1 bulan lalu · 3413 view · 7 min baca menit baca · Politik 30352_38440.jpg
Dok. Pribadi

Lenyapnya HMI sebagai Kader Bangsa

Situasi akhir-akhir ini membuatku merasa sedih. Orang-orang saling membenci, memaki, menjauhi karena beda pilihan politik. 

Polarisasi yang tajam sudah sampai di tahap orang saling menghakimi atas dasar simbol, seolah manusia yang digambarkan makhluk penyayang, telah punah. Semua ini gara-gara nafsu kekuasaan, dibumbui retorika agama dan dibakar dengan ketimpangan ekonomi.

Aku senang melihat mahasiswa demo, tapi perjuangan yang bukan untuk memperkaya diri sendiri. Aku bangga melihat kader HMI berteriak di jalanan, walau mobil-mobil orang kaya melintas tak peduli apa yang disuarakan. 

Dengan mereka unjuk rasa, artinya di negeri ini masih ada sekelompok pemuda yang mau berkeringat atas nama kerinduan rakyat mendapat rasa adil.

Di bulan puasa yang sebagian besar orang merasa momen suci, mata anak negeri ini justru dirobek kenyataan yang bikin orang bertanya-tanya, apa yang salah dari bangsa ini? Orang-orang lebih memilih dibayar Rp200.000 demi mengacau satu kota.

Sebegitu sulitnyakah mencari pekerjaan? Apa yang salah dari kepolisian? Peluru yang duitnya dari pajak masyarakat, ditembakkan ke dada anak rakyat.


Kita 21 tahun lepas dari sistem terpusat yang keras menindas kelas bukan pejabat. Kita sok bangga capaian reformasi, padahal institusi TNI, Polri, hampir-hampir sama arogannya di masa Orde Baru. Aku tak terlalu khawatir ada mahasiswa makan mi instan di kosan, dia sudah dewasa, terdidik, dan pasti bisa hidup di kota besar.

Aku justru cemas dengan nasib orang pinggiran yang tak lagi dilirik mahasiswa, karena mereka sibuk main game, naik gunung, kebulet skripsi, tak peduli situasi dan tekanan di masyarakat. Yang ikut memikirkan nasib orang tertindas memang ada, tapi dibandingkan jutaan siswa di perguruan tinggi, jumlahnya bisa disebut sangat terasing.

Caleg-caleg memang bermunculan saat musim kampanye. Mereka dengan gayanya seperti Dewa Pembawa Keranjang Solusi menebar ribuan janji. Tapi, usai terpilih, pemilihnya ditinggal, dikunjungi 5 tahun lagi jelang pemilu. Kini salah satu kubu kalah, dan beberapa caleg sudah keluar uang miliaran rupiah, hati dipenuhi rasa dendam, tak terima, mencoba mengaduk-aduk ketentraman masyarakat.

Aku tak percaya elite politik berjuang untuk bangsanya, ini sama tak percayanya dengan slogan Kepolisian ‘Mengayomi dan Melindungi Masyarakat’. Saat penegak hukum diperalat kepentingan politik penguasa, dan oposisi memproduksi hoaks untuk mendelegitimasi pemerintah, dan ormas-ormas akan membeo sesuai irisan patron, harusnya mahasiswa tampil lebih keras tapi berpijak di garis independensi.

Kita semua ini hidup di atas padatan yang mengambang di atas lautan. Kita berada di kapal yang sama. 

Harusnya kalau ada bajingan penghamba kekuasaan memakai cara adu domba, kita lawan bersama. Kalau ada politikus keparat yang menghembuskan SARA untuk tujuan pribadi dan kelompok, sedangkan masyarakat banyak saling bertikai, mestinya provokator itu kita seret bareng-bareng.

Kakek moyangku dulu mati-matian melawan Belanda karena dia rindu kehidupan rakyat yang merdeka, berdaulat, tenteram, dan tanpa teror. Kini saat pemimpin kita sama-sama kulit sawo matang, rambut hitam, kehidupan yang diinginkan leluhurku masih sekadar ilusi. Siapa pun yang memecah ketenteraman publik, mestinya ditangkap karena perilaku seperti itu tak pancasilais.

