"Saya memiliki kaki yang tidak menarik, rambut yang kusut, dan betis yang terlalu besar, tetapi saya membangun tubuh ini hingga batas absolutnya dan ini tidak pernah mengecewakan saya."

Itulah kata-kata yang dilontarkan oleh atlet olahraga ketahanan triatlon, Chrissie Wellington, sang profesional Inggris dengan rentet Juara Dunia Triathlon Ironman sebanyak empat kali.

Chrissie Wellington adalah seorang ironwoman. Olahraga ketahanan yang dipilihannya adalah lomba yang terdiri dari renang 3,8 km, dilanjutkan dengan bersepeda sejauh 180 km, yang diakhiri lari dengan full marathon sejauh 42,2 km.

Kisahnya sungguh heroik, sebuah tes ketahanan manusia paling berat yang pernah ada dengan kengerian medis berdarah-darah saat merangkak melewati garis finis. Walaupun tubuhnya jauh dari seksi, pengalaman sebagai atlet ketahanan membuatnya peka kebebasan individual dan perjuangan kesetaraan.

"Kami berbicara tentang kesetaraan dalam masyarakat. Ini bukan tentang perlombaan sepeda, ini tentang menempatkan wanita di halaman yang sama dengan pria."

Itulah pernyataan yang mengawali perjuangan kesetaraan di ajang balap sepeda Tour de France Wanita, yang merupakan bagian dari salah satu jenis olahraga ketahanan.

Liberal klasik yang dia pelajari membawanya sukses berdiplomasi ke politik bersepeda global, tepatnya saat dia meluncurkan manifesto menyerukan Tour de France Wanita. Manifesto telah diterbitkan bersama teman-temannya dalam kampanye tersebut berhasil memperjuangkan dan memperkenalkan kembali Tour de France Wanita.

Baginya, perspektif tentang olahraga ketahanan dan kebebasan adalah dua untuk penting bagi kehidupan yang baik. Keuntungan yang didapat berkelanjutan menurutnya dapat dirasakan saat survival perubahan iklim, gangguan ekologi dan dampak polutif lainnya di kehidupan keseharian.

Paham liberal klasik dan filosofi ekosofis ala Peter Sloterdijk telah ia gali untuk mengeksplorasi gagasan olahraga ketahanan sebagai upaya jitu mendukung survival hidup.

Sejak zaman kuno, manusia telah terlibat dalam praktik-praktik ketahanan untuk melatih dan meningkatkan kualitas hidup, semisal memperkuat kondisi fisik dan penampilan melalui olahraga ekstrem.

Kekinian, jutaan orang sudah terlibat dalam olahraga ketahanan seperti lari, berenang, dan bersepeda guna mendapatkan atau menjaga kebugaran tubuh dalam mendukung survival hidup.

Menurut Chrissie Wellington, olahraga ketahanan kontemporer memiliki banyak kesamaan dengan visi ini dengan konsep-konsep kebebasan dan kesetaraan. Dari IOC (International Olympiade Commitee), hingga NFL (National Football League) dan sebagian besar badan olahraga lainnya, telah dimiliki dan diatur secara bebas dan pribadi (private) tanpa campur tangan negara.

Aturan dan normanya berkembang melalui kerja sama sukarela di antara pihak-pihak yang berpartisipasi yang bebas dan merdeka. Asosiasi-asosiasi olahraga tersebut tentunya bekerja untuk memastikan adanya peraturannya jelas dan ditegakkannya pertandingan secara adil  (fair play).

Sebagaimana kebebasan dan kesetaraan yang diemban liberal klasik, olahraga, adalah aktivitas manusia merdeka yang hampir universal dan lama mendahului liberalisme klasik itu sendiri. Praktisi, atlet dan penontonnya tentunya berasal dari semua keyakinan dan ideologi politik yang ada. 

Itulah salah satu kekuatan dan daya tarik abadi olahraga yang terbaik yang ada kaitannya dengan konsep kebebasab dan kesetaraan liberal klasik.

