59898_89685.jpg
Google Image
Filsafat · 4 menit baca

OTT dan LGBT
Moral Agama dan Moral Sekuler

Entah kenapa, setiap mendengar tentang LGBT dan OTT( Operasi Tangkap Tangan) ingatan saya kembali pada buku yang saya baca lebih dari 20 tahun lalu. Judulnya Falsafah Akhlak. Ditulis oleh Muthahhari, seorang empu bangsa Iran. Buku itu membahas hal-hal perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk, yang moral dan yang amoral. Boleh jadi kata-kata LGBT dan OTT memicu pikiran soal moral dan amoral yang mengingatkan saya pada buku tersebut.   

Waktu itu saya baru tahu,  bahwa yang dibicarakan di buku itu, Filsafat Akhlak, ternyata sudah dibahas manusia selama ribuan tahun. Dan belum juga bisa selesai. Dalam bahasa Inggris itu disebut sebagai Ethics atau Moral Philosophy. Seperti cabang filsafat yang lain, filsafat akhlak atau filsafat moral  juga amat pelik. Tapi, walau tidak mudah dipahami, di dalamnya ada banyak hal yang cukup menarik dan mengusik hati.  

Pokok bahasannya adalah soal perilaku manusia. Yang benar, yang salah, yang  buruk, yang boleh, yang tidak boleh. Yang benar, yang wajib dilakukan, yang opsional. Yang boleh-boleh saja, dan yang terpuji. Cukup ruwet.

Ada teori yang melihat perilaku dari segi akibatnya. Perilaku baik bila berakibat baik dan sebaliknya.  Teori lain melihat perilaku dari segi hakekat perilaku itu sendiri. Segi karakter atau akhlak pelakunya. Orang setuju bahwa dusta, gosip, mabuk-mabukan sebagai perilaku buruk. Tapi karakter orang tidak selalu sanggup menahan godaan berbuat itu semua. Lain teori lagi, perilaku juga dilihat dari segi niat dari sudut niat si pelaku.

Akhlak, moral, atau Etika, juga dibahas dari mana sumbernya. Dari situ, lahir dua kubu pemikiran yang sulit bisa ketemu. Kubu yang percaya pada Tuhan, kubu teis, yang menganggap sumber akhlak dari wahyu dan ilham dari Tuhan, dan kubu ateis humanis yang percaya bahwa etika bersumber dari rasio. Akhlak atau etika berevolusi sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Prosesnya rasional sepenuhnya.

Pandangan teis dan ateis sepintas sepakat pada sebagian besar apa yang baik dan yang buruk. Perbedaannya, pandangan teis memandang etika sebagai suatu yang absolut, sedangkan pandangan ateis humanis memandang etika selalu bisa dipertanyakan oleh rasio. Suatu saat diterima, saat lain bisa ditolak. Pandangan ateis ikatan etikanya cuma horisontal sosial saja, pandangan teis memiliki ikatan lain, ikatan vertikal pada Tuhan.

Bertrand Russel contohnya berpendapat, bahwa semua perbuatan akhlaki itu adalah perbuatan licik mencari keuntungan yang jauh kedepan. Seorang tidak mau mencuri, karena ke depan dia tidak mau dicuri. Orang yang berbuat buruk sebenarnya tanpa sadar merugikan diri sendiri.

Maka katanya, etika dimengerti dan dilaksanakan lebih baik di masyarakat peradaban maju dibanding masyarakat terkebelakang.  Dalam masyarakat yang rasional, kata pemikir-pemikir itu, akhlak berada di puncak kesalehannya. Perbuatan akhlaki dilakukan bukan karena ingin pahala atau takut siksa Tuhan, tapi karena pertimbangan esensi kebaikan rasional perbuatan itu sendiri. Konsep mirip itu, sebetulnya juga dipunyai oleh kaum beragama. Sufi perempuan Rabiah Al Adawiyyah berkata dalam puisinya, “Ya Tuhan, haramkanlah surga buatku bila niatku cuma ingin surgaMu. Jadikanlah aku kayu bakar neraka bila niatku cuma takut siksaMu”.

