Selama proses Pilkada DKI yang sangat sengit ini, saya mencermati beberapa anggapan umum yang keliru tentang sosok dua paslon Gubernur kita, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Anies Baswedan, mantan Rektor tempat saya mengajar di Paramadina. Saya mengamati, persepsi kita yang dibentuk media atau medium lain seperti gosip ataupun hoax, justru sering bertolak-belakang dari apa yang senyatanya tentang sosok seseorang. Karena itu persepsi umum itu sering keliru, sehingga membuat pemahaman kita tentang seseorang justru terdistorsi bila kita enggan menyelam di kedalaman.

Sebelum memaparkan beberapa anggapan keliru tentang Ahok dan Anies, saya lebih dulu ingin berbagi pengalaman hidup yang semoga berguna. Sependek riwayat saya mengamati sosok manusia, saya sering kali sampai pada kesimpulan bahwa, tak jarang kita menemukan sosok yang tampak cantik-elok-budiman dari kejauhan, namun sesungguhnya buruk-elek-arogan saat diamati dari kedekatan. Sebaliknya pun bisa terjadi. Sosok yang tampak buruk-antik-arogan dari kejauhan, justru sosok paling baik, empatik dan budiman.

Karena itulah ada kearifan hidup agar kita tidak menilai buku dari sampulnya saja. Don't judge a book by its cover! Kita perlu dalam-dalam menyelami sosok-sosok yang sedang dihidangkan kepada kita, apalagi di masa-masa Pilkada, agar tidak termanipulasi oleh eloknya tutur-kata, senyum manis menawan dan bualan-bualan belaka. Tulisan ini hendak mengajak pembaca untuk merenungkan beberapa anggapan yang selama ini keliru, bahkan bertolak-belakang dari apa yang penulis pahami tentang sosok yang sedang kita bincangkan.    

Satu: Ahok Arogan, Anies Santun

Jika mencermati pemberitaan media dan bahkan video-video yang didokumentasikan dengan apik oleh Pemerintah Propinsi DKI, gampang sekali orang beranggapan bahwa Ahok adalah sosok yang kasar dan arogan. Ya, Ahok terkadang kasar, arogan, temperamental. Terutama terhadap ketidakbecusan dan kecurangan. Terhadap siapa saja, bahkan terhadap anggota dewan. Namun yang orang lupakan, bagaimana mungkin sosok kasar, arogan dan temperamental itu begitu bersedia dan sabarnya melayani berbagai keluhan dan pengaduan warga Jakarta di Balai Kota?

Perlu diingat, keluhan rakyat jelata itu terlalu banyak, tidak berhingga. Dan sebagian besar keluhan mereka mendapat porsi di telinga Ahok dan menemukan solusi yang cepat lewat instruksi-instruksi sosok yang kasar, arogan dan termperamental ini. Kalau anda bukan sosok yang altruis alias tak terlalu mementingkan diri sendiri, untuk apa anda sebagai pejabat harus bertungkus-lumus dengan persoalan keseharian semacam itu? Saya bertaruh, saya dan mungkin juga anda, boleh jadi tak akan kuat menyambut dan menyimak, apalagi mencari penyelesaian keluhan-keluhan warga yang berjibun dan tiap hari didera persoalan. 

Karena itu, saya terus terang meragukan kalau sosok Anies Baswedan akan mampu dan cukup sabar melakoni pekerjaan semacam itu. Sedang dengan karyawan-karyawan bawahannya di Paramadina saja dia kurang peduli, bagaimana mungkin dia akan peduli dengan rakyat jelata Jakarta? Saya tidak sedang membual, tapi pernah mendengar langsung keluhan satpam, pegawai kantin, pekerja kebersihan, dan orang-orang yang mungkin dipandang tidak terlalu penting di Paramadina.

“Dulu saat Cak Nur memimpin, dia masih sering menjenguk kantin dan ngobrol-ngobrol dengan kami, Pak. Tapi selama masa Pak Anies, jarang sekali kami disapa kalau tak bisa dibilang tidak pernah!”