Sekarang apa yang dilakukan mahasiswa? Kalau cuma bagi-bagi takjil di jalan, anak SMP juga bisa. 

Sudah berapa lama konsolidasi kekuatan simpul mahasiswa berhenti? Jangan bilang kita tak punya musuh bersama layaknya Soeharto. Selama rezim masih represi, kemiskinan dimana-mana, aparat seenaknya menggebuk rakyat tanpa dihukum, itu berarti tak ada kata LIBUR bagi aktivis mahasiswa.

Dalam hidup serba sulit, wajar kita mendamba sesuatu yang indah. Kita ingin melihat sekelompok mahasiswa berkumpul membicarakan dimana letak salahnya tata kelola negara. 


Sialnya lagi, yang kudambakan berbelok. Yang ada bukan calon negarawan, tapi kunyuk aktivis yang mencari-cari kesalahan pejabat, menggorengnya, unjuk rasa, lalu isu lenyap usai mereka diajak makan kepala daerah.

Kasihan, rakyat kecil yang tak tahu apa-apa namanya dijual mereka yang punya agenda pribadi. Zaman ini era aktivis yang memiliki musuh aktivis. Bukan satu pejuang rakyat, lainnya aktivis komprador. 

Permusuhan ini tak mengenal kubu lawan, karena pertentangannya didasarkan pesanan. Hari ini si A bisa saja menghantam B, besok, bisa jadi A harus menghantam C dengan lebih dulu bermitra dengan B.

Situasi menjadi kian rumit, karena polarisasi tak cuma pembelahan dua kubu, tapi tiap sempalan, sudut, atau garis diagonal, seringkali saling serang untuk tujuan yang sangat pribadi. Jadi jangan kira semua ini untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat memperjuangkan bangsa, sama sekali bukan. Ini soal uang, kekayaan, pengaruh dan kehormatan diri, kelompok, partai, ormas. Di sini tidak ada bangsa.

Coba lihat secara jeli, mahasiswa yang demo seringkali bukan tuntutan ide, tapi demi uang dan gaya-gayaan. Ada yang cuma berpose memegang toa, spanduk, lalu minta difoto rekannya. Jadi unjuk rasa itu untuk prestise diri, sok merakyat, berlagak aktivis, padahal beberapa dari mereka tak terlalu tahu dasar tuntutan dan apa yang sesungguhnya masyarakat butuhkan.

Bagaimana mahasiswa bisa tahu apa yang diinginkan masyarakat, kalau mereka sendiri habitatnya di sekitaran kampus, kosan, tongkrongan, sekretariat organisasi. Menjadi berbahaya kalau aktivis bergaya elitis, padahal pejabat merasa elit karena mereka menguasai sistem, digaji besar, punya akses ke kebijakan, anggaran ada. Lha kalau mahasiswa, elitisnya didukung faktor apa?

Aku heran, kenapa belakangan ini orang merasa eksklusif seolah kelompoknya spesial, dan pihak lain pasti bakal disiksa Tuhan. Kita yang tinggal di bumi, tidak pernah tahu siapa bakal masuk surga dan siapa di neraka. Jangan karena beda agama, mazhab, lalu bara persoalan kecil disiram minyak. Kita sama-sama orang Indonesia, tinggal di papan NKRI yang sama, harusnya tak perlu memukul karena sebab sepele.

Kakandamu boleh saja caleg, politisi, tapi jangan mau diajak mempraktikkan gaya politik yang merusak ketentraman. Jangan karena dapat uang, lalu segala hal kamu lakukan. Mestinya pejabat publik dan elite partai komitmen, kerukunan antar anak bangsa lebih berharga dari pada capain partai. Kalau benar mereka berjuang atas nama bangsa, tak mungkin politik adu domba digunakan.

Sebagai kader HMI, aku pasti akan berpolitik. Tapi bukan demo bayaran atau membawa segerombol kader untuk dihargai masing-masing Rp.100.000 plus nasi bungkus. Yang ku pilih politik kebangsaan, yang tak membawa identitas agama atau etnis untuk menghajar lawan. Aku bukan berdiri di capres yang mana, karena aku adalah Politisi Rakyat, Partaiku adalah Partai Anti-Kemiskinan.

