Life is struggle

Hidup itu perjuangan, begitu kata mutiara yang memotivasi. Karenanya hidup itu keras. Kita tidak boleh manja, lemah, dan tidak semangat dalam menjalani hidup. Harus punya kekuatan, kesabaran, ketangguhan, dan sebagainya. Hidup itu butuh pengorbanan baik jiwa maupun raga. Tak hanya itu, hidup juga harus siap untuk mempertaruhkan segala hal termasuk mati, itulah risiko hidup.

Ngomong-ngomong tentang hidup. Kakak sepupuku pernah memposting kuis di Grup WA kami sekeluarga. Kuis ini berupa kompetisi (sebelumnya, dia biasa menggelar kompetisi misalnya; nyanyi dan goyang dangdut yang videonya wajib di-share karena dia berada di luar negeri). Kali ini kompetisinya melengkapi kalimat ini: "Saya pikir hidup saya akan lebih baik jika ..." Dan pemenangnya akan mendapatkan cokelat dari Aussie.

Aku kemudian mengikutinya, aku mengirimkan chatku di grup. "Saya pikir hidup saya akan lebih baik jika saya hidup dengan orang yang membuat hidup saya lebih hidup."

Jawabanku itu mungkin seperti bahasa sebuah iklan. Saat ini, aku memang berharap segera mengarungi hidup dengan seseorang yang membuat hidupku akan lebih semarak, berwarna, dan 'boom'. Seperti bunyi petasan yang sering terdengar di malam tahun baru, karena hidup memang penuh dengan kejutan-kejutan.

Lalu ada juga jawaban dari sepupu laki-lakiku seperti ini: "Saya pikir hidup saya sudah lebih baik karena saya sudah punya istri yang paling baik dan keluarga ini yang saya cintai dengan saling menghormati satu sama lainnya."

Kemudian ada juga yang menjawab begini: "Saya pikir saya akan lebih bahagia jika saya hanya memikirkan kebahagiaan yang sudah saya peroleh dan fokus untuk menciptakan kebahagiaan yang lain."

Dan pemenangnya menurut kakak sepupu adalah tulisan yang terakhir tadi karena jawabannya dinilai manis dan romantis.

Baca Juga: Cokelat

Well, kebahagiaan memang terasa manis dan romantis sehingga membuat hidup bisa jadi lebih baik dan bahagia. Namun, semua pasti punya sudut pandang yang berbeda dalam memaknai hidup yang lebih baik karena nilai yang kita anut dan sistem informasi juga pengetahuan yang kita miliki tidak sama.

Cokelat dalam Kehidupan Kita

Masih tentang kompetisi melengkapi kalimat tadi. Menurutku, banyak jawaban yang lebih bagus dan keren. Dibanding jawaban yang jadi juara tadi. Coba lihat Bagaimana dengan jawaban dari keluarga yang satu ini: 

"Ok, hidup saya akan lebih baik jika saya punya cokelat hari ini."

Jawaban ini bisa jadi benar, mungkin karena orang ini suka sekali sama cokelat, chocoholic yang bisa uring-uringan tanpa makan cokelat sehari. Aku sebenarnya juga cokelat mania tapi tidak sampai segitunya. Karena cokelat itu aslinya pahit tapi diberikan "pemanis" sehingga menjadi romantis kata seorang kawan.

Jawaban tentang makan cokelat setiap hari ini bukan untuk menyambung kalimat yang sering didengar tentang "Makan dan Hidup", karena bukan hidup untuk makan tapi makan untuk bertahan hidup.

Ada juga yang jawabannya begini, berbeda sekali dengan jawaban di atas: "Hidup saya akan lebih baik jika saya hidup kaya raya." Orang ini berharap menjadi kaya raya agar hidupnya lebih baik. 

Terus ada lagi jawaban ini: "Hidup saya akan lebih baik jika saya bisa menjadi Waliullah, kekasih Allah." Menurutku, mungkin karena orang ini sudah sangat religius? 

Lalu jawaban ini: "Hidup saya akan lebih baik jika bisa berbagi informasi. Hidup saya akan lebih baik jika saya bisa berbicara mengenai kebenaran."

Selama ini mungkin orang ini sering dibungkam dan tak bisa berbicara dengan lepas, bebas, dan tidak didengarkan. Dan jawaban ini sangat aku sukai dari semua jawaban yang ada. Yang penting, jangan berbagi hoaks saja. Silakan berbicara asal sesuai dengan data dan fakta. Agar omongan kita lebih bermuatan tidak asal bunyi (asbun).

Kompetisi Hari Ini

Bagaimana jika pertanyaan ini ditanyakan pada orang yang cinta damai? Versiku mereka akan menjawab, katanya;

Hidup saya akan lebih baik jika kita bisa hidup dengan damai. Hidup saya akan lebih baik jika saling menghargai. Hidup saya akan lebih baik jika kita percaya satu sama lain. Hidup saya akan lebih baik jika saya hidup yang tanpa kekerasan. Hidup saya akan lebih baik jika saya kita hidup toleran. Hidup saya lebih baik jika hidup dengan penuh cinta dan rukun. Hidup saya akan lebih baik jika kita hidup dengan senyum.

Dan ujung-ujungnya, "Hidup saya akan lebih baik jika saya bahagia hidup di Indonesia. Hidup NKRI."

Ya, dalam hidup berbangsa dan bernegara, akan lebih baik jika kita bisa hidup sebagai bangsa yang bangga dengan negaranya, bangsa yang mencintai negaranya dengan cinta damai, saling menyayangi, menghormati, memaafkan, dan terpenting toleran.

Mungkin seperti komitmen Maarif Institute yang; toleran, egaliter, non-diskriminasi, dan inklusif yang berkhidmat untuk kebinekaan.

Hmmm, alangkah indahnya jika bisa seperti itu. Alangkah manisnya seperti cokelat yang membuat hidup kita optimis dan percaya diri setelah memakannya. Percaya diri jadi manusia Indonesia.

Nah, apa yang membuat hidupmu lebih baik? Hiduplah dengan penuh makna. Walaupun berbeda, semoga kita satu tujuan dalam naungan Indonesia, INDONESIA BARU, INDONESIA MAJU.

Cokelat, mana cokelat?

(Zuhriah, Alumni Sekolah Buya Maarif, SKK 3, 2019).