Di saat keheningan malam, lebih tepatnya tanggal 30 September 1965 telah terjadi tragedi mengerikan yang menimpa 6 jenderal dan 1 perwira. Tragedi tersebut seringkali disebut G 30 S/PKI. Karena pada saat itu disinyalir dalang dibalik tragedi itu merupakan ulah PKI yang ingin mengubah ideologi Indonesia dari Pancasila menjadi komunisme.

Namun apakah benar dalang dibalik tragedi tersebut memang PKI? Sudah banyak literatur yang menyebutkan bahwa dalang dari tragedi tersebut masih absurd, terdapat 6 versi yang disebutkan mungkin melakukan tindakan keji seperti itu.

Berbagai diskusi dan gerakan telah seringkali terjadi untuk mengemukakan fakta yang sebenarnya. Versi-versi dalang dibalik tragedi itu merupakan sebuah persepsi, dan cikal bakal sebuah persepsi dalam suatu misteri akan melahirkan suatu konklusi. Maka dari itu, tulisan kali ini tidak akan membahas pemaparan yang masih diperdebatkan.

Namun ada yang luput dari itu semua, yakni pemikiran kiri yang termarginalkan oleh peristiwa tersebut, dan yang lebih mengharukan ialah pemikiran kiri dianggap berbahaya dan harus dimusnahkan. Karena seseorang yang gandrung akan pemikiran kiri seringkali dianggap sebagai benih PKI.

Memang sudah bukan rahasia lagi jika negara ini sangat trauma dengan tragedi tersebut, sehingga sesuatu yang kemungkinan berbau kiri dianggap sama. Sama halnya dengan pembantaian para kader PKI yang mayoritas sebagai petani. Padahal pada saat itu, para petani yang bergabung dengan PKI merupakan orang-orang awam dengan mengacu terhadap pendidikan yang belum merata.

Pergolakan arus politik ibarat hukum rimba, siapa yang kuat akan bertahan dan siapa yang lemah akan termarginalkan. Kali ini pemikiran kiri yang dianggap hantu. Berbahaya dan menakutkan. Begitulah fakta yang terjadi, miris dan nyata.

56 tahun tragedi G 30 S/PKI telah berlalu. Setiap tahun selalu diperingati dengan melakukan nobar film-film yang terkait tragedi tersebut seperti film Jagal, Senyap, dan lain-lain. Peringatan tersebut memang sangat monoton dan membosankan. Apalagi terkait sebuah tragedi yang menyisakan luka dan derita.

Salah satunya dan bahkan yang seringkali tidak terjangkau dalam setiap peringatan itu ialah nasib pemikiran kiri. Doktrin melalui buku-buku sejarah yang menjadi bahan pembelajaran dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi bahwa dalang dibalik tragedi itu ialah PKI, sehingga membuat para generasi penerus memiliki mindset yang dangkal dan tidak kritis sehingga enggan menjamah pemikiran kiri.

Pemikiran kiri dianggap tidak relevan dengan zaman dan usang karena doktrinasi terhadap pemikiran kiri yang selalu dianggap sebagai cikal bakal PKI. Arus globalisasi yang terkontruks oleh kapitalisme membuat generasi penerus enggan mempelajari pemikiran kiri, sehingga membuat generasi penerus nyaman dalam zona nyaman dan enggan untuk berani melawan.

Salah satu contoh konkret dalam membendung berkembangnya pemikiran kiri ialah dengan dilarangnya dan diberantasnya literatur yang mengkaji pemikiran kiri. Dan hal ini seringkali terjadi. Bahkan pemikiran kiri dianggap sebuah pemikiran anti-ketuhanan. Hal ini semua merupakan dampak dari tragedi G 30 S/PKI.  

Padahal, pemikiran kiri ialah sebuah pemikiran berani untuk melawan sesuatu yang sewenang-wenang dan membela kaum yang tertindas. Dengan pemikiran kiri, idealisme generasi muda akan terbentuk dan hal itu akan membuat suatu revolusi. Memang sejarah telah membuktikan hal itu dengan berbagai peristiwa revolusi yang menggetarkan jiwa dan raga yang terjadi di berbagai negara. Semua itu tidak lepas dari pengaruh pemikiran kiri yang terawat.

Pemikiran kiri mengandung unsur melawan kekuasaan berlebih. Pemikiran kiri memang menjunjung tinggi nilai-nilai pencarian terhadap sesuatu kebenaran dalam koridor perlawanan dalam berbagai hal dan menyuarakan untuk memberangus kesenjangan.

Bisa kita lihat bahwa ketakutan akan pemikiran kiri membuat arus korupsi tak terbendung, degradasi intelektualitas generasi penerus, dan nasib buruh, petani, serta pekerja rendahan tidak terurus. Padahal saat ini, telah banyak terjadi penggusuran yang mengatasnamakan pembangunan.

Maka dari itu, untuk saat ini dibutuhkan angin segar untuk pemikiran kiri yang terlahir dari pemikir muda. Bagaimanapun, hal itu bertujuan untuk merawat alam dialektika dalam menghasilkan suatu gagasan bagi golongan proletar.

Sekali lagi, barangkali untuk saat ini, pengembangan pemikiran kiri masih dianggap hal tabu untuk dikaji. Pemberangusan buku-buku kiri, dan pembubaran diskusi tentang pemikiran kiri masih terjadi. Mindset yang telah tertanam sedari dini memang susah untuk dicabut kembali.

Oleh karena itu, untuk merawat pemikiran kiri memang dibutuhkan keberanian dan kenekatan. Seseorang yang berpikir secara kiri akan mengalami penderitaan hidup dengan kesederhanaan. Berani menantang arus zaman dan menginginkan perubahan ke arah yang lebih benar.

Dampak dari tragedi G 30 S/PKI membuat pemikiran kiri menjadi sebuah kontradiksi. Oleh karena itu, betapa penting hadirnya pemikiran kiri untuk menjadi sebuah alternatif dalam menghadapi polemik yang terjadi. Bukan untuk mengulang sejarah, melainkan untuk menjadi wadah pemikiran yang dibutuhkan dalam membentuk sejarah yang gemilang.

Pemikiran kiri memang masih bernafas, akan tetapi bernafas dalam udara yang di penuhi asap pabrik dan pembakaran hutan. Pemikiran kiri memang masih bergerak, namun bergerak dengan mengendap dan merangkak. Pemikiran kiri memang tetap bersuara, namun dengan berbisik-bisik enggan untuk lantang.

Maka dengan demikian, beranilah berteman dengan pemikiran kiri. Dan yakinlah bahwa dengan pemikiran kiri yang memadai, akan membawamu sebagai bekal untuk melangkah dalam arus revolusioner.