Karyawan
1 bulan lalu · 124 view · 5 menit baca · Budaya 28415_76959.jpg
ilustrasi.int

LGBT dan Sosial Media

Mendengar istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) di era sekarang adalah hal yang biasa, terlepas pro dan kontra yang terus bermunculan di setiap sudut dunia. LGBT sendiri dapat ditemukan dengan mudah, bisa di lingkungan kerja, lingkungan tempat tinggal, cafe favorit Anda, atau mungkin di rumah Anda.

Sebagian besar LGBT yang merupakan Warga Negara Indonesia masih enggan membuka diri terhadap lingkungan sekitar, terhadap orang terdekat, dan bahkan malu mengakui kenyataan pada diri sendiri. Akibatnya, sebagian akan menikah, mempunyai keluarga seperti orang normal pada umumnya. 

Namun pada satu momen hidupnya, bukan tidak mungkin mereka mengikuti kata hati mereka sebagai LGBT, melakukan apa yang mereka inginkan secara diam-diam demi memuaskan hasrat terpendam yang mereka miliki.

Kemajuan zaman telah menciptakan kemudahan-kemudahan serta terobosan baru yang memudahkan manusia dalam menjalani kehidupan. Media sosial salah satunya. Hanya dengan sentuhan jari, suatu bentuk komunikasi telah terjadi, dan terbentuk ikatan satu sama lain antara pengguna media sosial tersebut. Begitu juga aplikasi-aplikasi yang mendukung LGBT, bermunculan dan memudahkan pelakunya dalam membentuk ikatan.

Saya menemukan fakta dari aplikasi kencan kaum Gay dan Bisexual, GROWLr, sebagian besar penggunanya ialah pria bertubuh gempal yang disebut Bear (Beruang) dan pria bertubuh tidak gempal yang disebut Chaser. Banyak dari Bear merupakan pria beristri yang melampiaskan hasratnya, mencari teman kencan melalui aplikasi tersebut.

Aplikasi GROWLr dapat menampilkan pengguna terdekat yang mempermudah pengguna menemukan teman kencan atau pasangan yang mereka inginkan. Sebelumnya, pada Kamis (08/09/16) Rudiantara, selaku Menteri Komunikasi dan Informasi berencana memblokir 17 aplikasi LGBT, dan salah satunya adalah GROWLr. Akan tetapi aplikasi-aplikasi tersebut masih dapat digunakan hingga 2018, termasuk GROWLr.

AT (28) seorang pria, merupakan pengguna aplikasi kencan LGBT aktif yang bekerja di sebuah perusahaan kertas di Provinsi Riau. AT mengatakan berencana mencari pasangan yang nyaman untuk diajak berhubungan jarak jauh, mengingat ia bekerja di luar pusat kota.

“Cari yang nyaman aja, nggak perlu yang ganteng, kebanyakan yang ganteng itu kucing (istilah lain gigolo),” ujarnya saat dihubungi melalui panggilan suara aplikasi Whatsapp, Minggu (15/04/18).

AT mengaku menyukai aplikasi kencan LGBT atau mencari kenalan melalui media sosial karena lebih mudah dan terdapat tirai transparan yang dapat melindungi kehidupannya sebelum benar-benar mengenal teman kencan tersebut. Ia dapat memilih teman kencan kesukaannya yang dapat diajak berbicara dengan nyaman, serta menjaga privasi satu sama lain.


Ada pula BD (47) yang merupakan seorang Bear dan mencari Chaser untuk dibayar. BD mengaku tinggal bersama istri  dan anak bungsu mereka, dua anaknya yang lain kuliah di kota lain. Ia bekerja sebagai seorang manajer salah satu Bank Syariah di kota Medan. Biasanya ketika bepergian keluar kota, BD menggunakan aplikasi kencan LGBT untuk mencari berondong yang ia kehendaki.

Istri BD tidak mengetahui perbuatan menyimpang BD. Ia mengaku kalau istrinya sampai tahu, maka dunianya akan kiamat. Karenanya ia akan menghapus aplikasi kencan LGBT miliknya jika berada di rumah atau dekat dengan sang istri yang menurutnya sangat mencintainya.

“Kadang Om bayar empat ratus (Rp 400.000). Kalo suka pasti dilebihkan, atau diajak ketemu (lain waktu) lagi,” ujarnya ketika ditanya melalui obrolan Whatsapp (17/04/18)

BD mengakui kalau perbuatannya salah. Namun godaan yang timbul dan mudahnya menemukan teman kencan melalui media sosial menjadi tidak terelakan, ditambah adanya kesempatan yang datang membuat perbuatannya untuk mengencani laki-laki muda menjadi mungkin terjadi.

