Banyak pihak yang mengira bahwa budaya Timur itu selalu erat dengan Konservatifme dan pengekangan pada hak-hak manusia. Padahal kenyataan itu tidak sepenuhnya benar. Sebut saja Negeri Tirai Bambu, sebagai negeri leluhur diaspora etnis Tionghoa (Tenglang) di Indonesia dan salah satu peradaban tertua di dunia, terkenal kaya akan budaya, termasuk mitos dan folklore. Terdapat pula folklore yang secara gamblang dan tersurat menampilkan citra Lesbianisme atau dalam istilah para wanita Tionghoa disebut "Memakan Satu Sama Lain" (Tui Shih) dan "Menggosok Cermin" (Mojingzi).

Salah satu mitos tersebut adalah cerita tentang Kerajaan Wanita (Nu'er Guo), sebuah negeri di tengah pulau yang hanya dihuni oleh wanita, tanpa adanya pria.

Di Negeri Wanita itu, hubungan asmara hanya dilakukan oleh sesama wanita. Apabila mereka ingin memiliki keturunan, mereka akan tidur di luar rumah, menunggu Angin Selatan (Nan Feng) menghembus tubuh mereka. Jika ternyata yang terlahir adalah bayi laki-laki, maka bayi tersebut tak akan berumur lebih dari 3 tahun.

Kisah itu menginspirasi seorang Penulis Feminis Era Dinasti Qing bernama Li Ruzhen untuk menulis sebuah novel berjudul Romansa Bunga di Cermin (Jing Hua Yuan), yang mengambil setting ketika Dinasti Tang diperintah oleh Kaisar Wanita, Wu Zetian.

Dalam novel tersebut, kaum hawa mengenakan pakaian lelaki dan mengerjakan segala jenis pekerjaan lelaki dari mulai Menteri, Jenderal hingga Pengusaha, sementara kaum adam 'turun derajat' menjadi pembantu dan pengasuh anak, mereka pun diharuskan memakai pakaian wanita dalam keseharian.

Selain folklore tersebut, terdapat sejumlah literatur sastra maupun pertunjukan drama yang merupakan hasil olah pikir para seniman dan budayawan dalam menangkap realitas sosial yang memperlihatkan bahwa Lesbianisme merupakan sebuah fenomena yang lumrah dalam kehidupan masyarakat Cina klasik.

Hal itu dibenarkan pula oleh Robert Hans van Gullik dalam bukunya yang berjudul Sexual Life in Ancient China: A Preliminary Survey of Chinese Sex and Society.

Salah satu sastrawan itu adalah Feng Menglong yang hidup pada era Dinasti Ming. Ia menulis buku kompilasi berjudul Cerita untuk 'Menyadarkan Dunia: Kisah-Kisah Dinasti Ming' (Hsin Shih Henh Yen: Yushi Mingyan), di mana salah satunya mengisahkan tentang Kaisar Dinasti Jin keturunan Jurchen (etnis Nomaden yang masih berhubungan dengan Mongol dan Turki) bernama Wanyan Digunai.

Kaisar Digunai memiliki ratusan selir. Namun selir kesayangannya hanya satu, yaitu seorang Janda bernama A li Hu. Namun, Kaisar berwatak cabul ini masih tak puas juga. Ia tergoda dengan kecantikan Putri A li Hu dari suami sebelumnya, yang bernama A li Zhengjie.

Dengan akal muslihat, ia berhasil mencicipi keperawanan putri tirinya itu. Sang Ibu lantas terbakar api cemburu karena Zhengjie kemudian menjadi selir favorit Kaisar, maka ia pun mencari kesenangan dengan melakukan hubungan sesama jenis bersama pelayan wanitanya yang bernama Shengge.


Masih di Era Dinasti Ming, seorang penulis drama bernama Li Liweng menciptakan sebuah Drama yang berjudul Cinta Harum sang Gundik (Lien Hsiang Pan). Drama ini berpusat pada tokoh Cui Jianyun, Istri dari Fan Jianhu.

Suatu hari, Cui Jianyun pergi ke kuil, di sana ia bertemu dengan seorang Gadis cantik nan bertalenta bernama Cao Yuhua. Kedua insan itu pun saling jatuh hati. Untuk mengikat cinta terlarang ini, Cui Jianyun mengusahakan agar Cao Yuhua bisa menjadi istri kedua suaminya, dengan begitu mereka tak akan terpisahkan.

