Liburan akhir tahun kali ini rasanya sungguh sangat berbeda, tidak ada gegap gempita warga dalam menyambutnya. Fakta pandemi covid-19 lah penyebabnya, pemerintah daerah hingga pusat "kalang kabut" membuat regulasi untuk meredam penyebarannya. 

Dari mulai PSBB pertama, kedua dan seterusnya. Kemudian disusul dengan kebijakan new normal  (Normal baru), namun pandemi corona tidak juga hilang. Update Jumlah pasien positif virus corona atau Covid-19 di Indonesia yang tercatat pada Jumat (25/12/2020) pukul 12.00 WIB. 

Jumlah kasus positif virus corona tercatat 7.259 penambahan, dari sebelumnya 700.097 kasus. Sehingga, total kasus Covid-19 di Indonesia sejak terkonfirmasi pada 2 Maret lalu menjadi 692.838 kasus.  Hal itu disampaikan dalam website resmi Kementerian Kesehatan, kemkes.go.id, pada Jumat (25/12/2020) sore. Demikian tulis tribunnews.com 

Kasus Covid-19 DKI Jakarta semakin hari semakin meningkat hingga menjadi perhatian khusus oleh Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan. Hal ini membuat Luhut meminta Gubernur DKI Jakarta untuk membatasi jam operasional hingga pukul 19.00 WIB. 

“Saya juga minta Pak Gubernur untuk meneruskan kebijakan membatasi jam operasional hingga pukul 19.00 WIB dan membatasi jumlah orang berkumpul di tempat makan, mal, dan tempat hiburan,” ujar Luhut saat memimpin rapat koordinasi penanganan COVID-19 di DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim dan Bali secara virtual, Senin 14 Desember 2020. Ia meminta langsung diimplementasikan mulai 18 Desember hingga 8 Januari 2021. Tulis pikiran-rakyat.com 

Nampaknya Natal tahun ini pun tidak akan semeriah tahun-sebelumnya, karena harus mengikuti peraturan pemerintah, bahwa kehadiran jemaat cukup 50% saja dari kapasitas daya tampung gereja. Imbas lainnya lagi dengan dibatasinya tempat-tempat wisata, akhirnya kemeriahan tahun baru kali ini pun tampaknya tidak akan semeriah tahun sebelumnya. 

Antisipasi pun dibuat sedemikian rupa, di perbatasan-perbatasan ibukota dan tempat keluar masuk kendaraan antar kota, didirikan pos-pos kesehatan guna mengantisipasi penyebaran virus corona. 

Dengan metode test rapid antigen diharapkan mampu mencegah dan mendeteksi secepat mungkin penyebaran virus. Setiap warga yang memasuki ibukota harus punya surat keterang bebas covid, jika tidak maka mereka harus balik arah kembali ke kota asal. Proses cek rapid antigen pun sangat efektif dan efisien secara waktu. Waktu yang dibutuhkan kurang-lebih 20 menit saja. Bagi yang reaktif maka petugas kesehatan segera merujuknya ke RS terdekat untuk pemeriksaan lanjutan.

Dibalik kerja keras aparat kepolisian dan tim kesehatan guna membatasi penyebaran covid-19, ironisnya antusiasme warga untuk berlibur terkesan tidak terpengaruh oleh kerja tim gugus covid tersebut. Terbukti dari masih macetnya ruas-ruas jalan utama menuju area wisata dan tempat-tempat hiburan. Abainya perilaku masyarakat terhadap himbauan pemerintah ini, menjadi suatu hal yang dilematis tersendiri. Di sisi lain keinginan cepat terbebas dari wabah namun kedisiplinan tidak dijaga. 

Bagi pelaku usaha baik kecil maupun menengah jelas sangat berpengaruh terhadap omset tahunan ini, biasanya mall-mal saat akhir tahun selalu dibanjiri konsumen tahun ini mungkin tak akan terjadi lagi karena adanya pembatasan jam kerja, mall harus tutup pukul 19.00 WIB. 

Warung-warung makan sederhana yang ada di pinggir jalan, harus tutup juga maksimal pukul 21.00 WIB. Dengan pembatasan semacam ini tentu saja sangat berpengaruh sekali terhadap pundi keuangan mereka. 

Berita tentang vaksinasi dari pemerintah merupakan kabar baik, walaupun belum jelas kapan pelaksanaannya, dan apakah dibagikan secara gratis atau berbayar. 

Di era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini, diharapkan masyarakat umumnya harus mulai bisa mendisiplinkan diri dengan 3M, Memakai masker, Mencuci tangan pakai sabun dan Menjaga jarak (physical distancing). Pemerintah dalam hal ini diwakili oleh tim gugus tugas covid-19 dan masyarakat harus tetap bersinergi melawan serang virus corona ini. Selalu menjaga kesehatan dengan memperhatikan pola makan, pola istirahat, dan berolahraga rutin. 

Optimisme dalam menghadapi suasana pandemi ini pun sangat diperlukan sekali agar suasana psikologi kita tetap stabil sehingga imunitas tubuh pun terjaga. 

Walaupun libur Natal dan Tahun Baru tertunda, dan segala aktivitas menjadi terbatas jangan sampai menghilangkan daya inovasi kita untuk tetap ceria. Kita bisa membuat kegiatan libur bersama keluarga dirumah sendiri tanpa mengurangi kualitas liburan itu sendiri. 

Pembatasan tenaga kerja bahkan PHK besar-besaran di awal pandemi sampai sekarang terasa dampaknya bagi masyarakat dan pelaku usaha kecil-menengah. Menurunnya daya beli, negara di ambang inflasi menjadi pertanda bahwa pandemi benar-benar berdampak secara merata di tatanan sosial-ekonomi.

Di tengah kerja keras berbagai pihak untuk meredam penyebaran virus ini, kita hanya berharap pandemi cepat berlalu, kegiatan warga kembali normal. Sekolah-sekolah kembali dibuka, instansi pemerintah, perusahaan swasta kembali beraktivitas sedia kala. Namun harapan ini menjadi sia-sia jika kedisiplinan semua pihak terabaikan, dan kecerobohan kita bisa jadi berakibat seperti menggali kuburan kita sendiri.

Harapan pun seolah datang dengan tiba nya tahun baru 2021, wacana dibuka nya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Semoga akhir tahun ini juga sebagai pertanda berakhirnya pandemi covid-19