Researcher
2 tahun lalu · 528 view · 6 menit baca · Politik burkini-blur.jpg
Pemaksaan terhadap wanita yang menggunakan burkini

Liberalisme Perancis yang Cedera dan Fundamentalisme Islam

Dewasa ini, Perancis sering kali menjadi pusat perhatian dunia. Bukan lagi karena mode-mode, fashion, atau lifestyle yang kerap menjadi gambaran Perancis. Melainkan karena Perancis acap kali dijadikan target aksi teror yang cukup brutal.

Masih belum terlalu lama sejak penembakan jurnalis Charlie Hebdo yang menewaskan 12 nyawa, penyerangan Friday The 13th pada November lalu yang memakan 130 korban jiwa, Truk maut di Nice membunuh 85 orang, hingga yang terakhir penusukan pendeta di dalam gereja.

Merespons maraknya aksi teror, Perancis menyatakan perang pada fundamentalisme Islam dengan melarang segala simbolisme yang mengindikasikan fundamentalisme khususnya burqa dan burkini. Burqa adalah sebuah pakaian yang menutupi seluruh tubuh yang dikenakan oleh sebagian perempuan Muslim, sedangkan burkini adalah pakaian renang wanita muslim yang menutup seluruh bagian tubuh kecuali wajah, telapak tangan, dan telapak kaki.

Foto yang memperlihatkan polisi memaksa wanita untuk melepaskan penutup kepala mendapat kecaman di mana-mana, bukan hanya dari kalangan Islam, tapi juga dari kalangan liberal dan aktivis HAM.

Pelarangan tersebut mencederai Perancis dan prinsip revolusinya yang diperjuangkan mati-matian dan memakan banyak korban kala itu. Revolusi Perancis yang berjalan kurang lebih 10 tahun itu menjatuhkan kekuasaan monarki dan mengantarkan Napoleon Bonaparte menduduki pucuk kekuasaan.

Terdapat tiga prinsip revolusi Perancis yang sangat terkenal, yaitu Liberte, Egalite, dan Fraternite (Kebebasan, persamaan, dan persaudaraan). Tiga prinsip ini dianggap sebagai dasar-dasar liberalisme yang akhirnya menyebar ke seluruh Eropa dan menjatuhkan kekuasaan monarki berbasis agama di daratan Eropa.

Gagasan sekulerisme juga menyebar luas setelah revolusi Perancis, hal ini dikarenakan masyarakat sudah muak terhadap dominasi kekuasaan yang bersembunyi dibalik slogan-slogan keagamaan. Revolusi Perancis boleh dibilang sebagai peletak batu pertama modernitas yang saat ini mulai diadopsi di hampir seluruh peradaban dunia.

Tak heran jika Perancis menjadi sorotan atas pelarangan berpakaian (yang mencederai semangat liberalisme) saat ini. Perancis melupakan semangat kebebasan, persamaan, dan persaudaraan yang dulu digaung-gaungkannya.

Paksaan Berpakaian

Perancis sebagai negara yang mempelopori asas liberalisme seharusnya paham betul bahwa hak-hak pribadi wajib dilindungi. Singkatnya, liberalisme memisahkan yang privat dan yang publik. Liberalisme menuntut bahwa yang privat (termasuk berpakaian dan pilihan agama) adalah pilihan pribadi seseorang sehingga tidak boleh ada pihak luar yang mengintervensi hal tersebut.

Kaidah liberalisme membebaskan kita untuk melakukan apa saja, selama tidak merenggut kebebasan orang lain.

Menjadi sebuah anomali jika saat ini Perancis melarang pemakaian burqa dan burkini lalu menugaskan aparat untuk sweeping orang-orang yang menggunakannya. Hal ini jelas merupakan bentuk pencederaan terhadap asas liberalisme yang menjunjung tinggi hak privat seseorang. Lagipula, apakah peraturan pelarangan ini efektif untuk mengurangi fundamentalisme yang dianggap sebagai akar terorisme? Saya kira tidak.

Yang cukup mengherankan datang dari kalangan Islamis di Indonesia. Banyak sekali dari mereka yang berteriak keras (di media sosial) untuk menentang aturan pelarangan burqa, tapi di sisi lain mereka melakukan hal yang serupa. Baru-baru ini saya men-stalk akun Twitter orang yang mencaci maki peradaban barat tentang pelarangan burqa, tapi di sisi lain orang tersebut (kebetulan ia adalah guru di satu sekolah) melarang muridnya mencukur rambut model qoza.

Saya juga baru mendengar istilah qoza ini, singkatnya model qoza adalah model rambut yang saat ini sedang tren di kalangan anak muda, yaitu model rambut yang tidak tercukur rata seperti mohawk atau hanya mencukur habis bagian samping.

Bagi saya, cukup ganjil jika ia menentang larangan burqa tapi di lain hal melarang model rambut tertentu. Dengan begini, secara tak langsung ia menerapkan standar ganda yang saya kira digunakan juga oleh para pengambil kebijakan di Perancis yang melarang burqa. Kesalahan berpikir semacam ini akan melahirkan berbagai macam kontradiksi yang akhirnya menyebabkan konflik-konflik seperti ini.

Di Perancis, para pendeta wanita tidak dipaksa untuk melepaskan kerudungnya, sedangkan para wanita Muslim dipaksa untuk melepaskan kerudungnya. Ini aneh! Pemikiran semacam ini bukan hanya gagal secara logika, tapi juga memicu diskriminasi pada kelompok tertentu.