Sementara itu RF (23) adalah sarjana muda yang baru diwisuda pada Oktober 2017 mengaku sangat menyukai aplikasi kencan LGBT dan media sosial miliknya. Ia berasal dari keluarga yang menurutnya kurang mampu, mulai menjadikan media sosial sejak 2009 sebagai media berkenalan dengan banyak gay dan bisexual.

RF sering menjalin cinta dengan seorang gay top (julukan untuk gay yang berperan sebagai pria atau melakukan aktivitas seksual layaknya pria). Akan tetapi RF mengaku lebih menyukai berkencan dengan Om-om yang memberinya uang atau melengkapi kebutuhannya sebagai seorang remaja yang beranjak dewasa.


“Bagus sama Om-om dapet duit, gak sakit hati ditipu, kan?” ujar RF saat ditemui di salah satu cafe di kota Pekanbaru dengan penampilan rapi berkemeja biru, Minggu (15/04/18).

RF mengaku pernah mengenal seorang pria royal yang ia panggil Mas, bekerja di Jakarta dan selalu ke Pekanbaru setiap bulan untuk urusan pekerjaan. Mas dimata RF merupakan pria baik yang membuatnya jatuh cinta. Tidak hanya mau melengkapi kebutuhan RF saja, Mas juga memberikan kenyamanan yang sulit RF dapatkan dari kenalan-kenalannya sebelum bertemu Mas.

“Mungkin kalo dia (Mas) ajak nikah aku mau,” angannya sembari tersenyum.

Harapan RF untuk terus bersama Mas pun kandas, ketika JP (22) sahabat dekat RF ternyata merebut Mas dari RF. Seiring berjalannya waktu, Mas akhirnya meninggalkan RF dan juga JP karena tidak ingin menimbulkan pertengkaran antara RF dan JP yang sebenarnya sudah terjadi.

RF yang merasa patah hati kembali mencari kenalan melalui Facebook, Instragram, Aplikasi kencan Hornet, dan juga Line. Dia berhasil menemukan seorang pria berusia 52 yang ia sebut Gadun. Gadun tersebut selalu memberi RF uang jajan selama seminggu di saat akhir pekan, karena saat itulah keduanya dapat bertemu.

Sang Gadun tinggal dan bekerja di Duri, sekitar 3 jam perjalanan darat dari Pekanbaru. Ia telah menikah dan memiliki 2 orang anak. Istrinya seorang PNS yang cukup sibuk dan tidak terlalu memperhatikan kesibukan lain suaminya. Hingga suatu hari istri Gadun RF merasa curiga karena kebiasaan Gadun yang selalu pergi ke Pekanbaru setiap akhir pekan, ia pun mengikuti Gadun dengan harapan mendapat jawaban atas kesibukan baru suaminya tersebut.

Gadun yang tidak curiga sama sekali dengan santai memasuki hotel bintang 4 di Pekanbaru, di mana RF telah menunggu pada salah satu kamar. Singkatnya, istri Gadun menangkap basah suaminya berselingkuh dengan seorang laki-laki seumuran anak sulung mereka.

Karena memikirkan kedua anaknya, dan takut menjadi perbincangan banyak orang di masa depan, istri Gadun itu memaafkan dengan garis keras RF tidak boleh berhubungan apapun dengan si Gadun, begitu sebaliknya.

“Namanya kucing, pasti nyari ikan seger, masa ikan asin muluk. Sebulanan memang Gadun tuh ngilang. Tiba-tiba dia chat di Facebook pake akun baru. Jadi, kami ketemu lagi. Cuma ketahuan lagi,” Beber RF.


Kejadian tersebut membuat istri Gadun trauma dan rumah tangga mereka diambang kehancuran, sampai-sampai si Gadun hampir nekat meninggalkan anak dan istrinya hanya untuk tinggal bersama RF. Akan tetapi RF berpikir panjang, saat itu ia masih kuliah semester 7 dan tidak ingin merusak masa depannya sendiri, sehingga  RF memutuskan meninggalkan Gadun tersebut yang tidak ia ketahui kabar beritanya hingga saat ini.

“Lagian masih banyak Gadun sehat yang lain di luar, kan?” Ujar RF sambil menghela nafas dan menunjukan list pertemanannya di aplikasi Hornet.

Kendati demikian, RF mengatakan bahwa dirinya sering merasa tidak nyaman menjadi LGBT. Dia merasa kesepian, bahkan sering menangis sendiri memikirkan banyak hal. Ia tidak ingin mati sebagai gay dan menjadi pemicu terjadinya kiamat lebih cepat.

RF berharap dapat menemukan seorang perempuan yang mau menikah dengannya dan memperoleh kehidupan normal. Meski sebenarnya dia tidak yakin dapat melakukan tugasnya sebagai seorang suami dengan baik nantinya.

Artikel Terkait