Pancuran Pitu telah menjadi tujuan wisata ternama di Purwokerto. Pancuran sumber air panas yang hangat dan menyegarkan mengalir di dinding bebatuan warna kuning. Terlebih lagi, keindahan alam dan atraksi wisata yang ada siap memanjakan wisatawan. Namun, perjalanan yang panjang dan dapat melelahkan harus siap ditempuh.

Tiba di Kota Purwokerto setelah melalui satu jam perjalanan kereta api St. Tugu-St. Purwokerto, saya dengan kedua teman wisata mampir untuk waktu yang singkat ke rumah teman saya. Bertemu dan mengobrol dengan ayah, ibu, dan kakaknya, lalu mengambil mobil sebagai kendaraan yang akan membawa kami eksplorasi Purwokerto.

Sebelum memulai perjalanan yang cukup panjang ke Pancuran Pitu sebagai tujuan utama, kami berhenti mengisi tenaga dan memanjakan lidah sebentar di tempat makan es duren legendaris Purwokerto. Saya pesan semangkuk es duren yang menyegarkan dengan potongan buah duren yang tebal dilengkapi oleh es serut, susu kental manis, saus cokelat, dan santan.

Telah berdiri sejak tahun 1969, interior Es Duren Pak Kasdi ini cukup jadul, dinding ruangan dihiasi oleh potret-potret tua berisi wajah-wajah ceria terutama pesohor yang pernah makan di tempat tersebut. Sesudah pemberhentian memanjakan lidah ini, kami kembali dalam perjalanan dengan mobil milik teman saya asal Purwokerto.

Butuh 30 menit perjalanan bagi kami untuk sampai di Rumah Makan Pringsewu. Bukan untuk makan lagi, RM Pringsewu menjadi titik keberangkatan perjalanan yang cukup melelahkan, tetapi akan sepadan ini. Lahan di depan RM Pringsewu cukup luas hingga menjadi tempat parkir bus dan angkot Baturaden.

Angkot-angkot khas Purwokerto berwarna hijau gelap diparkirkan sejajar dengan rapi menunggu orang-orang yang akan pergi ke Pancuran Pitu. Dengan harga Rp50.000,00, kami menyewa salah satu angkot beserta supirnya.

Perjalanan pun dimulai dengan awalan pada jalan raya biasa hingga naik-turun gunung melewati perpohonan. Supir angkot juga membawa kendaraan dengan cepat, angin sejuk dari perpohonan pun terasa kencang menghamburkan rambut kami ke segala arah. Tak jarang, kami harus berpegang erat pada dinding angkot supaya tidak jatuh dari tempat duduk.

Perjalanan menyenangkan nan cukup menyeramkan harus kami tempuh selama 15 menit hingga sampai pada titik pertengahan. Dari sini, kami harus berjalan kaki lagi sekitar 30 menit untuk sampai di Pancuran Pitu.

Berbekal adrenalin yang tercipta selama perjalanan menggunakan angkot, kami berjalan kaki sambil menghiasi perjalanan dengan sandungan lagu. Perjalanan yang dapat ditempuh 30 menit pun lambat laun menjadi 40 menit dengan sesekali pemberhentian untuk duduk atau mengambil dokumentasi keindahan alam sekitar.

Beberapa kali kami berpapasan dengan wisatawan lainnya yang sedang dalam perjalanan balik dari Pancuran Pitu. Jalur pejalan kaki yang kami lewati masih berupa tanah bebatuan, terkadang aspal, tetapi bukan medan yang sulit untuk dilewati.

Sebelah kiri jalan dihiasi dengan perpohonan dan beberapa bunga yang indah, sedangkan sisi kanan jalan dihiasi semak-semak dan pemandangan langit yang indah. Jalan yang harus dilalui juga cukup berliku-liku, tetapi papan penunjuk arah terus membantu kami mengenali belokan yang harus kami pilih.

Kami pun sampai di gapura yang bertuliskan “Pancuran Pitu”, penanda tinggal 5 menit lagi kami akan sampai. Sebelum melanjutkan perjalanan lebih dalam, kami membayar harga sebesar Rp13.000,00 per orang sebagai retribusi masuk ke Pancuran Pitu.

Tak jauh dari gapura itu, kios-kios makanan lokal menghiasi bahu jalan. Kami berhenti sejenak untuk menyeruput the hangat dan makan beberapa gorengan. Dari pemberhentian ini, saya mengenal tape goreng. Mungkin banyak penjual tape goreng di Jawa, tetapi makanan ringan ini sulit ditemukan di ibu kota asal tempat tinggal saya sejak kecil. Setelah mengisi tenaga kembali, kami melanjutkan perjalanan.