Itulah salah satu testimoni yang pernah saya dengar langsung dari pegawai kantin di Paramadina. Saya tidak tahu, sejauh apa klaim semacam ini benar. Tapi jika melihat gaya Mas Anies, saya dapat melihat kecenderungan bernecis-necis untuk bersiap naik panggung dan enggan bergumul dengan kehidupan remeh-temeh sehari-hari orang-orang bawahan. Semoga saya salah dan kelak kalau Mas Anies menjadi Gubernur dia membuktikan saya benar-benar salah!   

Kedua: Ahok Mengabdi untuk Orang Kaya, Anies Pro-Orang Miskin

Untuk anggapan kedua ini, saya sepakat dengan Kang Yudi Latif yang menggambarkan Ahok seperti sosok Robin Hood yang sedikit banyak “merampok” orang kaya Jakarta demi membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial warga. Ketegasannya dalam memperjuangkan besaran kontribusi para pengembang untuk kesejahteraan orang banyak Jakarta, rasanya tak dapat lagi diragukan. Modal kedekatannya dengan para konglomerat itu sesungguhnya bisa saja dia manfaatkan untuk menyelewengkan aturan tata ruang ataupun amdal, misalnya—demi menebalkan kantongnya sendiri.

Itulah modus para pejabat NKRI selama ini (mengkapitalisasi kekuasaan). Jika itu yang terjadi pada Ahok, rasanya akan sulit bagi kita menyaksikan pesatnya pembangunan Jakarta dan banyaknya manfaat yang didapat warga seperti hadirnya ratusan situs-situs RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak). Kecurigaan bahwa Ahok kongkalikong dan hanya kacung dari para pengembang proyek Reklamasi misalnya, sungguh jauh panggang dari api. Yang justru terbukti adalah sebaliknya: persekongkolan lawan Ahok, salah satu anggota DPRD Jakarta dengan pengembang demi kekayaan pribadinya.

Kecurigaan atas kedekatan Ahok dan para pejabat NKRI manapun dengan para pengusaha sehingga berpotensi mengakibatkan kerugian sosial-ekonomi bagi masyarakat banyak, sesungguhnya merupakan kritisisme yang sehat belaka dan perlu terus dikejar dan dibuktikan aspek-aspek koruptifnya. Tapi hanya mencurigai Ahok seorang yang kebetulan Cina, yang sejauh ini telah bekerja secara transparan, justru jauh dari sehat. Asas melihat semua pejabat NKRI adalah praduga bersalah, sampai mereka terbukti tak bersalah. Praduga koruptif sampai mereka terbukti tidak mencuri dan memperkaya diri sendiri.

Hal itu jugalah yang perlu kita teroka dari kasus kedekatan Anies Baswedan dengan sosok pengusaha macam Hary Tanoesoedibyo, misalnya. Apakah Mas Anies kelak akan mampu menjadi sosok Robin Hood warga Jakarta atau justru menjadi Robin Sanusi atau sosok lainnya? Yang perlu dicermati juga: apakah tolak reklamasi yang diwacanakan Mas Anies saat ini sahih-sahih demi kemaslahatan warga atau cuma gagah-gagahan masa Pilkada untuk kelak menjadi modal nego yang lebih bertenaga dengan mereka yang punya uang secara diam-diam?

Inilah PR kita bersama, siapapun yang kelak terpilih sebagai Gubernur Ibukota.

Ketiga: Ahok Mengkotak-kotakkan, Anies Mempersatukan

Ini juga salah satu anggapan yang menurut saya keliru. Bahwa Ahok terlalu saklek dan terlihat kurang bijaksana dalam berkomunikasi dengan orang, yes. Ahok tidak bisa basa-basi dan merangkul semua orang, yes. Ahok tidak bisa mengatakan ya saat dia mestinya berkata tidak, yes. Ahok bukanlah politisi yang baik—dalam artian selalu coba bersikap manis walau sedang berhadapan dengan hidangan yang pahit--juga yes. Tapi itulah karakter dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak mesti menyenangkan semua orang, apalagi demi merangkul mereka-mereka yang punya tuntutan mengada-ada dan tidak masuk akal.

