Akhir tahun 2019 dunia telah dikagetkan oleh kehadiran virus baru yang gejalanya mirip virus Influenza namun daya penularannya sangat cepat. Begitu cepatnya penularan tersebut, virus yang berawal dari Wuhan ini kini menyebar hampir ke seluruh dunia. 

Tidak mudah memutuskan suatu penyakit sebagai pandemi karena untuk bisa dianggap sebagai pandemi penyakit tersebut adalah penyakit baru yang telah menyebar secara luas ke seluruh dunia. Covid-19 telah memenuhi syarat tersebut dan kini telah secara resmi dianggap oleh WHO organisasi kesehatan dunia sebagai pandemi.

Virus yang dikenal dengan nama Covid-19 ini kini telah menyebabkan Pandemi dan telah meluas hampir ke seluruh dunia. Umat manusia telah mengalami beberapa pandemi yang membuat kematian begitu banyak.

Beberapa pandemi yang  yang pernah terjadi di dunia adalah HIV/AIDS, Flu Asia, Flu Babi dan Flu Spanyol. Semua pandemi tersebut telah memakan ribuan bahkan ada yang jutaan manusia di seluruh dunia. Peristiwa pandemi ini tentunya mempunyai rekaman maupun catatan catatan yang berkaitan dengan  informasi yang dikandungnya baik itu berupa arsip  tekstual maupun multimedia.

Semua informasi ini merupakan memori kolektif dunia yang harus diselamatkan dengan cara disimpan dengan catatan khusus karena keunikan informasi yang dikandungnya. Sebagai memori kolektif semua arsip yang berkaitan dengan pandemi korona harus dikelola sebagai warisan budaya untuk masa kini maupun masa yang akan datang.

UNESCO telah meluncurkan program Memory of The World sejak tahun 1992 yang ditujukan untuk memfasilitasi pelestarian semua kekayaan budaya yang berupa arsip. Selain pelestarian, program ini juga untuk memperluas  akses dari warisan dokumenter tersebut, serta meningkatkan kesadaran akan keberadaan dan manfaat arsip arsip tersebut sebagai memori kolektif dunia.

Arsip Pandemi Korona yang terjadi di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia beresiko menjadi memori kolektif dunia karena keterkaitannya satu sama lain. Jika arsip-arsip tentang korona ini tidak dikelola dan dianggap sebagai persoalan kesehatan biasa maka dunia akan kehilangan memori kolektif yang bisa dipakai untuk kepentingan masa yang akan datang.

Arsip mempunyai keunikan cara pengelolaan maupun pada saat terciptanya di masing-masing negara. Kesadaran akan keunikan inilah yang nantinya akan memberikan khasanah memori dunia. Dengan adanya kesadaran dari negara-negara yang terkena pandemi untuk mengelola arsip korona dengan baik maka hal tersebut  akan menjadi warisan pengetahuan  untuk generasi yang akan datang.

Semua item, koleksi, khasanah dan semua warisan bahan dokumneter tentang korona akan menjadi warisan memori kolektif dunia karena informasinya mempunyai signifikansi dengan persoalan dunia yang lebih luas tak terbatas ruang dan waktu.

Negara yang terkena dampak Korona mengalami kerugian di segala bidang. Tak terkecuali negara kita, tidak hanya di sektor kesehatan, tetapi sektor lainnya juga mengalami dampak yang sama,  baik itu sektor ekonomi, politik,  dan perilaku budaya.   Semua terimbas akibat terjadi pandemi korona ini.

Di sektor ekonomi, banyak pelaku bisnis yang merugi karena tutup akibat pembatasan sosial serta minimnya mobilitas orang maupun barang. Di sektor politik juga mengalami banyak perubahan misalnya penundaan pilkada dan juga aktivitas para regulator yang tertunda akibat adanya korona ini.

Di bidang budaya pun demikian, bagaimana event budaya harus mengekspresikan hasil karyanya juga berubah akibat adanya larangan untuk mengundang massa atau berkerumun lebih dari sepuluh orang.

Semua sektor yang penulis sebutkan terkena dampak pandemi korona di atas,  mempunyai catatan kegiatan yang menjadi arsip dari kegiatan tersebut  di samping arsip tentang kesehatan itu sendiri. Arsip-arsip ini haruslah mulai sekarang mulai disimpan secara khusus untuk pada akhirnya nanti diakusisi oleh lembaga kearsipan baik pusat maupun daerah.

Arsip ini semua akan bersifat statis karena mempunyai nilai guna informasional untuk generasi yang akan datang. Karena arsipnya berkaitan dengan pandemi dunia maka tidak kecil kemungkinannya semua arsip tentang korona akan menjadi memori kolektif dunia yang bisa dimanfaatkan secara luas oleh penduduk negara lain.

Sejak pertama ditemukan di Wuhan, semua arsipnya bisa direkonstruksi penyebarannya, dengan cara melihat catatan kesehatan kasus pertama yang terjadi di tiap negara.

Kapan pertama kali ditemukan di Indonesia pun ada catatan riwayat kesehatan dari korban yang pertama kali terkena virus Covid-19 ini.  Berapa jaraknya waktu sejak di Wuhan dan sampai ke Indonesia bisa dilihat dari arsip-arsip tersebut. Semua ini adalah informasi penting yang tidak hanya berguna bagi negara kita tetapi juga berguna bagi negara lain.

Tentunya, karena informasi Korona ini berbagai macam, tentunya  yang berkaitan dengan kesehatan seseorang akan menggunakan etika khusus dan tak akan dibuka secara bebas walaupun itu adalah arsip statis. Karena beresiko menjadi memori kolektif dunia maka pengaturan klasifikasi aksesnya harus ditentukan hingga sekarang agar nantinya tidak menimbulkan masalah.

Khusus arsip kesehatan harus tetap mengikuti standar akses arsip kesehatan yang terdapat dalam etika penyimpanan rekam medis.  Untuk arsip mengenai dampak lainnya bisa dibuka secara luas mengacu pada aturan yang terdapat pada pengelolaan arsip di negara masing-masing.

Last but not least, karena luasnya dampak korona, arsip yang tercipta pun akan melimpah dan ini membutuhkan kebijakan khusus dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sebagai Lembaga kearsipan Nasional agar arsip pandemi korona ini bisa terkumpul dengan teratur dari Sabang sampai Merauke dan pada akhirnya bisa  menjadi memori kolektif dunia. Salam Arsip.