Laman kepenulisan online belakangan ini punya daya tarik tersendiri. Kehadirannya seperti oase bagi penulis pemula atau calon penulis yang ingin sedikit berbagi kisah sederhana dalam narasi tulis.

Selain penyesuaian perkembangan teknologi, laman online memang jadi alternatif, saat media cetak sesuka hati ‘mengebiri’ tulisan kita demi menyesuaikan trend pasar atau logika media mainstream.

Tentu tak ada penulis yang senang cara itu. Tulisan yang ia hasilkan dari pergulatan hebat memilih diksi dan narasi diubah dengan alasan menyesuaikan kebutuhan pasar atau sekadar membuat spasi untuk menyisip iklan.

Di media online, penulis bisa bebas mengekspresikan ide dengan kalimat-kalimat pilihannya tanpa ada filter jauh seperti media cetak. Iklan dan tulisan hidup rukun, punya tempat masing-masing.

Soal profil, saat media cetak butuh background si penulis, media online lebih fleksibel, tak menjual branded. Juga, kita bebas menyampaikan ide dalam perspektif di luar disiplin ilmu atau keahlian kita.

Hal lain, bagi seorang penulis pemula, misalnya, tak perlu khawatir (setidaknya beberapa laman kepenulisan) dengan mode penolakan seperti yang biasa dihadapi di media cetak.

Meskipun perihal itu tidak penting untuk dipersoalkan lebih lanjut, logika pasar memang punya nalarnya sendiri. Juga, bisa menjadi challenge tersendiri bagi seorang penulis. Pasalnya, beberapa tulisan yang memiliki kekuatan substansi yang apik bisa menggeser spasi iklan atau bahkan mampu mengudeta tempat untuk tulisan lain.

Tetapi tentu semua laman kepenulisan, baik online maupun cetak, harus tetap melakukan verifikasi pada setiap tulisan yang akan dimuat, terkait konten ide, substansi, bahkan narasi dan pemilihan diksi; plagiarism check.

Plagiarism check, manual maupun otomatis, penting diterapkan dalam pengelolaan media tulis-menulis. Ia berlaku sebagai the guardian of literation.

Menjaga dunia literasi tetap berada di jalurnya. Jalur mulia sebagai penyedia roh material nalar. Titah mulianya akan terus mengalami gempuran zaman. Itu sebabnya ia butuh partner, teman berjuang menjaga nyawa. Melawan musuh bebuyutan. Plagiat.

Sepatutnya, segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis (literasi) harus bersih dan jauh dari perilaku yang menjadi musuh besarnya ini.

Qureta dan Plagiarism Check

Perkenalan pertama saya dengan laman qureta.com kekira 3 tahun lalu. Meski melihat arsip tulisan yang dimuat pertama kali, baru berselang 2 tahunan.

Saya terkategori penulis yang tidak produktif. Baru 9 artikel yang dimuat di laman ini. Meski dalam kurun waktu yang sama, beberapa tulisan dimuat pada media daring kepenulisan lain. Toh juga saya mengelola laman penulisan (publik) sendiri: oboku(dot)id.

Saya cenderung berhati-hati memilih tulisan untuk dikirim ke qureta.com. Ini bentuk penghargaan pada laman yang selalu memberikan feedback kritik tulisan. Juga, untuk menjaga ketulenan laman ini.

(Awalnya) saya percaya, Qureta sangat ketat dan selektif memilih karya untuk diterbitkan. Beberapa kali tulisan saya dimoderasi, dengan feedback terkait typo dan penempatan tanda baca. Salah satu hal yang makin menguatkan dugaan betapa laman ini memperhatikan secara detail setiap naskah yang akan diterbitkan.

Selain penulis unproduktif, saya juga bukan pembaca ulung, atau pemakan buku orang biasa memberi istilah. Tapi kebiasaan membaca—apa saja, kadang memaksa saya berselancar lebih lama di Google. Apalagi, ketika bepergian dan lupa membawa buku. 

Beberapa laman penulisan online akhirnya jadi langganan penghabisan kuota. Saya menemukan beberapa penulis opini hebat yang tidak pernah termuat di media cetak. Tulisan orang-orang hebat ini menjadi ‘menu’ utama mengisi waktu senggang atau saat santai di suatu tempat tanpa buku.

