Pelajar
2 bulan lalu · 89 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 44298_58366.jpg
Pinterest

Lima Babak Pembunuhan Sebuah Objek

Subjek membunuh objek. Subjek + Predikat + Objek. Begitu saja. Protagonis bersayap putih membunuh ayahnya, ibunya, adik-adiknya, paman-pamannya, bibi-bibinya, kakek-neneknya, buyut-buyutnya, tetangga-tetangganya, guru-gurunya, dosen-dosennya, dekan-dekannya, rektor-rektornya, sahabat-sahabatnya, teman-temannya, kolega-koleganya.

Ia juga membunuh penulis-penulis yang disukainya, pemusik-pemusik yang disukainya, seniman-seniman yang disukainya, aktor dan aktris yang disukainya, sutradara-sutradara yang disukainya, menteri-menterinya, presiden-presidennya, polisi-polisi yang mencarinya, polisi-polisi yang memberi perintah kepada polisi-polisi yang mencarinya. 

Ia juga membunuh orang-orang yang dicintainya, orang-orang yang dibencinya, orang-orang yang dikenalnya, orang-orang yang tak dikenalnya, orang-orang yang pernah ditemuinya, orang-orang yang tak pernah ditemuinya, orang-orang secara urut, orang-orang secara acak.

Ia juga membunuh hewan-hewan di sekitarnya, semua hewan, tumbuhan-tumbuhan di sekitarnya, semua tumbuhan, benda-benda mati, lemari, nuklir, jendela, buku, komputer, pabrik, seluruh pakaian, menara-menara, gedung-gedung, zat-zat, ideologi-ideologi, undang-undang, hukum-hukum, teori-teori, bumi, planet-planet, bintang-bintang, galaksi-galaksi, semesta, kosmos. 

Protagonis bersayap putih membunuh semuanya.

___

Objek-objeknya dibunuh dengan cara yang sama. Sebelum memulai semua objek, protagonis bersayap putih mempersiapkan triliyunan pensil. Pensil-pensil itu diserutnya sampai runcing. 

Prosesnya sederhana, ia datang dengan latar musik Requiem Lacrimosa, menatap wajah-wajah objek dengan wajah datar dan sepasang sayap yang merekah agung, lalu dengan khidmat menancapkan pensil-pensil itu ke tengkorak dan dada kiri objek dengan tangan kanan dan kirinya, tahap terakhir adalah mengoyak bagian dalam, otak dan jantungnya. 

Ia mengoyak organ-organ itu seperti mengocok adonan kue. Punya ataupun tidak, ia tetap mengoyak kedua bagian itu. Setelah itu ia pergi, Lacrimosa masih melantun.

___

Protagonis bersayap putih pikir ia tak memiliki antagonis karena tujuannya tercapai dengan mudah. Karena mudah, setelah semuanya mati, ia merenung sesaat di tengah kekosongan, di tengah gulita, berpikir apa selanjutnya yang akan ia lakukan. 

Tiba-tiba ia tertawa, benar-benar tertawa. Tertawa sampai perutnya sakit, sampai keringat bercucuran, sampai bulu-bulu bersih di sayapnya terlepas, sampai pita suaranya serak. Ia menertawakan ketiadaan di sekitarnya. Lalu setetes air mata jatuh dari mata sebelah kirinya, dan ia tetap tertawa. 

Setelah menertawakan kekosongan selama beberapa menit, ia ulangi lagi apa yang telah dilakukan sebelumnya terhadap objek-objek mati. Ia membunuh semuanya lagi dari urutan awal, namun sekarang bukan dengan wajah datar, tetapi dengan tawa ketika ia mengoyak seluruh tubuh objek, dengan perut terkocok jenaka saat darah objek-objek mati terciprat ke seluruh tubuhnya dan sayapnya yang putih. 

Ia koyak wajah, perut, tangan, kaki mereka dengan pensil-pensil bekas yang telah menancap di tengkorak dan dada kiri para objek. 

Itu semua dilakukan dengan damai, dengan Monlight Sonata melantun indah dari piringan hitam yang satu-satunya ia sisakan. Sangat syahdu dan menggairahkan. Darahnya memuncak, lalu ia ejakulasi.

___

Protagonis bersayap putih baru sadar bahwa semuanya telah terbunuh, tapi ia bingung mengapa masih menghadapi 'kenyataan' saat itu. Kenapa kenyataan tak mati juga? Padahal impian sudah mati. Padahal mimpi sudah terbunuh. Tapi mengapa kenyataan masih bernapas? Ia pikir ia telah membunuhnya bersamaan dengan eksistensi.

Saat menyadari hal itu matanya terbelalak dan memerah, tubuhnya terguncang, ia dikuasai amarah, dan berteriak-teriak tak karuan. Masih ada dua pensil tersisa di genggamannya. Ia mengayunkan kedua pensil ke mana-mana, ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, bersiap untuk bertemu kenyataan. 

Tapi kenyataan tak muncul, malah sesuatu bertanya kepadanya, 'Mengapa kau membunuh?' Protagonis cerita bersayap putih kaget, tapi bisa menjawab dengan tenang setelah menarik napas dalam-dalam, 'Karena ingin saja.' Ia bertanya-tanya siapa yang bertanya barusan, ia menduga ialah kenyataan itu. 

Ia mendengar suara itu dari kepalanya, maka ia tancapkan pensil di tangan kanannya ke kepalanya sendiri, ke tengkoraknya, lalu mengoyak otaknya, ia tersenyum, dan tertawa terbahak-bahak. 

Ia merasa berhasil membunuh sumber suara itu, si kenyataan. Namun muncul lagi suara yang bertanya, 'Mengapa kau ingin membunuh?' Darah mulai bercucuran deras dari kepalanya. 'Aku bilang karena ingin saja,' jawabnya lemas dan memaksa, urat di dahi dan lehernya mencuat. 

Ia tersadar, suara barusan datang dari dada sebelah kirinya, bercampur gemuruh genderang, lalu ia tancapkan pensil di tangan kirinya ke asal suara itu, mengoyak jantungnya, dan terbahak lebih keras lagi. Genderang yang tadi gemuruh temponya melambat perlahan.

Tapi suara yang bertanya itu masih terdengar, 'Mengapa kau bunuh objek?' 'Karena akulah subjek,' jawab protagonis cerita dengan kolam darah di bawah pijaknya. Tubuhnya terhuyung lemah. Tak ada jawab dari suara itu, protagonis bersayap putih terjatuh, kedua tangannya menarik kedua pensil dari kepala dan dada kirinya, lalu menancapkannya ke semua bagian tubuhnya, mengoyak tubuhnya sendiri, sayapnya yang putih ternodai sudah dengan lumuran kental merah darah.

Ia tetap tertawa di antara sadar dan tak sadarnya. Sebelum habis kesadarannya, ia mendengar suara itu lagi, semilir di kedua telinganya seperti angin musim gugur. Ternyata suara itu datang dari pensil-pensil yang menancap di setiap tubuh objek mati. Protagonis bersayap putih belum mengetahuinya, kesadarannya mengabur.

___

Pensil-pensil itu berkata kepada protagonis bersayap putih yang sekarat saat malaikat cantik bersayap hitam mengilap sedang menarik nyawanya, 'Akulah sang subjek. Idiot!'

Artikel Terkait