Siapa pun yang menodai Pancasila, berarti dia musuhku. Aku ingin jadi manusia, yang merasa prihatin saat ‘Manusia Gerobak’ jam 2 dini hari berjalan kaki di jalanan Jakarta tanpa dipedulikan gubernur. Karena aku manusia yang wajar, aku ikut sedih kalau anak Tionghoa disudutkan sebab etnisnya. Sebagai muslim, aku sadar tidak ada bayi yang bisa memilih dia lahir dari perut Jawa, Kristen, China, atau Papua.

Kita hidup hari ini, saat ini, jangan menyalahkan manusia hanya karena identitasnya bisa diseret ke luka masa lalu yang berkaitan dengan identitasnya itu. Muslim diajar Orang tidak bisa dihukum atas perbuatan yang tak dilakukannya’. 

Dulu orang di kampungku banyak ditembaki Serdadu Belanda, saat ke Bali, banyak ku jumpai turis dari Amsterdam, Den Haag, kalau aku ambil batu ku lemparkan ke kepalanya, apakah bisa dibenarkan? Tidak!

Orang-orang kita di masa lalu banyak yang dijadikan budak seks Tentara Kekaisaran Jepang. Kalau kita beramai-ramai menyerbu pabrik perakitan mobil di Jabotabek, kita pukuli bareng-bareng orang negeri Sakura itu, apa boleh begitu? Tidak! 

Walau leluhurnya menembaki rakyat kita, tapi dia tak tahu apa-apa. Dia lahir sebagai orang Jepang karena skenario Tuhan, bukan karena dia memilih.

Mari jadi orang beragama yang baik, kita kembalikan lagi citra orang Indonesia yang ramah, kita pulihkan negeri ini yang katanya dihuni manusia-manusia kaya senyum. Yang polisi jangan arogan, yang tentara harus benar-benar melindungi segenap tumpah darah Indonesia, bukan slogan semata. Yang politisi, tolong berhenti hidup seenaknya saja mentang-mentang punya akses kekuasaan.


Jokowi, kamu Kepala Negara, tolong pilih menteri yang benar, jangan mentang-mentang dia banyak uang dan berpengaruh. Kamu jangan takut diserang kubu oposisi, lalu berlindung di balik jenderal purnawirawan. Kalau kamu jujur, bekerja untuk rakyat, kami RAKYAT INDONESIA siap membelamu dari serangan hoaks. Tapi tolong, 8 warga yang meninggal ditembak itu segera usut, biar tak jadi luka sejarah.

Kader HMI, tak penting kamu pengurus atau hanya anggota, jangan mau diajak demo untuk tuntutan yang tak jelas, apalagi unjuk rasa pesanan. Teriakanmu yang tak ideologis hanya bikin gaduh, mengganggu masyarakat ingin lewat. Pilpres itu perkara remeh, perhitungan selesai, pemenang diumumkan, mari kita kembali ke kehidupan masing-masing.

Yang dosen kembali mengajar, karyawan kembali bekerja, dan mahasiswa menuntaskan skripsinya. Jangan semua tenaga dihabiskan untuk gontok-gontokan politik. Tagihan semesteranmu tak dibayari Prabowo, bayaran kosanmu juga tak dilunasi Jokowi. Masing-masing dari kita hidup di atas kaki sendiri, urusan Capres biar diurus PDIP dan Gerindra, tak ada hubungannya dengan mahasiswa.

Kita tak perlu peduli persaingan pribadi antara Jokowi-Prabowo, biarkan mereka berdua menyelesaikan sentimen emosinya. Kita, mahasiswa, kader HMI, hanya akan bergerak kalau ada kebijakan yang benar-benar terbukti merugikan rakyat. 

Kalau kubu A tak terima kalah pemilu lalu demo, apa hubungannya dengan mahasiswa? Kita hanya akan demo kalau menyangkut bangsa, bukan golongan.

Artikel Terkait