Novel era Dinasti Qing yang disebut-sebut sebagai Karya Sastra Terbaik sepanjang sejarah Cina, berjudul Mimpi Paviliun Merah (Hong Lou Meng), karya Cao Xueqin, juga menyuguhkan kisah romansa beraroma Lesbianisme. Dua orang perempuan pemain sandiwara, Ou-Kuan yang selalu memerankan lakon pria dan Du-Kuan yang selalu memerankan lakon wanita, terlibat hubungan asmara seperti apa yang mereka perankan di atas panggung.

Di samping itu, terdapat sejumlah organisasi maupun Social Groups yang secara legal dan formal memfasilitasi berlangsungnya praktik Lesbianisme di Cina. Salah satu yang terkenal adalah Kelompok Penggosok Cermin (Mojingdang) yang berpusat di Shanghai dan beranggotakan 20 orang yang terdiri atas para wanita simpanan pengusaha kaya, janda-janda kesepian dan wanita yang tak menikah. Para anggota saling berbagi dan mengajarkan pengetahuan seks mereka satu sama lain.

Ada pula Asosiasi Anggrek Emas (Jinglanhui) yang memiliki basis di daerah Guangzhou. Kelompok yang satu ini sangat tertutup dan para anggotanya benar-benar berkomitmen untuk menjalin cinta sesama jenis selama hidupnya. Kendati ada beberapa anggota yang memutuskan menikah, namun praktik tersebut tetap dilanjutkan tanpa sepengetahuan suami mereka.

Realitas kontemporer, masyarakat Tiongkok Daratan sangat tidak menganggap tabu praktik-praktik hubungan sesama jenis, entah itu hubungan romansa-seksual antarlelaki ataupun antarperempuan.

Survei yang dilakukan oleh pakar Seksologi, Li Yinke menunjukkan bahwa 80% responden yang ia survei menganggap bahwa kaum Gay ataupun Lesbian tak berbeda dengan 'manusia normal' pada umumnya. Bahkan sebuah polling yang dilakukan tahun 2009 menunjukkan bahwa 30% penduduk kota Beijing mendukung dilegalkannya pernikahan sesama jenis.

Dalam menanggapi fenomena Lesbianisme di Tiongkok yang terus berdentum selama berdekade-dekade, Dosen Sastra Cina di Universitas Michigan, Tze Lan Deborah Sang, Ph.D dalam bukunya yang berjudul The Emerging Lesbian: Female Same-Sex Desire in Modern China, berargumen bahwa praktik Lesbianisme dapat menjamur dalam kehidupan sosial masyarakat Tiongkok dikarenakan adanya praktik poligami yang merupakan sebuah kebiasaan yang jamak di era Kekaisaran.

Tze Lan Deborah Sang mengatakan bahwa kebiasaan lelaki Tionghoa memperistri lebih dari satu wanita atau bahkan menyimpan gundik demi tujuan memperbanyak keturunan laki-laki penerus marga membuat para wanita tersebut saling bergantung satu sama lain, baik dalam hal afeksi maupun aspek seksual, karena distribusi keintiman dari sang suami kepada para wanita tersebut, sering kali tidak setara.

Namun, masih menurut Tze Lan Deborah Sang, praktik Lesbianisme itu juga memberikan manfaat karena turut membidani timbulnya keharmonisan dan ketenteraman dalam biduk rumah tangga.

Setelah melihat realitas historis bahwa Lesbianisme merupakan internalized values dalam masyarakat Tiongkok sejak berabad-abad lampau, keniscayaan itu menguatkan mazhab konstruksionis yang berpendapat bahwa homoseksualitas atau Lesbianitas adalah sebuah peran sosial yang telah berkembang secara berbeda dalam budaya dan waktu yang berbeda.

Dengan ini, kita juga bisa makin bijak bestari dalam memandang fenomena LGBT, bahwa sesungguhnya hal tersebut bukan hanya semata-mata penyakit sosial yang dibenci agama-agama samawi, namun juga merupakan komponen yang koheren dari khazanah lokalitas sejumlah kelompok masyarakat di dunia. Tinggal kita saja yang seyogianya lebih arif dan cermat dalam menyikapinya.