Mahasiswa
4 minggu lalu · 96 view · 4 min baca · Budaya 79738_90931.jpg
Foto: Pixabay

Licentia Poetica Mati dalam Jaringan

Sepertinya KBBI takut kehilangan parameter kebahasaannya ketika mengartikan licentia poetica. Frasa kata yang berjenis ungkapan literasi ini mengalami sinestesia sehingga menyempit maknanya. 

KBBI memberi makna sebagai kebebasan dalam mengubah atau mengabaikan kaidah bahasa untuk mencapai tujuan tertentu (keindahan dan sebagainya). Sedang Kamus Cambridge memaknai sebagai the way in which artists or writers change facts in order to make their work more interesting or beautiful. 

Jika dibandingkan keduanya, kata fakta yang mempunyai ameliorasi luas tiba-tiba disunat oleh KBBI menjadi frasa kaidah bahasa. Padahal kaidah bahasa itu luas, bisa meliputi kaidah ragam baku dan ragam slang. 

Ketika pengertian licentia poetica ditabrak ragam baku, maka dia akan mati seketika. Misal, ragam baku penulisan paragraf akan mencekik mati gaya penulisan tipografi dalam puisi. 

Larik-larik bebas sebuah puisi tidak bisa dibentuk dalam sebuah paragraf yang kaku dan sistemik. Namun larik tersebut berbentuk bait-bait yang kadang halamannya tidak dipenuhi kata-kata. 

Pengalaman puitis seorang penulis puisi itu sifatnya at glance yang biasanya muncul sekelebatan. Untuk menyambungnya, dibuatlah tipografi sebagai wakil penggalan-penggalan tersebut agar utuh. 

Dengan pengalaman puitis yang at glance tersebut, penulis berusaha membuat larik-lariknya kadang menepi ke kanan atau sebaliknya tiba-tiba menepi ke kiri tanpa ada baku pengaturan permulaan dan pengakhirannya. Bait-bait yang dihasilkan seakan-akan terlihat memberontak tanpa harus diawali huruf kapital serta diakhiri dengan tanda titik. 


Tipografi dalam puisi sangat menentukan pemaknaan terhadap makna dan isi. Tipografi adalah nafas dan ruh dadaisme dalam puisi yang berupa ukiran bentuk perwajaan yang bebas. Penulis puisi bak seorang perupa dadaisme yang memiliki kegemaran, karakter ataupun kecenderungan masing-masing.

Dadaisme penyair yang selalu menuliskan semua katanya dengan huruf kecil semua tentu mempunyai tujuan dan maksud yang berbeda dengan perupa kata-kata yang selalu menggunakan huruf besar pada setiap permulaan kalimat atau baris baru puisinya. 

Bagi saya, yang dimaksud drngan licentia poetica dalam dunia puisi adalah kebebasan untuk berpendapat yang berupa independensi rasa dan karsa yang didukung oleh komponen lainnya, seperti penggunaan tipografi dan stilistika. 

Namun kenyataan dalam jaringan (daring) yang ramah gawai, licentia poetica diperkosa dengan berbagai aturan. Misal saja pada lomba-lomba penulisan puisi daring yang dibatasi oleh lembar ukuran kertas, spasi, margin, jenis, dan ukuran huruf. 

Padahal sang penulis ingin membuat stilistika dan tipografi pada puisinya yang tentunya memerlukan kebebasan dari aturan di atas. Kebebasan lainnya adalah pemakaian kosa kata, bunyi kebahasaan baik yang bersifat semantis dan sintaksisnya. Seorang penulis puisi harus bebas bermanuver.

Licentia poetica dalam penulisan puisi daring sepertinya telah mati dibunuh oleh anarkis kurasi dan moderasi editor yang sadis dengan sabetan tajam format antarmuka berpaket dari tuan dan nyonya pariwaranya.  

Satu lagi, selalu ditambahi lagi dengan kutipan yang tak asing bagi kita, tidak boleh mengandung SARA. Akronim yang satu ini sudah lama ngendon sebagai tameng kekerdilan bersastra. Bagaimana nasib penulis yang ingin mengungkap sebuah tipikal, babakan ataupun epistemi di wilayah terlarang tersebut? Dilarang?

Lain lagi pada lomba-lomba cerita pendek atau novel. Seorang cerpenis atau novelis tidak bisa menyisipkan model penulisan yang banyak mencampuradukkan code switch. 

Yang dimaksud hal di atas adalah aturan alih kode kebahasaan di mana seorang pemakai bahasa yang satu akan memasukkan unsur bahasa lain dalan ujaran atau bangunan kalimat-kalimatnya. 

Ruh novel ataupun cerita pendek salah satunya terletak pada unsur babakan para karakter yang berperan di dalam ceritanya. Penulis dipaksa untuk alih kode terus dengan catatan-catatan kaki (footnote) ataupun cetak miring. Tak ubahnya bak tampak lembaran-lembaran skripsi. Biarkanlah pembaca menebak dan bergairah belajar sendiri alih kodenya. 

Baca Juga: Muasal Puisi

Bebaskanlah para penulis dari cengkeraman dan ketatnya remasan code mixing, baik yang bersumber dari integrated loan words (mencampuradukkan dua unsur bahasa dalam satu kata) ataupun pemakaian code mixing yang berjenis sentential switching (seluruh kalimat). 

Campur kode (code mixing) adalah hal lumrah dalam proses penulisan cerpen, novel atau jenis karangan fiksi lainnya. Campur kode adalah usaha terpadu bagi seorang penulis dalam perluasan penggunaan satuan bahasa untuk membangun hasil riset tulisannya. 

Usaha campur kode sangat berguna untuk memperluas gaya dan ragam bahasa. Campur kode akan membangun pemakaian kata, klausa, idiom, sapaan, dan lainnya. Bangunan sebuah fiksi harus dibebaskan oleh tiran monolingual. Poliglot-poliglot sudah saatnya muncul untuk mendobrak tiran monolingual yang terkesan berputar-putar di wilayahnya sendiri. 

Jadi jangan heran jika ada tren judul cerpen atau novel yang berupa kalimat atau frasa panjang. Mereka tak mampu menjadi poliglot untuk meringkas judul dengan satu atau dua kata. Sudah saatnya pula kekayaan bahasa Kreol-Pijin masing-masing satuan bahasa dikembangkan untuk menghantam tiran monolingual yang jago kandang tersebut.

Hal yang tak kalah penting lainnya adalah untuk tetap menjaga nyala api licentia poetica yang berhubungan dengan kebebasan penulis. Etis moral para kurator, juri, moderator, editor ataupun penyelenggara lomba diperlukan untuk tetap menjaga nyala apinya.  

Penulis atau peserta lomba tidak dipaksa dengan syarat-syarat lucu yang berbau korporat tengik seperti wajib untuk posting iklan lomba, tagging di media sosial, mention, share, dan segala turunannya. 

Kalian itu mau mengadakan lomba yang serius dan profesional atau hanya mencari besaran traffic dan  follower?

Artikel Terkait