Hidup butuh kemesraan. Sebut saja kemesraan itu dengan istilah romantisme.

Dari waktu ke waktu, pola-pola romantisme semakin canggih seiring perkembangan alat dan pola pikir yang mengiringinya. Romantisme ini tidak hanya sempit mengenai cinta, tapi juga soal kedekatan atau kemesraan manusia dengan persepsinya sendiri.

Romantisme "like". Barangkali itu yang ingin saya sodorkan. Mengenai kedekatan manusia dengan facebook dan "like" (selanjutnya saya tulis tanpa tanda petik).

Like atau Suka di facebook diakui sebagai bagian terpenting dari tanggapan. Barangsiapa yang mengunggah foto atau tulisan dan yang menyukai berhamburan, hitung saja misalnya hingga ratusan ribu, maka dapat dipastikan si pemilik akun dianggap memiliki derajat lebih tinggi dari pemilik akun lain yang hanya dapat mengantongi sepuluh hingga ratusan suka saja. Benar, begitu?

Nah, sekarang kita kembali ke romantisme persepsi yang saya sebut di awal. Pemilik akun facebook pada umumnya mengonsumsi candu. Ingin selalu memposting sesuatu adalah candu. Harapan terdalam yang terpendam di balik itu semua; semoga yang like banyak.

Persepsi yang muncul ialah semakin banyak like, semakin tinggi derajat si pemilik akun facebook tersebut. Romantismenya terletak saat persepsi tersebut ditangguhkan dengan cara terus-menerus mem-posting banyak hal dengan harapan selalu dapat like. Jika bisa, semoga dapat bertambah dan terus melambung.

Sekarang, dari mana munculnya persepsi; banyak like, derajat (saya) pemilik akun terangkat? Sedangkan kita paham bahwa nge-like adalah perkara mudah. Bahkan, konon, bisa dibeli.

Lalu, apa unggulnya dan di mana reward derajatnya? Tentu persepsi di atas hanyalah palsu atau lebih kasar lagi; hanya sebatas omong-kosong. Itu artinya, like tidak mewakili apa-apa dan tidak mengangkat derajat manusia. Sebanyak apa pun jumlahnya.

Seberapa keras argumen saya mengatakan like tidak berfungsi mengangkat derajat manusia sebetulnya tidak penting. Toh masih saja banyak manusia pemburu like dengan romantisme baru yang canggih dengan iringan lagu-lagu persepsi yang baru dan tak kalah canggihnya. Dan tentu, like selalu penting. Inilah romantisme persepsi itu.

Tetapi ada yang lebih mendasar dari itu untuk dibahas. Apa tujuan kita mem-posting sesuatu di akun-akun facebook kita? Apakah memburu like dan sanjungan? Atau, apa? Marilah kita kembali pada jenjang yang paling dini dalam pendidikan karakter; introspeksi diri.

Jika boleh saya memposisikan sebagai analis sosial media, saya menemukan sesuatu yang tersemat rapi pada setiap pemenuhan nafsu unggah. Kita tahu, di antara kita barangkali memiliki teman facebook atau kita sendiri yang sedikit-sedikit unggah tulisan, foto dan lain semacamnya.

Keinginan untuk selalu mengunggah, selain saya sebut candu, juga akan saya sebut nafsu unggah. Saya sebut nafsu karena keinginan untuk mengunggah sesuatu di akun media sosial wujud mistisnya selalu hadir dengan dorongan yang menggebu-gebu.

Nafsu unggah ini pada dasarnya lahir dari persepsi sederhana, yakni apa yang saya unggah akan dilihat orang, dilike, dan seterusnya. Di situlah persepsi romantis dengan like di facebook berkembang biak dengan baik.

Apa yang tersemat di dalam nafsu unggah ini? Dengan seraya berkata, saya menyebutnya riya' dan pamer. Mengunggah berarti mempublikasikan. Di sana, setiap unggahan selalu dipersepsikan dilihat banyak orang. Dengan begitu, sudah ada getar hati paling senyap yang berbunyi; postingan saya pasti dilihat banyak orang. Di bagian ini, riya' dan pamer merayap menuju satu pembiasan. Ada namun tak ada. Muncul tapi tak muncul. Dengan begitu pula, sifat riya' dan pamer menjadi tersemar rapi dan lebih canggih lagi.

Setelah itu, orang-orang akan berlomba sifat riya' dan pamer tanpa sadar seiring nafsu unggah itu, seiring candu itu. Maka, di sanalah lahir gairah-gairah untuk mendapat pujian dan seterusnya di depan banyak orang di facebook. Di sana pula lahir kesombongan yang terkulum rapi dalam unggahan-unggahan yang dilakukan. Ini berlaku tidak hanya untuk akun facebook tetapi juga di berbagai jejaring sosial media yang memungkinkan.

Di sinilah niat harus kembali tertata-rapi. Gerakan cerdas menggunakan media sosial perlu dikampanyekan sebagai antisipasi munculnya sifat riya' dan pamer. Apakah sebegitu pentingnya menata niat di media sosial? Ya, tentu, sebagaimana pentingnya membeli paket data hingga rela mengeluarkan dana ratusan ribu hanya demi nafsu unggah-unggahan.

Di era monolog seperti sekarang ini, persepsi-persepsi manusia menjadi romantisme yang sangat liar. Tidak teratur dan cenderung tertutup serta seenaknya saja. Adagiumnya; ini urusan saya dan bukan urusan Anda. Adagium inilah yang sebenarnya juga menyebabkan romantisme persepsi sejak di alam pikir manusia menjadi amburadul, baik dalam interaksi media sosial maupun riil sosial.

Seiring itu semua, nafsu unggah menjadi hukum umum dalam perserikatan akun media sosial. Bahkan, bisa-bisa akun media sosial dianggap mati jika tak mengunggah apapun. Candu itu menjadi hukum umum. Riya' dan pamer pun akhirnya menjadi general traditio.

Saya sebut tradisi, karena tradisi atau traditio mengandung makna pewarisan. Riya' dan pamer terwariskan melalui hukum yang umum ini. Dengan begitu, like, yang katanya mengangkat derajat manusia di sisi facebook justru bermakna sebaliknya, yakni menjebloskan manusia ke jurang-jurang tanpa derajat apa pun.

Riya' dan pamer akan muncul seiring persepsi dan harapan untuk mendapatkan lebih banyak like. Semakin berharap, maka semakin nyata riya' dan pamer itu hadir secara metafisis.

Dengan ini, harus diperjelas lagi bahwa like bukan apa-apa dan tidak sama sekali penting jika niat kita tulus memberikan pengetahuan pada manusia dan seisinya di jagad media sosial. Like atau tanpanya sama sekali bukanlah apa-apa.