Lengking Tangisnya

Pemakaman Nia telah usai --- gundukan tanah itu masih basah --- sekian banyak hati masih berduka

Pagi menghembuskan angin dingin yang menusuk tulang. bayi mungil cantik anak Nia baru saja kubaringkan. Dua guling mungil ada di sisi tubuhnya. Aku pandangi wajah polos yang nampak semakin polos kala terlelap. Wajahnya polosnya membuatku terlupa akan lara atas sejarah kehadirannya. Terlupa? Tepatnya tak sempat lagi untuk mengingat masa pedih itu.

Tiba-tiba si mungil terbangun dan menangis pelan. Aku tepuk halus pantatnya yang terbungkus kain bedong, menenangkannya. Pandangan mataku berkeliling, mencari botol mungil. Namun, tidak kutemukan. Duh, sepertinya aku terlupa menyiapkannya. Ada setitik kepanikan mendengar tangisannya yang semakin keras.

“Ini susunya, Tyas,” bisik sebuah suara mengagetkanku.

Suara Bagus, ayah si mungil cantik. Spontan aku membalikkan badan dan menerima begitu saja botol mungil yang diulurkannya. Sigap bibir mungilnya mengulum dot dan meminumnya lahap. Dia kembali terlelap.

 Sebuah deheman pelan mengagetkanku. Ya Tuhan, Bagus masih ada di sini. Dia duduk bersandar memandang lembut pada  sosok mungil, anaknya. Kehadirannya di kamar ini bukan hal yang biasa. Dia tidak pernah memasuki kamar ini, sejak mbak Nia, istrinya yang juga kakakku dimakamkan. Sampai dengan hari ini dia tidak pernah menyentuh anaknya. Bahkan selalu menghilang entah kemana, kemudian muncul kembali ketika malam telah larut, tanpa menyapa dan menutup diri di kamar tamu.

“Makasih sudah dibantu membuatkan susu untuknya,” ucapku datar.

Kulihat Bagus hanya menatap anaknya dengan lembut. Perlahan dia berdiri dan mendekati anaknya. Dia ulurkan tangannya menyentuh kening dan pipi anaknya. Seulas senyum tipis tampak menghias bibir hitam sang ayah. Kabut tipis menyelimuti bola mata elang itu.

“Kemana saja kamu?” tanyaku sengit.

Ada rasa jengkel bercampur lega atas kehadirannya. Aku mencoba menguatkan hati menatapnya. Sebentuk wajah yang pernah kumiliki tampak lelah. Bayang duka memenuhi aura seluruh tubuh tegap itu.

“Kamu keterlaluan! Anakmu butuh ibunya tapi ibunya telah tiada. Dia butuh ayahnya sekedar menyentuhnya, pun tidak dia dapatkan!” desis amarahku tertahan. “Anakmu butuh ayahnya,” tepisku, “Kuharap kamu tidak menghilang lagi. Aku tidak bisa berlama menjaganya,” suaraku tercekat..

Aku beranjak menjauh dari tubuh mungil yang tampak semakin lelap. Lelap dalam belaian sang ayah yang telah lama dinantinya. Kubuka tirai jendela perlahan. Sinar matahari pagi membersit menerobos masuk. Aku buang pandangan jauh ke pekarangan rumah tua ini.

Suara berat terdengar mendesis pelan. Suara yang dulu meluluhkan hatiku dan akhirnya meremukredamkan semua mimpiku dengannya, “Tyas, aku pergi karena aku tak tahu harus bagaimana tanpa Nia, pun dengan anakku. Apalagi setiap kali melihatmu, semakin tak tahu lagi harus bagaimana,” jawabnya serak. “Aku hanya tahu bahwa aku telah membuatmu pergi, bahkan membuatmu tidak ingin pulang ke rumah ini.”

Kudengar keluh itu berlanjut, “Tyas, saat itu aku tidak mungkin memilihmu. Demi Allah, permintaan bapak untuk memilih Nia tidak sanggup aku tolak. Kamu layak membenciku selamanya,” lanjutnya kelu

Aku balikkan badanku. Dia terduduk di pinggir pembaringan. Matanya memandangku memelas. Kupicingkan mata menatap lekat wajah yang pernah memenuhi seluruh ruang rinduku. Rapuh nian sekarang laki-laki tegap ini.

“Kamu egois! Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku. Kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk mengerti apa yang terjadi dan apa maumu!” desisku geram.

Bergegas kutinggalkan kamarnya. Namun, tiba-tiba suara tangis si mungil melengking menahan langkah kakiku. Aku tertegun sesaat. Akhirnya aku kuatkan diri untuk meninggalkannya, toh sudah ada ayahnya.

Aku langkahkan kaki menuju kamarku. Kukemasi baju yang tidak seberapa banyak ke dalam tas punggung. Esok aku harus balik! Tinggalkan rumah ini. Tak ada air mata! Tak akan ada!

 Suara ketukan lembut terdengar di pintu kamar. Aku berjalan lemas untuk membukanya. Ibu berdiri di hadapanku dengan wajah penuh harap.

“Nduk Tyas, tolong tenangkan keponakanmu. Bagus dan Ibu sudah berusaha, tapi keponakanmu tetap masih menangis keras begitu. Tolong ya, Nduk,” suara lembut ibu membujukku.

Aku kembali menuju kamar itu lagi. Bagus terlihat panik, mendesis dan menepuk punggung anaknya, tampak berusaha menenangkannya. Aku dekati si mungil cantikku yang tampak payah dengan tangisannya. Aku angkat menggendongnya dan mengayunnya pelan. Kucium keningnya yang lembut. Sejenak dia kembali tenang. Lengkingan tangisnya mereda, hingga tersisa sesenggukan yang mengiris hati.

Tanpa kusadari, Bagus telah berdiri di hadapanku. “Tyas, tolong aku. Aku tak mampu.” Suara galau itu menghentak dadaku. Aku ambil botol si mungil dari tangan Bagus dan membawanya ke kamarku. Tak kuhiraukan tatapan mata Bagus, ayahnya.

Kubaringkan perlahan tubuh mungil yang terlihat mulai memejamkan mata kembali. Aku baringkan pula tubuhku yang tiba-tiba terasa lelah, sambil menepuk halus pantatnya. Kudesiskan sebuah lagu yang pernah akrab ditelingaku, “… tidurlah tidur, bidadari kecilku. Setelah kau lelah bermain. Mimpilah dirimu dalam istana, menari lincah penuh suka ….

Senyum si mungil cantikku terlukis menghantarkan tidur lelapnya. Kubelai rambutnya yang hitam bergelombang, hingga tanganku terkulai lemas, menyusulnya dalam lelap.