Tak jauh dari kios-kios makanan, bahu jalan selanjutnya dihiasi oleh kios-kios masyarakat lokal yang menjual souvernir. Beragam souvernir dijajakan pada meja dan digantung, mulai dari hasil kerajinan tangan, baju, topi, dan sebagainya terutama produk olahan dari belerang. Aliran air panas yang ada di Pancuran Pitu ini mengandung belerang yang konon bermanfaat baik bagi kesehatan kulit.

Pancuran Pitu atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Pancuran Tujuh merupakan sumber air panas bumi yang telah menjadi daya tarik wisata Purwokerto. Air panas terpancar langsung dari kaki Gunung Slamet dengan kandungan belerang sehingga dinding batu yang dialiri air panas ini berubah menjadi warna kuning.

Disebut sebagai Pancuran Pitu yang berarti tujuh, aliran air panas yang ditemui saat pertama kali wisatawan sampai ini terpecah dalam 7 cabang aliran. Tujuh cabang aliran ini mengundang wisatawan untuk membasuh kaki, bahkan tak jarang beberapa wisatawan mencuci muka mereka dengan air panas yang baru keluar.

Tidak jauh dari tujuh cabang aliran utama, terdapat Petilasan Keramat Mbah Atas Angin yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu saja.

Pada bagian depan petilasan tersebut, tempat pemandian air panas gratis dengan sebaris tukang pijat-urut siap menjadi tempat peristirahatan dan relaksasi wisatawan. Biaya pijat yang dikenakan cukup beragam tergantung pada pilihan anggota tubuh yang akan dipijat, umumnya pemijat akan memberikan tarif sebesar Rp10.000,00 untuk pijat kaki, Rp25.000,00 untuk pijat badan, Rp50.000,00 untuk pijat tubuh ditambah lulur.

Salah satu teman saya mengeluarkan Rp10.000,00 untuk meringankan otot kakinya setelah berjalan jauh, “Enak juga buat relaksasi, tadi bisa sambil melihat pemandangan”. Di sekitar sini, fasilitas berupa sejumlah kamar mandi dan mushola tersedia bagi wisatawan yang membutuhkan.

Mengikuti rekomendasi pemijat teman saya, kami melanjutkan perjalanan lebih dalam di area Pancuran Pitu. Jalur-jalur yang belum diaspal membuat kaki kami lebih ringan dalam melangkah.

Selama perjalanan ke salah satu air terjun panas terbesar, kami melewati jalan setapak dengan beberapa sumber air panas kecil di bahu jalan. Tak lupa, beberapa kali kami berhenti di jalan untuk mengabadikan momen saat itu. 

Sesampainya di air terjun panas tersebut, kami menaruh tas ransel dan pembekalan yang telah kami jinjing setelah sekian lama di salah satu kursi yang tersedia.

Kedua teman saya langsung melepas alas kaki dan berjalan menuju air terjun tersebut. Sementara itu, saya meraih telepon seluler untuk kembali mengabadikan momen, keindahan alam sekitar, dan kedua teman saya di air terjun. Tak lama kemudian, saya ikut bergabung dengan kedua teman saya.

Air yang mengalir tidak sepanas yang saya bayangkan. Suhu air lebih ke hangat dan dinding air terjun yang berwarna kuning tidak terlalu licin. Kami duduk di sekitar air terjun untuk berbincang-bincang sambil menikmati hangatnya air dan keindahan alam.

Berjalan jauh bukan hanya untuk relaksasi, kami mencoba berada tepat di bawah air terjun yang mengalir. Saat itu, volume air yang turun cukup besar dan terasa menusuk badan kami. Setelah membiasakan diri beberapa detik, volume air tersebut lebih seperti memijat pundak kami.

Tak terasa waktu terus berjalan dan mulai mendekati pukul 4 sore, kami yang sudah basah kuyup kembali mengambil tas kami dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian kering.

Sore itu, lingkungan di dalam area Pancuran Pitu terasa lebih ramai dibanding saat kami sampai. Banyak wisatawan yang sedang membiarkan kaki mereka teraliri air dari tujuh cabang sumber air panas.

Tak sedikit juga yang sedang mengambil potret alam dan potret orang-orang yang sedang berpergian bersama mereka. Sejumlah bapak-bapak juga sedang dimanjakan dengan luluran belerang dari pemijat di pinggir tempat pemandian air panas.

Keadaan yang mulai ramai mendorong kami para penikmat sepi untuk kembali melakukan perjalanan pulang. Sama seperti dengan perjalanan menuju Pancuran Pitu, kami kembali berjalan kaki di antara perpohonan.

Namun, perjalanan pulang kali ini kami tempuh dengan berjalan kaki penuh langsung ke tempat parkir mobil di RM Pringsewu. Tanpa menggunakan angkot, jarak yang kami tempuh menjadi lebih jauh. Namun, kami telah menyiasati dengan beberapa permainan dan senandung lagu.