Beberapa bulan yang lalu, temanku resmi menyandang status sebagai anak rantau. Anak rantau yang pergi merantau dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah ke kota Yogyakarta yang begitu syahdu.

Beberapa bulan lalu adalah awal yang baru bagi temanku. Sebuah awal baru untuk menapaki lembar kehidupan yang baru. Lembar kehidupan yang nantinya akan penuh dengan sejuta kisah haru.

Merantau, dengan tinggal di sebuah kos adalah pengalaman baru bagi teman saya. Sebelumnya belum terbayang olehnya, kejadian apakah yang menanti dia di depan sana.

Siapa sangka, baru beberapa bulan merantau saja, sudah menggoreskan kisah yang penuh tawa, namun sangat menyedihkan untuk dibayangkannya.

Waktu itu, pulang dari kuliah temanku melewati sebuah minimarket. Ia pun mampir untuk membeli sebotol minuman kopi. Setelah selesai membeli, ia pun bergegas pulang ke kost. Belum sampai ke tempat parkir, tiba-tiba saja dia datangi oleh seseorang yang tidak ia kenal.

Ternyata, orang asing itu menawarkan sebuah produk makanan berupa snack dengan harga satuan RP20.000,00 kepada temanku. Orang asing itu menawarkan produknya dengan sebuah penjelasan, di mana hasil penjualannya nanti akan digunakan sebagai kegiatan bakti sosial untuk membantu UMKM di Yogyakarta.

Awalnya, temanku sudah curiga apakah produknya aman dan apakah orang asing itu jujur. Namun, karena temanku tidak tega untuk menolak, ia pun membeli satu snack. Setelah membeli, ia pun diajak untuk foto bersama dengan produknya dan orang asing itu pun bilang bahwa nanti fotonya akan di-upload di Instagram.

Temanku pun tidak menolak. Setelah itu, ia pun bergegas pulang ke kos untuk istirahat. Ketika sudah di dalam kos, ia pun kepikiran untuk memakan snack yang baru saja ia beli seharga Rp20.000,00 tadi.

Baru beberapa suap temanku memakan snack-nya, ia pun merasakan sesuatu yang sangat aneh dan beberapa saat kemudian kepala bagian belakangnya pun pusing. Akhirnya, temanku memutuskan  untuk membuang snack itu karena dia takut jika di dalam snack itu terkandung zat yang membahayakan kesehatan tubuhnya.

Dia pun menyesal karena telah membeli sebuah produk yang ternyata berdampak buruk bagi dirinya. Namun, ia pun masih berharap jika orang asing tadi tidak menipunya. Sehingga, uangnya benar-benar digunakan untuk kegiatan sosial.

Dari pengalaman temanku, aku pun menyadari jika saya harus selalu waspada terutama kepada orang asing. Membantu orang bagiku memang hal yang baik. Namun, untuk membantu orang asing yang dari awal sudah mencurigakan gerak-geriknya, merupakan hal yang membahayakan diri sendiri dan lebih baik untuk dihindari. 

Selain kisah yang penuh misteri, temanku juga mempunyai sebuah kisah yang patut untuk dikasihani. Namun, mengundang tawa untuk membayangkannya.

Waktu itu, temanku hanya memiliki uang tunai sejumlah Rp17.000,00. Di pagi hari, ia sarapan di sebuah warung makan dan menghabiskan biaya sebanyak Rp12.000,00. Sehingga uang tunai yang ada di tangannya hanya tersisa Rp5.000,00.

Sebelum berangkat kuliah, Ia pun memutuskan untuk menarik uang dari mesin atm. Namun, ketika ia mencoba menarik uang, ternyata ada kendala. Temanku pun berpikir mungkin mesin ATM sedang error dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi kuliah dulu dan hanya membawa uang sejumlah Rp5.000,00.

Dengan motornya, ia pun berkendara membelah jalanan kota Yogyakarta. Ketika sampai di kampusnya, seorang temannya pun menagih utangnya. Temanku lupa bahwa dirinya pernah memesan sebuah handscoon seharga Rp5.000,00 kepada temannya dan ia dulu tidak mempunyai uang receh.

Dengan gaya cool-nya, temanku pun memberikan uang Rp5.000,00 yang tersisa di kantong bajunya untuk membayar hutangnya. Hari itu adalah satu-satunya hari di mana temanku tidak membawa uang sama sekali selama kuliah.

Dan setelah pulang kuliah, ia pun mencoba untuk menarik uang lagi di mesin atm. Namun, lagi-lagi ia tidak bisa menariknya. Kartu ATM-nya hanya bisa digunakan untuk memasukkan pin saja. Dia pun berpikir bahwa kartu ATM-nya yang error.

Dengan langkah kesal ia melangkah menuju parkiran, untung saja saat itu tidak ada tukang parkir dan temanku pun bergegas pulang. Setelah sampai di kos ia pun beristirahat dan bersyukur karena selama kuliah dan di perjalanan tadi, tidak ada masalah apapun meski tidak punya uang tunai sama sekali.

Temanku pun merasa lapar, karena baru sarapan saja. Ia pun memutuskan untuk membuat makan malam sendiri. Untung saja temanku sudah menyediakan beras, mi instan, telur, dan berbagai bumbu dapur, serta magic com mini-nya.

Ia memutuskan untuk memasak nasi yang dicampur dengan telur dan diberi bumbu dan semua itu dimasak dalam magic com mini-nya. Ketika menunggu masakan matang, ia pun membayangkan bahwa masakan dengan resep karya sendiri akan enak dan membuat ketagihan.

Namun, hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan realita. Ketika magic com memberi tanda bahwa nasi sudah matang, temanku bergegas untuk membuka dan menyantapnya. Namun dia kaget karena yang matang baru telur yang ada di atas nasi. Dan nasi di bawah telur masih mentah.

Pada akhirnya, temanku pun menyantap hasil masakannya sendiri. Karena ia sudah tidak punya uang tunai lagi, jadi mau tidak mau dia harus makan masakannya sendiri walaupun rasanya sangat tidak enak.

Dari pengalaman temanku, aku pun sadar jika aku tidak boleh membuang-buang uang dalam kondisi apa pun. Entah itu aku yang nanti merantau jauh dari keluarga atau aku yang sekarang masih tinggal bersama keluarga, aku harus berhemat dan tidak boleh menghamburkan uang.

Menghemat uang bagiku adalah salah satu seni mengatur keuangan untuk mengantisipasi hal yang akan terjadi nanti di depan, sehingga diri ini tidak terlalu kesulitan terutama untuk makan.