Merangkul Fundamentalis

Apakah pelarangan terhadap simbolisme Islam dapat memadamkan hasrat fundamentalisme seseorang? Dalam bukunya yang berjudul The Battle for God, Karen Armstrong menyatakan bahwa ciri khas fundamentalis adalah menganggap bahwa dunia terbagi menjadi dua bagian, pembela Tuhan dan musuh Tuhan.

Tak heran jika aksi terorisme nekat menghabisi nyawa banyak orang bahkan mengorbankan dirinya sendiri, sebab ia merasa bahwa ia adalah prajurit Tuhan yang ditugaskan untuk melawan musuh Tuhan.

Jika pola pikirnya sudah amburadul begini, apa pun yang dilakukan dan apapun kebijakan yang diciptakan hanya akan memperkuat militansi para fundamentalis. Kebijakan yang diskriminatif malah akan memperteguh keyakinannya bahwa kelompok di luar kelompoknya adalah para musuh Tuhan yang hadir di dunia untuk melanggar perintah-perintah Tuhan.

Ya, memang sulit menghadapi kaum fundamentalis ini. Mereka akan selalu merasa benar, karena mereka merasa dirinya adalah prajurit Tuhan.

Kaum fundamentalis ini bagai kanker dalam umat Islam. Lama kelamaan ia akan menggerogoti nilai-nilai keislaman yang penuh cinta. Seperti halnya sel kanker yang ada di setiap tubuh makhluk hidup, sel ini menjadi ganas karena ada kesalahan mekanisme DNA.

Begitu juga kaum fundamentalis, hasrat beragama berubah menjadi ganas karena adanya kesalahan mekanisme yang inheren dalam kehidupan. Saya kira, fundamentalisme ini tumbuh karena adanya ketidakadilan.

ISIS yang mewakili kaum fundamentalisme ekstrim ini lahir karena ketidakadilan Amerika dan sekutunya termasuk Perancis di tanah Arab. Mereka meninggalkan jejak-jejak ketidakadilan di Irak, Iran, Kuwait, Lebanon, Suriah, dan banyak lagi.

Akhirnya, sebagian kalangan Islam tumbuh dengan kebencian terhadap “barat” yang dianggap telah memporak porandakan tanah airnya. Hal ini lah yang saya kira menjadi pemicu lahirnya fundamentalisme ekstrim atau fanatisme keagamaan. Noam Chomsky dalam bukunya How the World Works menjelaskan secara gamblang bagaimana ketidakadilan Amerika dan sekutunya pada bangsa lain.

Melawan kaum fundamentalis adalah hal yang sia-sia. Semakin dilawan, mereka akan semakin militan dan semakin memperteguh keyakinannya bahwa mereka sedang melawan tirani setan (musuh Tuhan). Yang diperlukan adalah menumbuhkan kembali keadilan dan mengakui kesalahan yang telah diakui bangsa barat pada tanah air mereka.

Saya kira, kita semua harus mereformulasikan strategi untuk menghadapi kaum fundamentalis. Mereka tidak perlu dilawan, karena mereka adalah akibat dari ketidakadilan yang telah dilakukan dunia. Mereka hanya perlu rangkulan hangat dan ditularkan pandangan positif tentang dunia.

Tampaknya di Indonesia kaum fundamentalis cukup banyak, tapi kita patut bersyukur bahwa mereka tidak terjebak pada ekstremisme yang membuat mereka kalang kabut dalam berperilaku terhadap yang dianggap musuh Tuhan. Tetapi, kaum liberal di Indonesia tampaknya sangat ketakutan pada sepak terjang mereka. Perlawanan kaum liberal saya kira keliru, karena seperti yang dikatakan oleh Karen Armstrong, semakin dilawan mereka akan semakin militan.

Gus Dur pernah berkata, “Tuhan kok dibela? Dia sudah Maha Kuasa kok tak perlu pembelaan. Yang harus dibela itu orang-orang lemah.” Begitulah kurang lebih perkataan Gus Dur yang saya kira cukup relevan dipikirkan oleh kaum fundamentalis. Tetapi, bagaimanapun pemikiran mereka rasanya sulit untuk diubah karena mereka merasa paling benar.

Mereka butuh rangkulan-rangkulan persahabatan dan pandangan positif tentang dunia, agar tidak melulu berpikir bahwa dunia sudah dikuasai setan dan merupakan sebuah kewajiban untuk dilawan bagaimanapun caranya.

Mau tidak mau kita perlu menerapkan asas liberalisme agar hak-hak pribadi tetap terjaga. Karena ketika urusan pribadi diatur oleh pihak lain, yang terjadi adalah ketidakadilan dan bumbu-bumbu konflik. Mengutip penggalan lirik Iwan Fals dalam lagu Manusia Setengah Dewa, “Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau!”

Saya pikir penggalan lirik ini sangat cocok untuk memprotes kebijakan yang diambil pemerintah Perancis yang melarang pemakaian burqa.

Kita berhak untuk melakukan apa saja yang kita mau, asal tidak merugikan orang lain. Inilah asal liberalisme yang harus kita pegang. Sayangnya, di Indonesia kata “liberal” sudah berubah menjadi semacam virus yang menggembosi sendi-sendi keagamaan, sehingga banyak orang menjadi alergi ketika mendengar kata liberal. Padahal, Islam mengajarkan bahwa jangan sampai kebencian kita pada sesuatu menjadikan kita tidak adil terhadapnya.

Artikel Terkait