Tapi tanpa ikatan vertikal, apakah rasio cukup menjamin manusia patuh berpegang pada etika? Bukankah OTT selalu terjadi karena perhitungan rasional yang meleset dari pelaku korupsi?. Tanpa Tuhan dan Hari Pengadilan, semuanya berakhir sampai kematian saja. Maka bila perlu, merampok hak milik orang yang lemah adalah pertimbangan cukup rasional.  Dostoevsky pun berbicara lewat satu tokohnya, “Tanpa Tuhan, orang boleh berbuat apa saja sesukanya”.  Juga John Locke (1632–1704),  “Tanpa Tuhan, maka perekat masyarakat seperti sumpah, janji, persetujuan, akan jadi rapuh. Meniadakan Tuhan, walau selintas saja dalam pikiran, bakal  menghancurkan semua itu”. 

Hal lain yang tidak ketemu, kubu teis beranggapan bahwa beberapa unsur-unsur etika yang diturunkan lewat wahyu, belum tentu bisa dimengerti rasio dalam rentang beberapa generasi manusia. Maka etika bersifat absolut, tidak bisa dipertanyakan walau mungkin bisa dipahami. Larangan berzina atau larangan minum alkohol yang masih bisa digugat oleh rasio, sebagai contohnya. Katanya, WHO baru tahun 2018 ini mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada batas aman dalam mengonsumsi alkohol.

Pandangan seperti itu bukan tanpa masalah. Yang pertama, wahyu dari Tuhan yang mana yang mesti kita dengar? Yang kedua, prinsip akhlak absolut itu, bisa melahirkan berbagai akhlak buruk. Menutup dialog dan intoleransi misalnya. Yang ekstrim bisa menimbulkan bunuh-bunuhan dan penindasan atas nama agama. itu sudah sering membuat sengsara umat manusia. 

Yang lain, merasa sudah benar absolut, menyebabkan rasio berhenti tidak bisa jalan lagi. Agama jadi membodohkan dan membutakan. Itu pun banyak terjadi saat ini di sekitar kita. Padahal, perbuatan buruk seperti berbohong dan mencuri tidak juga absolut. Pada  situasi tertentu, rasio bisa menimbang, berbohong malahan diharuskan untuk suatu kebaikan.   

Di tataran lahiriah dan sosial, akhlak menginspirasi manusia menciptakan sistim hukum. Sistim hukum adalah perjanjian tertulis tata-tertib hidup bersama yang mengikat berikut sangsi-sangsinya. Dan seperti teknologi dan ilmu pengetahuan, sistim hukum berkembang berevolusi terus maju lewat estafet kemanusiaan. Peradaban baru tidak perlu menemukan roda setiap kali.

Pada tataran batiniah individual, akhlak manusia selalu dirakit dari titik nol. Tidak ada estafet dari pribadi-pribadi manusia sebelumnya. Pada setiap bayi, dia bayi akhlak pula.  Menyempurnakan rakitan akhlak, adalah upaya manusia sepanjang hidup. Sangsinya cuma ada didalam hati. Dugaan bahwa akhlak beroperasi karena ketakutan ancaman-ancaman surga-neraka tidak tepat betul. Ada kemungkinan, bahwa yang demikian adalah gambaran karakter manusia di tingkat perkembangan remajanya.

Yang terang,  bahwa etika tetap bertahan dengan atau tanpa Tuhan. Teori rasio juga sulit menerangkan mengapa perbuatan ahlaki seringkali mengalahkan interes pribadi. Kok mau  menolong orang lain dengan membahayakan nyawa sendiri? Kok mau memikirkan nasib generasi akan datang yang diluar untung-rugi? Manusia kok tetap saja cenderung menerima ikatan moral. Apa sebabnya? 

Itu juga pertanyaan Immanuel Kant yang heran, “Dua hal yang paling memukau saya . Bintang-bintang yang bertaburan di langit, serta  hukum moral yang terus mengusik didalam hati”. Tentunya tergantung kita masing-masing. Ketakjuban kita pada bintang-bintang  dilangit dan hati yang mengusik itu, mendekatkan kita pada sebelah yang mana,

Disebelah Darwin, atau disebelah iman pada Tuhan.


Bagi yang tertarik lebih jauh, sila baca:

  • Muthahhari, Murtadha. 1995. Falsafah Akhlak. Bandung : Pustaka Hidayah.
  • Pojman, Louis P. , Fieser,James. 2012. Ethics: Discovering Right and Wrong . Boston : Wadsworth
  • Garcia,Robert K.,King,Nathan L.. 2009. Is Goodness without God Good Enough. Lanham : Rowan & Littlefield Publisher,Inc