Saya tidak tahu apakah faktor etnis ikut mempengaruhi sikap begini pada Ahok ataupun Anies. Sedangkal pengetahuan saya, orang Cina memang kurang pandai berbasa-basi (mohon koreksi kalau saya salah!). Kalau mereka menjual dengan harga lima ribu, itu sudah dengan asumsi bahwa dia mendapat untung sekian-sekian. Sejak kecil, saya disarankan berbelanja ke toko Minang kalau mau berlatih bersilat lidah demi mendapatkan harga miring. Kalau mau harga pas atau nego-nego yang terlalu pahit, barulah ke toko Cina—entah kenapa saya lebih suka kata Cina ketimbang Tionghoa.

Ini mungkin berbeda dengan Mas Anies yang selalu berupaya tampak manis. Bukannya bermaksud rasis, kebanyakan orang Arab memang paling pandai ber-mujamalah alias melakoni seni basa-basi dan bersilat lidah. Mungkin karena itu jugalah sebagian omongan mereka kurang bisa dipegang. Dalam soal pelayanan, jika orang Arab bilang bukrah alias esok, itu belum tentu esok urusan kita akan benar-benar kelar, sekalipun dia menyematkan kata insyaallah. Ungkapan bukrah insyaallah sangat mungkin tidak berarti esok, boleh jadi minggu depan, lebih selamat dimaknai sebulan lagi.

Itulah yang disebut mujamalah. Mengumbar kata-kata manis saja. Berdasarkan pemahaman saya tentang sosio-antropologi orang Arab, dan pengalaman bergaul dengan mereka yang masih terbatas, saya berpandangan bahwa orang Arab adalah mahkluk yang paling baik dalam urusan orasi dan puisi, namun bukan yang terbaik dalam soal pelayanan dan birokrasi. Semoga Mas Anies bukan bagian dari stereotipe ini, karena itu kelak akan mencelakakan birokrasi dan pelayanan warga Jakarta jika dia kelak ia terpilih.

Keempat: Ahok Terlalu Berkuasa, Anies Akan Demokratis

Ini salah satu anggapan yang paling keliru walau mungkin tak akan pernah bisa masuk dalam kamus Kelirumologi Jaya Suprana karena alasan yang dapat kita pahami. Bagi saya, Ahok itu tidak punya tulang-punggung apa-apa. Dia tak berpartai, tidak pula berormas. Dia minoritas rangkap tiga (triple minority): Cina, Kristen, bukan pula putera daerah. Kapan-pun partai dan para politisi mau berkonspirasi mengkhianati dan secara prosedural menjungkalkan dia, itu sungguh mudah.

Yang tidak mudah adalah, upaya itu akan berhadapan langsung dengan tenaga dalam Ahok yang kurang terlihat atau kurang diakui: meritokrasi dan energi voluntarisme. Meritokrasi menghasilkan orang yang cakap menjalankan program-program Ahok di berbagai bidang dan membantu keberhasilannya. Sementara voluntir lahir karena wujudnya orang-orang yang lelah dengan Jakarta yang lama mandek dan melihat Ahok telah menunjukkan kerja nyata dan banyak kemajuan.

Apakah sungai-sungai Jakarta yang mulai bening itu dapat dihasilkan lewat kompromi-kompromi politik demokratis dan lobi-lobi dengan para politisi? No! Itu hasil kerja-kerja profesional yang sungguh berdedikasi dan terkadang malah mengabaikan kepentingan-kepengingan para pihak yang saling bertabrakan.  

Kalau kelak Mas Anies terpilih, baik saja bila dia bersedia memperbaiki gaya kepemimpinan Ahok yang tampak sewenang-wenang. Tapi jangan pernah meremehkan dan mengubah gaya kepemimpinan yang berorientasikan pencapaian kinerja. Warga Jakarta tidak peduli berapa persen serapan anggaran yang kau realisasikan. Andai APBD Jakarta terserap 1000 persen pun tapi tidak menunjukkan hasil nyata di depan mata kepala mereka, itu sesungguhnya tiada berguna. Untuk apa? Untuk pajangan statistik dan sertifikat semata?

