memanggilnya, sejak kecil juga mengasuh Bhumy. Ia gemati. Punya uang sedikit, dengan suka cita berbagi dengan Bhumy di angkringan. Atau kadang jajan pecel lele kesukaan anakku di bawah pertigaan Janti.

Om No pelihara banyak burung. Burung-burung yang bagus dan beragam warna serta suaranya. Pakannya mungkin lebih mahal dibandingkan makanannya. Om No juga yang membantu Uti belanja dan mengantar kondangan dengan kendaraannya. Ia akan bebenah rumah kalau ada genteng bocor atau apa pun yang perlu perbaikan darinya. Adik yang baik.

Meski hubungan kakak-beradik tak selalu mulus, tapi Uti belajar untuk nyrateni ati. Sebagai pengganti orang tua, adalah tanggung jawabnya untuk peduli. Meski tak jarang ada air mata dalam perjalanan persaudaraan mereka, tawa juga tetap mewarnainya.

Kalau kusebut nama Uti, Mbak Ijah, Kakung, Bhumy, dan Om No, seakan itu urutan prioritasku. Padahal nama-nama itu akan selalu berputar mengikuti waktu. Bagiku, setiap nama dalam jumpa adalah guru kehidupanku. Bagaimanapun caranya. Termasuk namamu juga. Setiap nama sangat berharga bagiku, karena ada jiwa di sana.

Tak mungkin aku menjadi seperti sekarang ini bila tak ada torehan namamu dalam perjalanan hidupku.