Di sinilah petaka itu dimulai. Eh

Saat kembali membaca beberapa tulisan di qureta.com, saya menemukan tulisan yang sekilas-lalu mirip dengan opini yang pernah terbaca. Rasa penasaran ini mengarahkan saya melakukan plagiarism check, dan...

Benar saja. Beberapa tulisan yang dipublikasikan di qureta.com terindikasi hasil Replace, Remix, MushUp, Hybrid. Meski sampai sejauh ini, belum ada tulisan yang terkategori Clone.

*

Jauh tahun sebelum para filsuf hermeneutika menguliti dunia teks, perilaku plagiat memang sudah menjadi penyakit yang dibenci para penggiat literasi. Di abad ke-1, Marcus Valerius Martialis memberi istilah Plagiarius dalam bahasa latin. Yang secara verbatim bermakna ‘pencuri’.

Saking berbahayanya perilaku ini, komunitas dan para penggiat literasi dunia beberapa kali memperlihatkan pada kita sanksi yang tidak tanggung diberikan pada para plagiator.

Tidak hanya konsep plagiat Replace, yang mengambil tulisan lama milik orang lain, atau Remix yang melakukan penggabungan kalimat dari beberapa artikel, bahkan sitasi diri (mengutip teori sendiri) yang berlebihan pun terkategori plagiat dalam dunia literasi.

Contoh terbaru soal sitasi diri ini datang dari pakar psikologi cinta, Robert Sternberg. Ia terpaksa mengundurkan diri sebagai editor jurnal terkenal; Psychological Science of Preservatives setelah mendapat desakan dalam bentuk ‘surat keprihatinan’ dari 100 psikolog.

Begitu kuat kepedulian komunitas literasi dalam menjaga marwah aktivitas mulia ini. Meski terkadang, beberapa kategori plagiat masih debatable maknanya.

MushUp, misalnya, tidak memberikan batasan sempurna. Ia hanya bermakna; materi yang berasal dari beberapa sumber. Atau Hybrid, yang berarti penggabungan sempurna sumber yang dikutip tanpa menyertakan sumber tersebut.

Berbeda dengan Clone, ini yang terparah. Menduplikasi karya orang lain, lalu mengakuinya sebagai milik sendiri. Kekira seperti copypaste. 

Tetapi, apa pun bentuknya, plagiat tetap plagiat. Ia seperti penyakit kronis yang, bila dibiarkan, akan terus menggerogoti jantung dunia literasi. Membunuh dunia literasi.

Para quretaisme yang budiman bisa menemukan contoh lain di Google. Atau mungkin, bisa sesekali menengok di sekitar. Siapa tahu Plagiarius juga hidup di lingkungan belajar kita.

*

Saya sering membanggakan qureta.com pada para penggiat literasi yang ditemui di beberapa kesempatan. Saat berada dalam forum atau bahkan bincang santai di warung kopi, ‘qureta’ menjadi kata yang paling sering saya mention.

Fakta bahwa saya menemukan beberapa tulisan yang terindikasi plagiat memaksa saya melayangkan surel ke redaksi qureta.com. Berisi pengaduan tulisan yang terindikasi plagiat. Sayangnya, sampai tulisan ini dikirim ke editor, tak ada respons dari redaktur qureta.com.

Mungkin redaktur sedang sibuk. Bayangkan, berapa jumlah tulisan yang masuk di laman Qureta setiap harinya. Tak ada balasan email, sama sekali tidak mengindikasikan bahwa qureta membiarkan plagiarism bertumbuh di laman ini. Saya percaya itu.

Terakhir, juga sebaiknya moderator qureta, melakukan plagiarism check pada tulisan ini. Takutnya, tanpa sadar saya mengutip tulisan, kalimat, diksi, atau narasi penulis lain. Monggo...

Oh iya, istilah Plagiarius, juga sedikit profil dan kasus Sternberg itu, saya kutip dari wikipedia. Sedang definisi beberapa kategori plagiat di atas, sudah menjadi public domain.