Itu sangat ketinggalan zaman. Ini waktunya Jakarta bangkit dan berbenah, bukan masanya bermanis-manis lidah agar tampak merangkul semua dengan hasil yang justru mengecewakan!

Kelima: Ahok Hanya Membangun Raga, Anies Akan Membangun Jiwanya

Ini salah satu pemikiran yang saya rasa sangat keliru. Di zaman Sukarno, saat Indonesia masih berupaya menyatukan sebuah negeri yang baru merdeka, bolehlah kita berkoar-koar soal pentingnya membangun jiwa kita Indonesia. Kalaupun yang dimaksud membangun jiwa itu adalah agar anak-anak bangsa berpikiran terbuka, berakhlak mulia, berjiwa sportif dan kompetitif, dan tidak lagi membeda-bedakan semua warga negara berdasarkan apapun latar belakang suku, agama, ras dan golongan mereka, aku sih yes.

Tapi kalau yang dimaksud membangun jiwanya justru merusak mental anak bangsa menjadi sosok-sosok berpikiran sempit, rajin memelihara iri dan berternak dengki, serta berakhlakkan sumpah serapah, mungkin kita perlu belajar lebih giat lagi ke negeri Arab. Seperti yang pernah disinggung Bapak Jusuf Kalla, mereka satu bangsa, satu bahasa, satu wilayah teritori yang tidak dijarakkan pulau-pulau seperti Nusantara, namun begitu mereka masih saja bercerai-berai dan bermusuhan. Kita mengira mereka serumpun satu keluarga, tapi sesungguhnya terus bermusuhan dan saling bersengketa. Tahsabuhum jami’an, wa qulubuhum syatta, kata Quran.

Sebagai umat yang mayoritas di negeri ini, terkadang saya merasa kita kerap salah kaprah. Kita sering tertipu oleh tampilan luar para pemimpin yang tampak religius. Kita pintakan kepada mereka kesejahteraan kita, dunia dan akhirat. Padahal sebagai umara, mereka cukup mengusahakan kesejahteraan dunia kita, bukan malah mengurusi kesejahteraan akhirat yang bisa kita tanggulangi sendiri-sendiri. Akibatnya, dunia kita tidak hasanah (tidak membaik), akhirat pun wallahu a’lam (hanya Allah yang tahu!). Kita sering tertipu tampilan luar, seakan-akan mereka akan membereskan kehidupan kita, dunia-akhirat.

Tausiah Penutup

Karena itu, untuk kalangan umara atau pemimpin, kita sepatutnya menuntut mereka untuk maksimal menghadirkan kesejahteraan dunia kita. Membangun peradaban kita bersama, Indonesia. Karena itulah mereka disumpah dan digaji. Kalaupun mereka ternyata sosok-sosok nan religius, kita berucap alhamdulillah dan itulah bonus kita. Tapi jangan sampai permintaan kita dibalik: menuntut kesejahteraan akhirat dulu sembari mencemooh mereka-mereka yang berkarya dan membangun dengan stigma-stigma Firaun. Kalau kepada Ustad atau Kiai, bolehlah kita meminta bimbingan jalan keselamatan untuk bekal akhirat kelak. Kepada umara, kita jangan sampai tertipu dan justru kecolongan dunia-akhirat!

Akhirul kalam, Indonesia ini—terutama Jakarta—kini bersaing secara geopolitik dan geoekonomi dengan negeri-negeri jiran. Kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang mampu membawa kemajuan, mampu bersaing dan bahkan melampaui mereka. Jangan sampai kita terus-menerus dipandang sebagai "Indon" yang dianggap cuma mampu mengerjakan hal-hal remeh lalu bertengkar untuk urusan-urusan tidak berguna. Singapura, Malaysia dan Thailand akan terbahak-bahak menyaksikan kita tetap bodoh dan terbelakang.

Karena itulah saya berpendapat, sosok-sosok pemimpin visioner dan pekerja-keras seperti Pak Ahok dan Pak Jokowi, sedikit banyak telah membuat cemas dan waspada para jiran kita. Janganlah kita terus-menerus memberi mereka bahan untuk lagi-lagi tertawa dan mencemooh kita!

Jakarta, 15 April 2017