Olahraga, khususnya jenis ketahanan bukanlah berasal dari satu kelompok atau budaya saja. Ia adalah aktivitas manusia merdeka dan terbuka untuk semua. Dan juga bukan monopoli negara atau kekuasaan tertentu. Kontesnya ditentukan oleh aturan yang disepakati bersama dan hasilnya pun jelas.

Menurut konsep liberal klasik, dalam olahraga, setiap individu dapat dan berhak untuk mengejar prestasi dengan bebas. Termasuk pula membangun dan mendorong tingkat ketahanan tubuh di luar batas manusia dalam olahraga adalah kebebasan yang hakiki.

Ideologi liberal klasik bertujuan untuk membangun sebuah masyarakat yang didasarkan pada pencarian individu secara bebas dan merdeka dalam usaha dan perkembangannya. Begitu pun dalam olahraga ketahanan yang semula hampir didominasi oleh kalangan tertentu, kini, bebas diminati oleh semua golongan dan lapisan masyarakat.

Peran substansial dari masyarakat sipil dan juga peran terbatas negara merupakan komponen penting untuk visi masyarakat liberal klasik dalam mengembangkan olahraga yang bebas dan merdeka.

Inti dari liberalisme klasik dan olahraga adalah sama-sama bebas mengejar keunggulan dan merdeka berkembang mengejar prestasi dan kejayaan.

Ada banyak hal yang dapat diajarkan konsep liberal klasik untuk olahraga, di antaranya tentang perkembangan dan evolusi hukum dalam masyarakat bebas dengan melihat implikasinya terhadap aturan olahraga.

Kemudian pelajaran lainnya seperti tentang sebuah pertanyaan, "Bisakah olahraga mengajari kita cara untuk lebih memahami dan mengatasi masalah ketidaksetaraan?"

Begitu pula, "Bagaimana olahraga menangani masalah ras, jenis kelamin, dan agama dengan cara yang lebih konsisten dengan individualisme dan kebebasan?"

Dan yang terakhir, "Apa yang bisa diajarkan olahraga kepada kita tentang interaksi kebebasan dan kemerdekaan dalam meraup keberuntungan dan kesuksesan?"

Olahraga adalah jendela lebar dan sejuk untuk membangun sebuah kebebasan dan kesetaraan.

Bagi liberal klasik, khususnya yang berhubungan dengan olahraga ketahanan, tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat menandingi sensasi persaingan dan kepuasan ataupun kegembiraan melewati batas ketabahan mental yang diperlukan untuk mengatasi ketakutan, rasa sakit dan ketidaknyamanan.

Tetapi bagaimana seseorang mengembangkan kekuatan itu? Adakah kebebasan dan kemerdekaan? Itulah yang diperjuangkan oleh liberal klasik.

Kita semua bisa bebas melatih otak dan tubuh kita untuk berkembang dan bersaing bebas. Tegakkan kepala Anda, dan bebaskan tubuh dan jiwa Anda untuk mampu melakukan prestasi yang luar biasa!

Bagi Chrissie, balapan itu menyakitkan, jadi perlu pelatihan yang kadang-kadang harus menyakitkan juga. Manusia bebas melatih tubuhnya sekehendaknya. Itulah konsep olahraga ketahanan menurut pandangan liberal klasik. Ketidaknyamanan bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan! 

Liberal klasik memandang bahwa pelatihan adalah tentang belajar mendorong batasan fisik Anda, sehingga saat lomba Anda  telah berhasil menahan rasa sakit dan ketidaknyamanan tersebut.

Justru yang menakutkan adalah ketika kebebasan dan kemerdekaan kreativitas dibatasi dan ditindas. Sebagaimana yang pernah terjadi di dunia olahraga ketahanan yang dimonopoli oleh "white collar". 

Awalnya, olahraga ketahanan semisal trail running, marathon, triathlon, duathlon berkonsep bahwa berpartisipasi dalam olahraga tersebut membutuhkan hal-hal utama seperti isu gender, perijinan dan uang yang banyak.

Berkat kegigihan perjuangan para liberalis semisal Chrissie, Kilian Jornet, Anton Krupicka, kini, semua itu bisa dan bebas dinikmati semua lapisan masyarakat yang merdeka.