7 bulan lalu · 122 view · 3 menit baca · Perempuan 43429_96109.jpg
Hünter Art Magazine

Libertarias dan Revolusi Kaum Perempuan

Musim panas 1936, 18 Juli, tentara Spanyol memberontak terhadap pemerintah republik. 19 Juli, di kota Barcelona dan Madrid, tentara dikalahkan oleh rakyat. 20 Juli, massa menuntut sebuah pemerintahan revolusioner. 21 Juli, perang sipil Spanyol dimulai. Itu adalah perang idealistik yang terakhir dalam sejarah.

Saya akan selalu mendengar teriakan-teriakan seperti gemuru kaum pekerja yang melantangkan: Panjang umur kaum pekerja. Hancurkan Kapitalisme!. Saya melihat fenomena ini sebagai  bagian dari kemarahan kaum pekerja yang terus-menerus tertindas secara ekonomi-politik oleh bentuk kekuasaan kapitalis. 

Kemudian, ada penjarahan biara, di mana para suster begitu ketakutan, getir dan merunduk. Objek film ini akan selalu mengarah kepada kekuatan dan kelemahan kaum perempuan. 

Kelemahan yang perama-tama didasari oleh teralienasinya jiwa mereka. Artinya, ada sebuah kondisi yang diciptakan oleh sistem dan tradisi yang konservatif, baik berupa norma maupun dogma. Atau pula, entitas mereka sebagai perempuan yang sebenarnya mempunyai hak dan kesempatan yang sama kemudian dideradikalisasi.


Penjarahan biara yang membangun ingatan saya pada Revolusi Industri yang terjadi di Prancis, di mana kaum pekerja menjadi begitu marah akibat privatisasi. Struktur kekuasaan negara hanya dikuasai oleh 2% dari populasi penduduk Prancis. 

1% terdiri dari kaum agamawan, dalam hal ini adalah individu-individu yang menganut ajaran Protestan. Kaum agamawan ini mempunyai modal dan kekuasaan. 1% lagi adalah kaum aristokrat atau bangsawan. Mereka ini tidak memiliki kekuasaan, hanya saja memiliki modal. 98% yang merupakan mayoritas populasi masyarakat Prancis adalah kaum pekerja dan mereka dimiskinkan, tertindas.

Tidak ada pendistribusian hasil kekayaan yang merata. Tidak ada keadilan dan hak dalam mendapatkan kesempatan yang sama. Ini yang mengantar Prancis pada revolusi.

Yang paling menarik bagi saya adalah ketika para suster berlarian keluar ruangan saat berlangsungnya penjarahan gereja dan seketika mereka harus berhadapan dengan para revolusioner (pekerja). Aku melihat tidak ada unsur kekerasan di sana.

Berbeda dengan revolusi lainnya yang selalu memanfaatkan situasi penuh kekacauan sebagai upaya pelecehan seksual atau pemerkosaan. Sebaliknya, kaum pekerja itu justru berkata: Berdirilah. Jangan takut. Revolusi akan menghormati kaum perempuan.

Dari teks di atas jelas terlihat bahwa: pertama, revolusi sebenarnya tidak terlepas dari peran wanita yang sebenarnya harus turut bergabung dalam barisan massa; kedua, revolusi melepaskan unsur gender pada wilayah struktur perlawanan; saya pikir ini benar-benar sesuatu yang tanpa hierarki; ketiga, revolusi sangat menghargai wanita, sebab wanita mempunyai posisi yang sama dalam revolusi, bukan menjadi budak seksual semata atau berada dalam rumah-rumah pelayanan medis atau penyedia makanan.

Saya berasumsi bahwa seharusnya perempuan tidak menjual tubuh dan posisinya, perempuan dapat pula menjadi militan dan radikal jika faktor-faktor keadilan itu terwujud. Artinya, mempunyai kesempatan dan hak yang sama. Bahkan salah satu milisi wanita berkata: Tidak ada perempuan yang terhormat, hingga kita semua bebas serta Individu adalah segala-galanya dan Negara bukanlah apa-apa.

Saya melihat kontradiksi pada dialog para kaum perempuan anarkis yang saya anggap sebagai perumusan hak dalam revolusi libertarian. Seorang wanita yang berpidato pada podium berkata: kedua jenis kelamin tertindas. Bukan hanya perempuan, tapi juga laki-laki. Ini berarti hanya ada satu pembebasan yang, baik laki-laki maupun perempuan, harus memperjuangkannya.

Kalian, kaum perempuan menyerahkan nyawa, penuh ilusi di awal-awal perjuangan heroik serupa laki-laki yang menjadi pahlawan. Setiap perempuan setara dengan seorang laki-laki. 


Namun, keberanian bukan segalanya. Inilah saatnya menyerahkan senjata dan menggantinya dengan mesin-mesin industri dan energi petarung, dengan kelembutan yang ada dalam tiap jiwa perempuan. Ia (perempuan) akan merawat para lelaki yang pulang dari garis front terdepan.

Sebelum wanita pada podium yang berpidato menyelesaikan gagasannya, Concha yang berdiri pada barisan belakang dengan membawa senjata, seketika menyela pidato: Izinkan saya. Biar aku berbicara sekali ini. Seakan-akan kami gila karena kami ingin bertempur. Saya akan menjelaskan, jadi dengarkan baik-baik. 

Kami tidak mengerti mengapa rovolusi hanya berada di tangan dari setengah populasi. Kita kaum anarkis, namun kami juga kaum perempuan dan kami ingin menciptakan revolusi kita sendiri. Bukan laki-laki yang menciptakannya untuk kami. Kami tak ingin perjuangan yang hanya didesain yang cocok untuk perjuangan kaum laki-laki, karena kami akan dikadali. 

Seperti biasa, kami ingin bertempur agar kami bisa mengklaim bagian kami, dan kami ingin membuatnya jelas bahwa kami sedang bersemangat. Adalah kesalahan besar menahan kami di rumah sambil merajut. Kami ingin menghadapi kematian, kami ingin mati seperti halnya lelaki, bukan hanya jadi pelayan.  

Lantas dialog itu disambut dengan tepuk tangan dan sorakan: Hidup kaum perempuan!. Walaupun dilarang, namun mereka tetap bertekad untuk berangkat ke medan pertempuran garis terdepan bersama kaum laki-laki.


Artikel Terkait