Pada dasarnya manusia memang gampang sekali baper. Baru juga kenalan, udah ngerasa bakal jadi suami istri saja. Berpikirlah sedikit saja, jangan sampai cinta pada pandang pertama membutakan kita.  

Seru kali ya kalau bisa menikah tanpa ribet harus pacaran. Ya biar keren juga sih, mirip-mirip pernikahannya Dinda Haw gitu.

Pastinya saya mendukung itikad baik tersebut, hanya saja tolong berhenti sejenak untuk bercermin. Apakah sudah benar keputusan itu? Jangan sampai hanya mengikuti derasnya arus informasi di media, terus ikut-ikutan!

Saya pikir semua yang diunggah oleh pihak yang berbahagia adalah sisi bahagianya saja. Bisa jadi kita ketinggalan langkah-langkah yang tidak diunggah, padahal itu penting banget. Sebab mempersiapkan calon pasangan yang baik itu sebenarnya tidak semudah jatuh cinta di masa SMA. Terlebih ini calon yang baru kita kenal, sangat mungkin setiap yang kita lihat merupakan sisi indahnya saja, kan?

Kesalahan pertama, yaitu cinta pada pandang pertama membutakan mata hati kita. 

Minimal jangan terlampau goblok seperti teman saya. Yang pertama sebut saja namanya Badrun. Dia ini salah satu korban salah kaprah dalam memahami konsep pernikahan yang islami. Dia kenal sama wanita lewat Facebook, lalu tak lama kemudian dia memutuskan untuk menikah. Ketemu juga belum. Eh dia malah bilang, engga usah ketemu toh sudah merasa cocok! Anjay!

Ini Badrun sudah gila apa gimana ya? Jika mau beli barang lewat online saja kudu teliti; harus lihat ulasan pembeli sebelumnyalah, harus nanya-nanya langsunglah, baca deskripsilah. Lah ini si Badrun, main cocok-cocok saja? Buru-buru amat, Drun! Badrun! 

Jangan berpikir jalan menuju pernikahan itu seperti yang ada dalam sinetron, yang serba ndilalah ya, Akhi~! Karena sebenarnya tahapan mengenal calon itu lebih penting daripada segenap prosesi yang nantinya bakal ditempuh berdua.

Salah satunya jangan meniru Khoirul Azzam di film Ketika Cinta Bertasbih. Iya, tanpa melihat seperti apa itu Anna, ia bersikeras ingin melamarnya. Ndilalah, Anna itu cantik beneran. Lah kalau ternyata cantiknya tidak seperti yang kita harapkan? Waduh, bisa-bisa dalam waktu dekat minta cerai.

Ya kalau menang masih bersikeras mau meniru Khoirul Azzam, mulai sekarang coba belajar menerima bila istrimu nanti tidak begitu cantik. Cari alasan lain, misalnya karena kecerdasan atau prestasinya. Intinya, kenali calon pasangan dengan sebenar-benarnya. 

Maksud saya begini, jangan senang berlebihan terlebih dahulu. Bisa jadi dengan calon yang sedang kita kenal ini ada yang tidak kita sukai. Bukan suudzon, tapi waspada. Toh kembali lagi, tujuan taaruf itu untuk mengenali si calon. Simpan cinta pada pandang pertama itu, lalu coba sedikit saja curiga.

Kesalahan kedua, yaitu menentukan kriteria yang tidak untuk jangka panjang. 

Teman saya ada yang sempat menyesal sudah menikah loh. Padahal dijodohkan pun tidak. Taaruf pun  sudah dilakukan dengan benar. Hanya ada satu kekeliruan yang dia ambil, yaitu dia menentukan kriteria yang kurang penting sebenarnya. 

Dia menginginkan seorang suami yang tampang dan penampilannya badboy, padahal teman saya ini perempuan kalem yang ke mana-mana berpakaian rapi seperti muslimah pada umumnya. Kata dia, badboy itu keren. Aduh mainmu kurang jauh, Yu! Cahayu!

Pada akhirnya teman saya ini merasa bosan menjalani pernikahannya. Padahal suaminya juga tidak terlalu nakal. Ya seperti laki-laki pada umumnyalah, yang jarang salat, pulang malam, merokok, dan berbagai macam itu. Bukankah dulu hal seperti itu yang dia inginkan? Tapi justru hal itu sekarang membuatnya bosan. Wah celaka!

Saat ini, dia malah menginginkan suaminya mengajaknya untuk salat berjemaah dan lain sebagainya. Seperti romantisme sepasang kekasih yang islami. Wah kan sulit ya udah telanjur seperti itu? Bukankah mengubah watak itu kan susah, ya? Akhirnya dia cerai tuh. Wah eman-eman, tahu gitu dulu saya berpenampilan badboy saja ya? Daripada pakai peci dan sarung malah engga dilirik. 

***

Kembali ke teman saya Badrun, ini juga sama. Baru sehari menikah minta cerai. MasyaAllah. Kok bisa gitu ya? Padahal dia yang memilih sendiri, tapi masih saja salah memilih orang. Ceritanya begini.

Istrinya si Badrun, di malam pertamanya sakit perut. Lalu dibawa ke rumah sakit. Bukannya mendapatkan resep obat dari dokter ketika Badrun dipanggil oleh perawat, ia malah mendapatkan ucapan selamat atas lahirnya anak pertama. Ini kan hal yang konyol sebenarnya? Tapi kenapa hal seperti ini nyata terjadi?

Taarufan tidak segoblok itu kali. Saat itu saya mau marah, ya mau ketawa, wis campur aduk perasaannya. Bahkan saya bingung mau bicara apa. Orang-orang di kampung saya udah geger seperti ada Anoman Obong.  

Keesokan harinya, Badrun beneran menceraikan istrinya. Sungguh tragis pernikahan tanpa pacaran yang dilakukan oleh Badrun. Hanya bermodalkan semangat ingin menikah yang keren, tapi justru niatan baiknya membuat dia malu di depan banyak orang.

Bukankah segala sesuatu yang buru-buru itu tidak baik? Bisa jadi, kegagalan untuk menikah adalah yang terbaik untuk kita. Tidak masalah tertunda sekian bulan, bahkan tahun, percayalah Tuhan telah menyiapkan satu yang terbaik.

Kesalahan keempat, yaitu sok tahu. 

Dari kisah Badrun, kalau saya jadi Badrun, saya akan bersujud minta ampun ke Allah karena sudah sok tahu. Aturan saya ini mengaku bodoh di hadapan Allah, dengan cara itu mungkin Allah akan memberikan pengetahuan kepada saya. Bukan malah sok tahu, padahal ada Allah Yang Mahatahu.

Seperti yang kita pahami, taaruf adalah jalan yang sudah ditentukan oleh Allah untuk orang-orang yang beragama Islam. Pakailah cara itu dengan benar-benar dan jangan memisahkan cara baik itu dari Allah. Karena setiap usaha harus diikuti dengan memasrahkan hasil akhirnya kepada Allah semata.

Kesalahan kelima, yaitu mencari yang sempurna. 

Jangan goblok nemen loh, Cah! Apalagi mencari yang sempurna itu parah banget, mungkin sampai kiamat pun tidak akan ditemukan pasangan yang sempurna.