Terorisme adalah sebuah kejahatan luar biasa yang menistakan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Pasca Orde Baru, teror demi teror kerap datang menghantui negeri kita, mulai bom Bali hingga bom Kampung Melayu. Umumnya pelaku aksi teror tersebut sering mengatasnamakan Islam.

Banyak umat Islam menolak bila Islam dikaitkan dengan terorisme. Tetapi para pelaku teror biasanya mengklaim bahwa aksi-aksi mereka memiliki basis legitimasi di dalam ayat-ayat kitab suci. Mereka meyakini bahwa mati di medan perang karena melawan kafir adalah sebuah kebanggaan dan ganjarannya adalah memperoleh nikmat surga dengan segala isinya.

Bibit-bibit terorisme sebenarnya ada di sekitar kita tanpa kita sadari. Ia hidup dan berkembang salah satunya dalam institusi pendidikan khususnya di kampus melalui organisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Harus diakui, beberapa LDK yang ada di berbagai kampus memiliki orientasi keagamaan yang cenderung radikal.

Aktivis LDK umumnya menguasai masjid-masjid kampus. Di tempat inilah, mereka menjalankan berbagai aksinya untuk menarik simpati orang untuk bergabung. Mereka mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah murni dakwah.

Singkatnya, ketika posisi LDK telah kuat dan mengakar di kampus, mereka tak segan lagi menyebarkan narasi kebencian dan permusuhan kepada siapa saja yang berseberangan dengan kelompoknya termasuk sesama muslim itu sendiri dan ironisnya mereka menjadikan masjid sebagai salah satu arena untuk melakukan aksi tidak terpuji tersebut.

Dalam dakwahnya, para aktivis LDK kerap mengkritik segala masalah dan ketimpangan yang terjadi di negeri ini. Mereka juga menciptakan narasi bahwa pemerintah yang berkuasa tidak adil dan tidak berpihak kepada umat Islam. Hal ini tidak lain bertujuan untuk menciptakan ketidakpercayaan kepada pemerintah.

Salah satu pertanyaan kunci yang sering dipakai untuk mencuci otak adalah "pilih mana, Nabi Muhammad atau Jokowi? Al-Quran atau Pancasila?"

Mahasiswa yang tidak kritis dan awam soal Islam akan mudah tergiring dengan pertanyaan di atas. Pertanyaan ini akan kemudian menjadi pintu masuk munculnya indoktrinasi lebih lanjut.

Bila kita membedah pertanyaan di atas secara kritis, maka pertanyaan di atas mengandung kerancuan. Pertama, ia membandingkan antara Nabi Muhammad dan Jokowi yang pada prinsipnya tidak setara. Nabi Muhammad adalah seorang Nabi yang dipilih  langsung oleh Allah, sedangkan Jokowi  hanyalah Presiden yang dipilih oleh manusia biasa. Kedua, Al Quran adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah, sedangkan Pancasila hanyalah rumusan manusia.

Pertanyaan di atas sebenarnya tanpa sadar telah merendahkan Nabi Muhammad dan Al-Quran karena ia dibandingkan dengan Jokowi dan Pancasila yang nota bene tidak setara alias tidak apple to apple.

Tentu mahasiswa yang tidak kritis dan awam soal Islam pasti akan menjawab pertanyaan di atas: "saya pilih Nabi Muhammad dan Al-Quran." Setelah muncul jawaban itu, maka pertanyaan yang akan muncul kemudian adalah "mengapa kita sebagai umat Islam tidak menegakkan ajaran Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan sebagaimana yang telah diperintahkan dalam Al Quran dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW?"

Harus diakui bahwa mereka yang memiliki orientasi keagamaan yang radikal tidak sepenuhnya menjadi teroris. Namun, setidaknya sejumlah fakta telah menunjukkan bahwa mereka yang berpikiran radikal lebih mudah digerakkan dan direkrut untuk menjadi teroris karena pemikiran orang radikal hanya berada satu tangga di bawah pemikiran para teroris.

Para teroris dan mereka yang berpikir radikal memiliki banyak persamaan, yakni sama-sama berpikir hitam-putih atau tekstual dalam beragama, membenci perbedaan, menarik garis batas yang tegas antara kelompoknya dan liyan, memiliki tafsiran yang parsial soal istilah kafir dan jihad, dsb.

Mereka yang berpikiran radikal biasanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi teroris. Proses peralihan itu akan berlangsung cepat apabila didukung dengan adanya perasaan kecewa terhadap pemerintah karena merasa diperlakukan tidak adil, adanya situasi yang penuh konflik dan ketidakpastian, dan juga juga seringnya mereka terpapar konten kebencian yang membanjiri internet dan media sosial.

Kita sudah seharusnya mendukung segala upaya pencegahan dan pemberantasan terorisme di negeri ini. Sayangnya, masyarakat kita terkadang lebih suka asal bunyi alias asbun ketika menyikapi aksi terorisme. Ketika terjadi aksi pengeboman di Kampung Melayu beberapa waktu lalu, sebagian masyarakat kita langsung nyinyir dan menyimpulkan bahwa itu hanyalah rekayasa Densus 88 dan juga pengalihan isu.

Sisi kemanusiaan kita sekejap hilang. Kita tak punya lagi kepekaan dan rasa empati terhadap para korban yang terluka dan terbunuh.

Para mantan jihadis (teroris) seperti Ali Imron dikabarkan pernah tersinggung mendengar pandangan publik yang menganggap bahwa aksi pengeboman yang dilakukan para jihadis hanyalah rekayasa Densus 88. Baginya, bagaimana mungkin sesuatu yang diyakini benar oleh para jihadis dan dilakukan secara sungguh-sungguh dan terencana dianggap sebagai sebuah rekayasa.

Perlu diketahui bahwa para pelaku aksi terorisme adalah orang-orang yang terlatih dalam merakit bom. Nasir Abbas, mantan jihadis dan guru para pelaku bom Bali -dalam sebuah kesaksiannya yang saya dengar langsung di sebuah seminar yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Manado- pernah mengatakan bahwa sebelum turun ke lapangan, para jihadis umumnya telah dibekali dengan ilmu teknik merakit bom lengkap dengan teori dan rumus-rumusnya, tepatnya ketika mereka masih dalam proses pembibitan. Seorang jihadis sangat mengetahui cara untuk meledakkan sebuah bangunan sebesar apapun itu. Jadi, menganggap aksi terorisme sebagai rekayasa sama saja dengan merendahkan kemampuan yang dimiliki oleh para jihadis.

Di sisi lain, mengatakan aksi terorisme sebagai rekayasa belaka secara tak langsung telah memberikan ruang kepada para teroris untuk makin melancarkan aksinya karena merasa mendapat dukungan publik. Apa yang menjadi tujuan para teroris adalah menciptakan ketakutan dan keresahan di tengah masyarakat sekaligus menciptakan ketidakpercayaan kepada pemerintah melalui jalan kekerasan. Ketika ketidakpercayaan itu muncul, maka mereka akan semakin menjadi-jadi dan tidak terkendali.

Sudah saatnya kita saling bergandengan tangan melawan terorisme. Kita tak boleh takut melawan mereka karena ketika kita takut, maka kita sendiri telah kalah. Oleh karena itu, perlu ada sinergi yang baik antara institusi keluarga, pendidikan, agama, dan masyarakat secara umum untuk mencegah makin menguatnya aksi terorisme. Yang terpenting adalah pemerintah harus segera mewujudkan keadilan sosial  dan kesejahteraan bagi seluruh warganya agar tak ada lagi yang mudah termakan rayuan maut para teroris.