Awal semester memang selalu momen yang ditunggu ketika para mahasiswa telah merencanakan agenda dan target yang ingin dicapai pada semester tersebut. Suatu momen untuk memulai start baru untuk menjadi lebih baik. 

Ternyata oh ternyata, semuanya tak berjalan sepenuhnya seperti yang diharapkan. Ekspektasi hancur karena kenyataan tak sesuai yang dibayangkan. Mahasiswa kerap merasakan semangat membara tadi berubah menjadi suatu kecemasan, stres, dan kelelahan berlebihan.

Mahasiswa yang berada pada kondisi tersebut akan merasa lelah fisik maupun raganya. Tugas kuliah terus menerus datang, tetapi kita kehilangan minat pada kuliah dan tidak lagi menemukan motivasi untuk terus melakukannya. 

Kalian akan cenderung untuk menunda-nunda mengerjakan tugas, bosan, tidak memperhatikan dosen saat kelas, dan tidak peduli dengan tugas-tugas. Kuliah yang seharusnya menjadi sebuah tantangan untuk mengembangkan diri tetapi kita malah menganggapnya sebagai sebuah ancaman yang sangat menyiksa setiap harinya.

Apa itu Burnout Akademik?

Masalah seperti menurunnya motivasi terhadap belajar, perasaan sinis, frustrasi, menjauhi kuliah,  tak acuh pada tugas akademik, dan perasaan tidak kompeten sebagai seorang pelajar dapat menjadi suatu pertanda bahwa kalian mungkin mengalami burnout akademik.

Burnout akademik adalah suatu kondisi di mana individu merasa kelelahan secara fisik dan emosional sehingga menyebabkan kebosanan dalam belajar, ketidakpedulian terhadap tugas-tugas akademik, kurang termotivasi, timbulnya rasa malas serta menurunnya prestasi belajar.

Mengapa mahasiswa dapat mengalami burnout akademik?

Salah satu penyebab mahasiswa mengalami burnout adalah konsep diri yang tinggi. Kalian mungkin merasa bahwa akan mempertahankan rasa prestasi saat belajar di bawah tekanan. Namun di lain hal, harga diri kalian akan sangat mudah hancur ketika merasa kecewa dan putus asa.

Apakah kalian pernah merasa ketika sudah terbiasa mendapatkan nilai sempurna dan suatu ketika kalian mendapatkan nilai pas-pasan yang sebenarnya masih dapat dikatakan “bagus”, kalian akan merasa hancur dan merasa rendah, tidak percaya diri dan tidak mampu?

Perasaan frustrasi sebab mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan harapan sering kali membuat kalian menghakimi diri sendiri sebagai orang yang tidak pandai. Masalah tersebut mendorong kalian untuk menjauhkan diri dari lingkungan sosial dan makin menghilangkan rasa peduli terhadap sekitar. 

Ketika prestasi terus menurun dan tidak sesuai target, hal ini dapat mempengaruhi self-efficacy diri dan pada beberapa penelitian juga menyatakan bahwa rendahnya self-efficacy memiliki pengaruh terhadap burnout. Kalian akan merasa kehilangan kemampuan akademik dan kepercayaan diri dalam melakukan aktivitas berkuliah.

Kurangnya self-reward juga dapat memunculkan burnout. Kalian akan merasa tidak semangat untuk menyukai pembelajaran dan akhirnya kalian merasa terpenjara dengan hal-hal rutin yang dapat mengakibatkan turunnya motivasi dan komitmen belajar.

Penyebab selanjutnya adalah kalian terlalu kelebihan beban. Ketika sudah waktunya untuk beristirahat, tetapi kalian malah terus menerus memaksa diri untuk mengerjakan tugas dan belajar. 

Tugas datang bertubi-tubi melebihi kapasitas diri yang selanjutnya menyebabkan mudah lelah dan jenuh. Dari sekian banyak tugas-tugas tersebut, kalian pun sulit menentukan prioritas karena sering kali tugas-tugas tersebut sama pentingnya dan sama urgensinya. 

Hubungan sosial diri dengan teman-teman perkuliahan adalah faktor lain penyebab burnout. Iklim kuliah yang individualis dan kompetitif menimbulkan perasaan tertekan.

Tidak mempunyai sirkel pertemanan sebagai support system bisa membuat kalian merasa lelah. Rasa kesendirian dan terpisah dari lingkungan sosial ini menimbulkan perasaan tidak aman dan harga diri semakin menciut. 

Lalu, bagaimana solusi menghadapi burnout?

Pertama yang harus dilakukan adalah kalian harus memberi batasan. Tetapkan waktu antara belajar, bermain, dan mengerjakan tugas. Kalian harus memiliki kontrol atas diri kalian. Selain itu, perbaiki lagi target awal. Mungkin target awal kalian terlalu tinggi dan usahakan untuk membuat target yang realistis dan tentunya yang nantinya tidak menekan diri sendiri. 

Self-reward adalah hal penting lainnya dalam berjalannya proses menuju target. Penghargaan atas pencapaian-pencapaian kecil akan memberikan semangat dan menjaga motivasi untuk terus belajar.  

Walaupun memang terkadang hasil tidak maksimal, jangan terlalu bersedih dan khawatir akan hasil. Anggap hasil tersebut sebagai pengalaman. Kegagalan hanyalah setetes dari lautan perjalananmu yang masih panjang. Tanamkan bahwa yang terpenting adalah proses.

Selanjutnya adalah istirahat. Mungkin hal itu terlihat remeh dan tidak penting. Kalian pasti sebenarnya tahu kalau istirahat adalah sesuatu yang sangat penting. Ketika kalian sudah merasa capek, cobalah untuk berhenti sebentar. 

Cari waktu untuk mengapresiasi diri untuk mengembalikan semangat dan energi. Lakukan relaksasi, olahraga rutin dan tidur yang cukup untuk mengurangi stres dan membuat tubuh maupun pikiran menjadi lebih sehat.

Komunikasi tak kalah pentingnya. Bicarakan hal yang kalian hadapi dengan orang terdekat. Tak perlu banyak teman untuk mendengarkan cerita kalian, cukup satu orang saja dan keluarkan keluh-kesah. Hubungan dengan orang negatif dan toxic juga perlu dibatasi agar kalian tidak semakin terpuruk.

Selalu ingat, jangan lupa istirahat dan apresiasi dirimu!