Peneliti
2 tahun lalu · 189 view · 3 min baca · Budaya 14392.jpg
http://assets.kompas.com

Lilin, WannaCry, dan Padamnya ‘Api Diri’

Di kampung saya, menyalakan seribu lilin cinta beberapa hari ini, sudah diperingatkan untuk tidak dilakukan. Bahkan himbauan itu datang dari pihak aparat keamanan. Beberapa postingan di media sosial yang berisi dukungan seribu lilin simpatik ditanggapi dengan nada pesimistis, nyinyir dan ada juga yang kebakaran jenggot

Tak sedikit dari yang kebakaran jenggot itu lalu mengungkapkan kekecewaan hingga benar-benar bergerak memadamkan lilin-lilin. Di media sosial yang cenderung lebih berimbang, wacana seribu lilin pun ditanggapi juga oleh dua kubu.

Himbauan untuk tidak ikut menyalakan lilin sebenarnya menunjukkan situasi sosial kita yang masih sangat rapuh. Apa yang dikuatirkan tentang efek lilin terkait identitas kelompok sesungguhnya tak memiliki korelasi yang pas.

Situasi keberagaman kita dengan pemadaman lilin itu menunjukkan masih lemahnya ikatan sosial. Mungkin dalam keseharian kita menyaksikan transaksi di toko-toko kelontong, di pasar tradisional, di kafe hingga kerumunan nonton dangdutan, tapi setelah itu kesunyian kembali mendera.

Menjadi bagian dari kelompok besar bernama Indonesia rupanya belum mengakar hingga ke titik terdalam jiwa. Kita hanya sibuk memoles toleransi dengan tidak saling mengganggu saat beribadah, atau setidaknya ada ucapan hari raya dan undangan makan-makan. Sementara, anak-anak sekolah sebagian sudah melebur, meski ada beberapa sekolah yang beridentitas khusus.

Toleransi yang terlihat tampaknya masih berada pada ‘level kita dan mereka’, makna yang belum bisa melepaskan diri dari definisi mayoritas-minoritas. Situasi yang menggambarkan stigma yang masih dipelihara bahwa minoritas mutlak menghormati mayoritas, sebaliknya mayoritas ‘membiarkan’ minoritas.   

Dengan tetap melekatkan definisi mayoritas-minoritas, maka slogan toleransi sesungguhnya sangat rapuh. Di balik keramahan yang terlihat, sesungguhnya bersembunyi ketakutan-ketakutan dan sentimen sektarian yang bisa terbakar kapan saja jika disulut. Kita bisa bayangkan, jika sentimen bernada sektarian disulut oleh tokoh berpengaruh, oleh pemimpin partai atau kepala daerah.

‘Api diri’ dan Ketakutan Subtansial

Jika kita menggunakan kacamata universalis dan sikap obyektif, lilin adalah pesan damai. Sebuah nyala lilin adalah ekspresi kepedulian dan bentuk dukungan yang diungkapkan sebagai bahasa universal bermakna simpatik. Bahkan, untuk makna lebih transenden, lilin adalah ‘api diri’.

Saat lilin-lilin simpatik itu diserang, saya lantas berpikir, jadi bagaimana lagi seseorang bersikap menyuarakan sesuatu atau apa yang diyakininya? Padahal, makna nyala lilin adalah suara kemanusiaan, tak berbeda dengan pakaian hitam saat menghadiri upacara kematian, bendera putih, mawar merah, atau simbol acungan dua jari yang bermakna perdamaian (peace).

Serangan terhadap aksi menyalakn lilin terlihat seperti aksi heroik membela diri. Tapi, lilin-lilin yang dipadamkan itu sesungguhnya menunjukkan ketakutan subtansial, alih-alih hanya mengaitkan seribu lilin dengan kasus hukum seorang Ahok.

Ketakutan subtansial yang saya maksud adalah hilangnya jati diri. Kita hidup berkelompok namun di dalam kelompok itu kehilangan diri yang sebenarnya. Ketika seorang bersuara tak seirama dengan keinginan kelompok, maka suara-suara itu tak terdengar bahkan mungkin tak akan pernah diutarakan.

Akhirnya, kita makin susah keluar dari jebakan primordialisme, sesungguhnya kitalah yang menjajah diri sendiri. Karena rasa suka dan tidak suka, merangsek masuk pemaknaan kelompok. Padahal, sikap suka atau tidak suka, itu lumrah, yang berbahaya adalah menyerang dengan alasan tidak suka.  

Sentimen Sektarian dan Ancaman WannaCry   

Saya hanya prihatin dengan kondisi keberagaman kita yang selama ini adem dan terkesan tidak terjadi apa-apa. Kenyataannya, mereka yang menafsirkan lilin selain pesan damai, mungkin tak ingin keluar dari pra-pemahaman identitas primordial, yang seharusnya sudah lama tidak diperlukan lagi di era millennial ini.  

Ketakutan terhadap serangan yang bakal mengancam idenitas primordial ditunjukkan dengan memasang mekanisme pertahanan sekaligus menyerang jika dianggap perlu. Perilaku yang lebih sering dipertontonkan oleh kawanan, menyerang saat musuh dalam jumlah sedikit atau lengah, dan bertahan saat posisi tidak menguntungkan, atau menunggu aba-aba untuk melarikan diri.

‘Api diri’ mungkin telah padam oleh serangan brutal primordialisme-chauvinistik. Ataukah memang tidak pernah menyala. Hingga, kepala-kepala dalam kerumunan kelompok tidak pernah benar-benar berfungsi.

Hari ini, media online ramai merilis serangan virus WannaCry yang siap menyelinap ke dalam laptop dan PC yang menggunakan sistem operasi Windows. Sebuah serangan yang tak bisa dianggap enteng. Virus adalah musuh yang tak terlihat, yang untuk menghadapinya perlu mekanisme pertahanan yang harus terus di-upgrade. Tanpa memahami cara kerja virus, bahkan aplikasi anti-viruspun bisa disusupi oleh ransomware.  

Saya yang awam dalam perkara virus, menganggap ancaman WannaCry sebagai situasi yang darurat. Membayangkan data dalam komputer dienskripsi oleh virus lalu hilang adalah kiamat kecil.

Tapi, sengeri apapun, WannaCry tetaplah buatan manusia nakal, yang hanya menyerang alat-alat kantor lalu meminta tebusan sejumlah uang. Namun, serangan hoax dan virus sentimen sektarian jauh lebih berbahaya, resiko terburuknya adalah matinya api dalam diri.

Artikel Terkait