10 bulan lalu · 261 view · 3 min baca menit baca · Buku 51859_63919.jpg
Dok. Pribadi

Lika-liku Editing Naskah dan Penerbitan

Ulasan Buku

Menulis menjadi hal yang menyenangkan bagi saya, khususnya setelah bergabung bersama Qureta. Selain bisa mencurahkan apa yang ada di pikiran, saya dituntut untuk belajar lagi soal cara menulis yang baik. Beberapa buku tentang bagaimana cara menulis mulai saya baca lagi, dan buku ini salah satunya.

Buku karya Bambang Trim ini menjadi salah satu buku yang saya pinjam dari Perpustakaan Daerah. Awalnya saya sedikit ragu untuk meminjam buku ini karena judulnya terlalu bombastis, 200+ Solusi Editing Naskah dan Penerbitan. Anggapan awal saya, buku dengan judul demikian biasanya hanya sebagai pemancing agar orang mau membacanya, tapi isinya tidak sesuai judulnya (seperti buku-buku yang terpampang di rak bagian motivasi).

Presepsi saya gugur setelah menamatkan buku ini. Istilah jangan melihat buku dari sampulnya memang ada benarnya. Buku ini sangat bermanfaat bagi saya yang masih pemula dalam hal tulis-menulis. 

Banyak pengetahuan dasar tentang bagaimana cara menulis dan mengedit naskah yang baik dan benar; bagaimana cara menulis kutipan; penggunaan kata sambung; penyusunan paragraf; sampai bagaimana proses buku bisa diterbitkan juga dijelaskan.

Pengalaman penulis buku ini, Bambang Trim, yang pernah memimpin beberapa penerbit dan juga menulis hingga 160 buku, membuat buku ini sangat layak dijadikan rujukan bagi penulis ataupun editor. Beberapa contoh cara editing naskah juga turut disertakan dalam buku ini (tidak heran buku ini cukup tebal, sekitar empat ratus halaman).


Salah satu contoh editing, yang mungkin belum diketahui beberapa penulis, misalnya soal penggunaan tanda titik dua (:) sebagai berikut.

"Tanda titik dua (:) digunakan untuk mengakhiri pernyataan lengkap jika diikuti dengan pemerian atau perincian.

  • Penjelajahan tersebut memerlukan alat bantu: kompas, peta, dan stop watch. (benar)
  • Di lembang Anda dapat membeli: anggrek, mawar, dan melati. (salah)

Kalimat kedua tidak dapat menggunakan tanda titik dua (:) karena kalimat tersebut memisahkan predikat dari objeknya atau disebut juga memisahkan pernyataan yang belum selesai..." (hlm. 230)

Bagi pembaca yang ingin agar tulisannya bisa dimuat di media cetak, bisa mengikuti saran-saran yang ada dalam buku ini. Istilah gaya selingkung, yang baru saya ketahui setelah membaca buku ini, bisa menjadi pedoman bagi pembaca yang ingin tulisannya bisa terpampang di media cetak. 

Sedikit spoiler, gaya selingkung adalah kesepakatan-kesepakatan secara keilmuan untuk menyajikan naskah (hlm. 157). Untuk lebih jelasnya, silakan baca sendiri bukunya.

Hal menarik lainya dalam buku ini, selain membahas teknik menulis dan editing, dalam bab 6 Penulisan Naskah Buku, dijelaskan bagaimana proses sebuah buku bisa terbit. 

Proses terbitnya sebuah buku ternyata tidak semudah proses terunggahnya foto di Instagram. Ada proses panjang yang harus dilalui sebuah naskah hingga lahirlah sebuah buku; mulai dari pemahaman penulis soal gaya selingkung setiap penerbit; penyajian data; soal hak cipta; sampai penyusunan halaman penyudah.

Tidak ketinggalan soal pengalaman Bambang Trim sebagai penulis turut dibagikan dalam buku ini. Bagi pembaca yang penasaran soal royalti penulis buku dan sistem pembayaraan royalti; soal gaji penerjemah; dan perjanjian antara penulis dengan penerbit soal royalti, bisa dibaca dalam buku ini. 


Bagi saya pribadi, seperti yang saya sudah jelaskan, buku ini sangat layak bagi penulis pemula dan juga editor. Tapi, kelemahan buku ini terletak pada bagian sampulnya yang terlihat kurang menggoda calon pembacanya. Judul yang ditampilkan, dengan kesan bombastisnya, juga membuat saya ragu awalnya untuk meminjam buku ini. Tapi, kembali lagi saya tekankan, jangan lihat buku dari sampulnya. Setidaknya lihat dahulu daftar isinya.

Saya kadang merasa jengkel ketika ada beberapa orang yang menyepelekan buku, setelah mengetahui betapa panjangnya proses menerbitkan sebuah buku. Contohnya pengalaman saya sendiri. 

Beberapa kali, waktu nongkrong di kedai kopi, teman saya sering berujar bahwa kegemaran saya membaca buku merupakan hal sia-sia. Alasan teman saya cuma satu: Gag iso dadi duwek ndik (gak bisa jadi uang). Mendengar ucapan itu, karena saya orangnya penyabar, saya tak acuh. Nanti juga mati sendiri.

Menulis di era yang serba-digital seperti saat ini begitu mudah. Berbagai media daring, salah satunya Qureta, memberi ruang bagi penulis pemula seperti saya untuk terus belajar menulis dan berani menulis. Mudahnya orang untuk menulis bisa terlihat dengan begitu banyaknya tulisan baru yang ter-publish

Namun, sayangnya banyak tulisan-tulisan tersebut yang kurang rapi. Sebagai penulis, kurang bijak rasanya jika menggantungkan semua koreksi kepada editor, dan membebankan semua kesalahan tulisan kepada editor. Bayangkan jika editor Qureta harus mengoreksi sekian banyak naskah yang amburadul (semoga naskah saya ini tidak menjadi salah satunya).


Oleh sebab itu, bagi pembaca yang ingin menjadi penulis, harus terus belajar bagaimana cara menulis naskah dan mengedit naskah (termasuk diri saya sendiri). Setidaknya, selain memperluas wawasan, penulis harus paham bagaimana cara menyusun struktur kalimat yang nyaman untuk dibaca.

  • Judul Buku: 200+ Solusi Editing Naskah dan Penerbitan
  • Penulis: Bambang Trim
  • Penerbit: Bumi Aksara
  • Tahun Terbit: 2017

NB: ditulis via aplikasi Qureta

Artikel Terkait