Saya lega luar biasa. Plong. Dan rupanya kegembiraan saya itu pun menular. Rasanya belum pernah saya melihat seorang dokter segembira itu. Ya, beliau adalah dr. Heny Martini, Sp.Jp (K), seorang Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Persada Hospital Kota Malang.

Ada dua hal yang membuat beliau gembira pada Sabtu pagi itu. Pertama adalah hasil tes jantung dengan treadmill salah satu pasiennya, yaitu saya, bagus sesuai harapan. Hasil tes tersebut menyatakan saya dalam kondisi bugar dan tidak ada penyumbatan pada pembuluh-pembuluh darah yang ada di dalam tubuh saya.

Yang kedua, beliau gembira karena saya sebagai pasiennya, datang dengan kesadaran sendiri. Tidak ada rekomendasi dokter atau gejala lain yang mengharuskan saya datang ke doter spesialis jantung dan melakukan tes. Beliau bilang banyak pasien yang sudah diminta tes jantungpun sering tidak datang dengan alasan takut akan hasil tes jantungnya sendiri.

Di akhir sesi tes jantung, dokter berpesan untuk saya supaya terus menjaga pola hidup sehat yang telah saya jalani selama ini. “Teruskan untuk selalu kurangi makan gorengan ya..” begitu salah satu pesan singkatnya kepada saya seolah sudah begitu hafal dengan kebiasaan pasien-pasiennya yang terdahulu.

Memang benar sekali, saat makan gorengan, apalagi yang masih hangat sangatlah nikmat. Minyak goreng selalu memberikan sensasi sensori yang luar biasa legit, gurih dan nikmat. Ditambah lagi dengan aroma tambahan yang menggoda pada hampir setiap makanan yang digoreng. Apalagi aroma ini tercium saat kita sedang lapar. Makin ngiler kita dibuatnya.

Seminggu sebelum kejadian ini, seorang teman kantor didiagnosa memiliki penyumbatan di pembuluh darahnya oleh dokter yang sama setelah tes jantung dengan treadmill. Karena tingkat penyumbatannya sudah lebih dari 80%, dokter menyatakan tidak ada pilihan lain kecuali dilakukan tindakan operasi pemasangan ring. Biayanya juga jelas tidak sedikit, bisa sampai ratusan juta.

Makan enak memang umumnya akan menjadi prioritas utama pada saat orang dihadapkan pada pilihan menu-menu makanan. Sayangnya bukan karena kandungan gizinya. 

Ada sebuah buku yang menarik tentang hal ini, judulnya “Jangan Takut Makan Enak”Yang menarik dari buku ini adalah tagline-nya yaitu “tidak ada makanan yang salah, yang ada adalah pola makan yang salah”. Intinya adalah makan enak tetap boleh dan sah-sah saja, yang tidak boleh adalah pola makan enak yang berlebihan.

Es krim adalah salah satu contoh makanan yang enak. Sayangnya makin enak dan makin lembut sebuah es krim lebih disebabkan karena kandungan lemak susu yang tinggi. Biasanya harganya juga makin tinggi. Dua scoop es krim Baskin Robbins kira-kira 142 gram, mengandung 20 gram lemak, setara dengan hampir 30% total lemak maksimum yang dianjurkan.

Makanan legit lainnya adalah martabak manis. Dau potong atau kira-kira 180 gram mengandung total lemak 22.6 gram yang setara dengan 34% dari maksimum anjuran asupan lemak per orang per hari. Faktanya kita bisa menghabiskan lebih dari 2 potong martabak manis. Dan diperparah dengan tambahan menu lain di hari yang sama yang juga mengandung banyak lemak.

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia No. 30 Tahun 2013  mengatur asupan lemak per orang per hari yaitu sebanyak maksimum 702 kkal. Jumlah ini adalah 20 – 25% jumlah total kalori yang dibutuhkan tubuh per hari. Setara dengan 5 sendok makan minyak atau 67 gram per orang per hari.

Lihatlah bahwa angka 67 gram tersebut adalah jumlah yang sangat sedikit. Apalagi jika dilihat dari kebiasaan makan orang Indonesia yang menyukai makanan yang digoreng. Lemak (fat) adalah sebutan lain untuk minyak (oil), umumnya berasal dari hewan dan berwujud padat dalam kondisi suhu kamar yaitu sekitar suhu 22 - 25oC.

Sebagai pembanding agar memudahkan pengertian seberapa sedkitnya jumlah tersebut kita berikan contoh konkrit berikut ini. Pada saat kita mengonsumsi 1 paha ayam, plus 1 dada ayam dan 1 sayap ayam yang semua digoreng tepung, maka lemak totalnya 80 gram. Angka ini setara dengan 120%, lebih dari angka maksimum yang dianjurkan. 

Suatu kali saya pernah membaca berita tentang kebiasaan makan yang menakjubkan dari salah seorang mantan juru bicara (jubir) presiden RI yang tampilannya memang santai dan nyetrik. Disebutkan sang mantan jubir ini bisa menghabiskan 60 tusuk sate dalam sekali makan. Dahsyat bukan? 

Bisa dibayangkan 60 tusuk sate kambing  akan setara dengan lebih dari 140 gram lemak. Angka ini adalah 200% dari angka maksimum anjuran asupan lemaknya Permenkes!

Yang harus diingat oleh para konsumen makanan adalah, bahwa kelebihan konsumsi segala jenis gula akan disimpan dalam tubuh kita dalam bentuk lemak. Semakin memperparah tumpukan lemak dalam tubuh kita dan menjadi potensi penyumbatan dan berujung kepada serangan jantung atau pun stroke.

Fakta ini diperkuat oleh hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, yang menunjukkan kepada kita 40,7 % atau hampir setengah penduduk Indonesia mengonsumsi lemak berlebih. Disadari atau tidak ini adalah kondisi yang menyedihkan. Pola konsumsi makan yang salah. Bukan makanan yang salah.         

Ada jargon lain dalam dunia diet makanan yang sehat yaitu “You don’t have to eat less, you just have to eat right ”. Ini menunjukkan kepada kita, bahwa sesungguhnya fitrah manusia adalah bisa memakan apa saja. Tidak perlu ada pantang terhadap sesuatu makanan atau bahkan sekedar menguranginya. 

Kebiasaan makan kita yang berlebihanlah yang pada akhirnya harus dikurangi atau dibatasi. Legit nikmat makanan berlemak akhirnya menjadi masalah kesehatan berupa sakit jantung misalnya.

Pahit hidup jika kita sudah terserang jenis sakit ini. Harus dilakukan tindakan operasi pasang ring pada saluran pembuluh darah yang tersumbat jika terdeteksi. Selain itu bahkan ada yang harus makan obat pengencer darah seumur hidup. Setelahnya hidup tidak pernah normal lagi dan tidak pernah lebih mudah.