Pada kala tertentu dalam hidup, seseorang akan "kehilangan" sesuatu. Nomina yang terkadang juga tak tahu entah apa itu. Hendak dicari, tapi tak tahu apa yang ingin dicari. Tahu yang dicari, tapi tak hendak dimiliki. Kehilangan adalah misteri paling absurd.

Burung kehilangan patahan sayapnya, bunga kehilangan jejak daun gugurnya, angin kehilangan arahnya, dan aku yang kehilangan duniaku. Sial!

Sekarang, aku sedang mencari-cari perbendaharaan kata dan imaji dalam otakku. Menapak-tilasi huruf per huruf. Meratapi kalimat yang usai sudah melesap.

Padahal aku sangat menyayangi duniaku: Kata-kata. Ternyata menyayangi saja tidak cukup untuk membuatnya abadi. Ya begitulah hidup dan kehidupan ini, semua fana.

Problema sedikit demi sedikit mengikis mereka. Fokusku berubah. Fokusku adalah menjaga diriku agar tetap "waras" daripada sekadar menunggui kata-kata di sangkar imaji.

Kehidupan penuh kejutan. Dan, aku tak suka terkejut. Untung saja aku tidak punya gangguan jantung, kalau saja punya, bisa jadi sekarang sudah bertransformasi alam.

Sebenarnya aku suka dengan segala macam keteraturan di dunia ini. Seperti setelah angka satu, pasti dua. Seperti benda jatuh pasti dari atas ke bawah (hukum gravitasi). Seperti ada matahari di siang hari dan bintang di malam hari. Dan, lusa ada aku dan kamu. Hehe.

Huft, aku ini "pemalas". Sesak di dada memikirkan segala hal yang tidak teratur. Alhasil, para aksara melipir pergi.

Baca Juga: Kado dari Tuhan

Suatu ketika, Tuhan memberikan "kejutan". Yang lebih dari mengejutkan, bahkan hampir membuatku ingin menyerah saja dengan hidup. Namun, diam dalam kuasa Tuhan untuk berserah lebih indah.

Semua kesukaan berganti ketidaksukaan. Segala "ke-aku-anku" berubah asing. Aku tak mengenali hidupku sendiri (lagi). Perlahan, diri ini juga berubah menjadi diri lain (asing).

Mungkin memang harus demikian takdirnya. Ada situasi dan kondisi di sisi bumi ini yang membuat kita kehilangan segala. Dan, yang tertinggal tidak lain hanya sebuah kata, "Ya sudah, mau bagaimana lagi."

Hikmah dari Kehilangan

Manusia punya batas-batas tertentu. Dalam hal menghibur diri sendiri, manusia tetap butuh orang lain. Semandiri apa pun, dia tetap merindukan bahu orang lain tuk sekadar meletakkan pelik.

Yang biasanya selalu ceria, tersenyum, dan bahagia, ternyata membutuhkan sosok orang lain meskipun hanya saling tatap dan menyeruput kopi bersama. Tanpa kata-kata, meskipun ingin menjemputnya (kata-kata!).

Yang biasanya menganggap semua keberuntungan dan keberhasilan atas dasar usaha diri, sekarang mengakui semua keduniawian ialah pemberian Gusti Pangeran. Manusia tidak bisa apa-apa dan tidak punya apa-apa, kecuali doa dan air mata. Pada saat paling palung dari sebuah kehilangan, manusia hanya berpegang teguh dari firman Rabb-nya.

Seiring berlalunya waktu, aku menyadari satu hal. Namanya hidup memang begini. Tak semua yang disemogakan bisa terwujud. Ada kalanya, mencari kepingan puzzle itu mudah, ada kalanya susah bahkan hampir ingin menyerah. Bisa jadi pun berdarah-darah.

Inilah salah satu nikmat dari-Nya. Bahwa air mata itu diciptakan tidaklah sia-sia. Suatu ketika dia pasti mengalir membasuh pedih dalam jiwa ini. Dan, rahang ada saatnya istirahat dari segala rekahannya. Pada akhir dari semua, manusia akan terpaksa penuh pemakluman.

Perjalanan Setelah Kehilangan

Yang hilang tidaklah hilang kecuali itu yang terbaik untuk diri sendiri. Yang hilang pasti akan datang dalam bentuk lain. Segala sesuatu akan berakhir indah, jika belum indah maka belum berakhir!

Perjalanan setelah kehilangan adalah pendewasaan diri. Bahwa dewasa tidak melulu tentang usia, tapi seiring "kejutan" dalam hidup. Bisa jadi, setelah ini ada "titipan" besar dari Tuhan yang hanya bisa diambil dari jalan takdir bernama kehilangan. Entah kehilangan dalam bentuk apa pun itu.

Tapak jalan untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya sudah diarahkan oleh Tuhan. Semua rambu-rambu lengkap sudah, kapan harus berhenti dan bergerak kembali.

Manusia sudah punya takaran kemampuan masing-masing. Siapa yang tahu tentang ini? Yang tahu, ya Yang Maha Menciptakan. Maka dari itu, perjalanan setelah kehilangan akan melibatkan banyak dialog kepada Pencipta. Karena pada finalnya nanti, yang tersisa hanya tinggal kemurnian diri sendiri dan Dia.

Sampai pada suatu ketika yang akan melengkapi caraku menemukan kepingan puzzle selanjutnya adalah sebuah wejangan yang muncul di beranda YouTube-ku oleh Cak Nun.

Jika disimpulkan wejangan tersebut akan begini:

Mengapa dalam Surah Al-Ikhlas tidak ada kata "ikhlas" di dalamnya?

Karena ikhlas itu letaknya di dalam hati, bukan diucapkan. Maka jika dia mengucapkan "ikhlas", sesungguhnya dia tidaklah ikhlas.

Baiklah, akan kucoba ikhlas atas semua pedihnya kehilangan kata-kata. Esok atau lusa mungkin mereka akan menghampiriku kembali.

Atau, jika pun tak kembali, setidaknya aku sudah berupaya mengemis supaya mereka kembali lagi pada sarangnya. Imajiku selalu mengharapkan kalian kembali lagi, wahai kata-kata!